
Dua hari setelah kejadian itu, Septin di panggil kepala sekolah nya untuk segera menghadap ke ruang kepala sekolah, Septin yang sudah tau akan semua ini hanya bisa menghela nafas panjang, karena banyak kemungkinan akan segera terjadi kepada nya, dan itu semua gara-gara Rina yang mungkin saja mengadu kepada orang tuanya yang tidak tidak tentng Septin, tapi ya sudah lah, nasihat sudah menjadi bubur dan itu semua terlewat juga kan? pikir Septin.
Dengan langkah tenang nya? Septin terus mengulas senyum nya ketika melewati semua siswa siswi yang kebetulan berdiri di lorong kelas.
''Ech kalian tau nggak, kalau Septin di panggil Pak kepala sekolah sekarang?'' ujar nya memulai obrolan nya.
''Apa mungkin dia akan di keluarkan dari sekolah ini, kalau iya kita kita harus bagaimana?'' jawab yang lain.
''Iya benar? itu semua kan gara-gara Rina juga, kalau saja Rina tidak berbuat kasar sama Septin, dia tidak akan bernasib seperti kemarin,'' sahut yang lain juga.
''Iya yang kamu katakan itu semua blnya benar, Septin tidak bersalah dan kita harus membela yang nggak salah dong, lagian kita kita sudah capek dengan kelakuan Rina dan juga teman teman nya, yang selalu menjadi ekor nya!'' teman Septin yang satu kelas juga menimpali obrolan yang terdiri dari adik kelas sampai kakak kelas nya itu.
''Kamu tau nggak? kalau Rina kemarin cepat meminta maaf pada pohon itu dan menarik semua kata kata nya yang biasa lintarkan untuk pohon itu? dia nggak akan sampai malam tetikat di pohon besar itu.''
''Dia hanya kegedean gengsi saja, dan juga selalu mengandalkan orang tuanya yang cukup tetpandang di sekolah ini, jadi ya wajar wajar ajalah dia bersikap seperti itu,'' Semua siswa maupun siswi saat ini mendukung Septin, karena mereka melihat sendiri kelakuan Rina kemarin kepada nya. Septin hanya membela dirinya dan dengan sangat terpaksa juga dia mengikat di pohon besar yang berada di belakang swkolah nya, hanya untuk menakutkan nakuti nya saja. Tapi apa boleh di kata malah Rina lah yang membuat ulah dengan Om Wowo yang bilang akan memotong dan membakar pohon besar itu secara terang terangan tepat di bawah pohon tersebut.
Jadi mau tak mau, Rina harus mendapatkan balasan yang setimpal dengan cara meminta maaf kepada pohon itu dengan di saksikan oleh semua Guru Guru yang memang sengaja tidak pulang saat itu, karena masih menunggu kedatangan orang tua Rina yang selalu di agung agungkan oleh Rina anak nya.
''Ya sudah kita jangan berkerumun seperti ini sekarang, kita harus mencari ide kalau Septin sampai di keluarkan dari sekolah karena Nini lamoir itu? kita jangan sampai tinggal diam melihat aksi yang tidak adil di depan mata kita,'' usul nya yang langsung di angguki oleh semua nya yang memang tidak terlalu suka dengan Rina yang selalu bersikap semena mena kepada semua siswa yang ada di sekolah ini.
Sedangkan di dalam ruangan kepala sekolah Septin di kejutkan dengan kedatangan orang tuanya yang lengkap, yakni Bunda dan juga sang Ayah yang kini tengah menatap ke arah puteri kebangga'an nya itu.
__ADS_1
Septin mencoba untuk tetap tenang dan pura pura tidak tau dengan maksud dia bisa di panggil ke ruangan kepala sekolah nya.
Septin mencium punggung tangan Bunda dan juga Ayah nya sebelum dia benar-benar duduk di samping kedua orang tuanya.
Di arah lain Rina tengan tersenyum penuh dengan kemenangan, mungkin dia berpikir kalau Septin lah yang akan di usir dari sekolah ini, tapi nyatanya malah Rina yang mendapatkan sebuah sanksi berupa skorsing selama 1 minggu, dan itu semua di saksikan oleh semua Guru yang tengah berkumpul.
Orang tua Rina tidak bisa berkata apa apa lagi, karena semua nya memang salah puteri nya yang selalu beraikap angkuh dengan semua teman teman nya di sini.
''Ini nggak adil Pak! Septin yang sudah mengikat aku di pohon besar itu sampai malam, dan kenapa malah aku yang mendapatkan hukuman ini,'' Ujar Rina dengan histeris, dan diapun menatau wajah orang tuanya yang hanya bisa diam tanpa mau membelanya selama perdebatan itu berlangsung, Septin sendiri hanya menjadi pendengar yang baik dan hanya diam dan menjawab jika di tanya oleh Guru Guru nya yang juga ada di sana.
Rina memang pandai berkelit, dia bisa saja membuat orang lain nya di keluarkan dari sekolah ini hanya dengan jentikan jari, tapi tidak dengan Septin. Dalam segi manapun Rina sudah kalah telak dan tanpa pembelaan sama sekali dari Septin, Septin hanya menceritakan apa yang sudah dia lakukan kepadanya dan nekat berbuat seperti itu kepada Rina, dia hanya membela diri dari amukan Rina kemarin? apa itu semua salah.
Septin melangkah kan kakinya keluar ruangan dan dia melihat banyak sekali teman teman nya yang menunggu di luar ruangan.
''Kalian sedang apa di sini, bukan nya kalian masuk kelas malah berdiri di sini sich,'' tanya Septin mengangkat satu alis nya ke atas.
''Kamu di sini menunggu mu Septin? tapi kamu nggak apa apa kan, apa kau mendapatkan hukuman dari kepala sekolah atau dari Guru yang lainnya,'' tanya kakak kelas nya dengan beberapa macam pertanya'an yang ia lontarkan kepada Septin.
Septin yang bingung hanya menggelengkan kepalanya pelan, sebagai jawaban dari semua pertanya'an yang di lontarkan oleh semua teman teman nya di sana.
''Septin sangat berterima kasih sekali sama kalian semua nya, yang mau repot repot membela Septin? tapi Septin tudak bersalah jadi kenapa harus Septin di hukum sich?!'' jawab Septin panjang lebar, semua nya terlihat menarik nafas lega karena mendengar bahwa Septin tudak di hukum.
__ADS_1
''Jadi siapa yang mendapatkan hukuman nya Septin?'' tanya kakak kelas nya yang lain nya yang sedang di landa penasaran.
Septin hanya mengangkat bahunya lalu pergi dari gerombolan para siswa yang siap bertarung untuk membela kebenaran? bukan membela ketidak adilan yang di lakukan Rina kemarin.
Septin menuju ke kelas nya yang di ikuti oleh yang lain nya tepat di belakang Septin. Septin yang merasa risih karena di ikuti hanya bergumam pelan. ''Sekarang malah aku yang punya pengikut dan juga dayang dayang di belakang ku,'' gumaman pelan kecil masih bisa di dengar salah satu teman kelas nya dan langsung berteriak kepada semua nya.
''Heyyyy!!''
''Kalian semua dengar nggak! kalau Septin barusan mengatakan? kalau saat ini yang mempunyai pengikutnya dan juga sayang sayang adalah dia, hanya karena kita mengikuti nya dari belakang tubuh nya,'' teriak nya yang lumayan keras.
Septin yng mengetahui kalau saat ini sedang tidak baik baik saja dia segera berlari ke dalam kelas nya dan langsung mengunci pintu kelas dari dalam.
Septin mengatur nafas nya yang masih terengah engah karena harus berlari dari kejaran swmua siswa dan juga siswi yang ingin melimpahkan kekesalan nya.
.
.
.
.
__ADS_1