
Nurul mengerutkan kening nya mendengar penuturan dari sahabat baik nya, ''Kok bisa sich? dan Rafael nungguin kamu sampai kamu bangun dari tidur nya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah?'' tanya nya sangat heran.
Septin mengangguk sebagai jawaban nya, karena Guru yang akan mengajar di kelas nya hari ini sudah masuk ke dalam kelas.
''Pagi anak anak,'' sapa nya ketika sudah berada di depan semua murid murid nya.
''Pagi Pak?'' jawab nya serempak dan mereka semua bersiri dari tempat nya untuk memberi salam kepada Guru yang menurut semua murid kelas 11-b sangat baik dan juga ramah.
''Assalamu'alaikum Pak Guru,'' Ucap semua siswa memberi salam kepada Guru nya, yang sudah mengajar selama dua tahun di sekolah ini.
''Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh?'' jawab sang Guru dan menyuruh semua siswa nya untuk duduk kembali.
''Sekarang kumpulkan tugas yang kemarin Bapak berikan kepada kalian semua, kalau ada salah satu dari kalian yang tidak mengumpulkan tugas nya, maka bersiaplah untuk segera ke lapangan untuk hukuman kalian semua,'' paparnya dengan tegas dan juga dengan nada yang dibuat sedatar mungkin, agar nampak garang di mata semua siswa nya.
Semua nya sudah mengumpulkan tugas yang sudah ia kerjakan di rumah nya, namun ada juga yang tidak mengerjakan tugas tugas nya karena lupa atau mungkin juga malas untuk mengerjakan tugas tugas sekolah nya. Beberapa siswa yang ketahuan tidak membuat tugas sudah di giring keluar kelas dan di arahkan untuk mengelilingi lapangan 10 kali putaran, itung itung untuk berolah raga juga di lapangan.
__ADS_1
Septin dan Rafael saling menatap, karena mereka melihat beberapa teman nya terlihat senang ketika melihat salah satu dari teman nya yang mendapatkan hukuman. ''Kalian kok pada senang sich,'. seru Septin yang memang rasa ingin tau nya sangat besar.
''Ya senang lah? karena kita bisa bebas dari pak Guru sekarang, biarlah kita lari yang penting kita tidak ikut pelajaran nya hari ini,'' sahut salah satu teman nya yang juga ikut keluar kelas.
Septin hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan teman teman nya yang sungguh sangat malas ketika pelajaran matematika. Emang sich? pelajaran matematika itu rumit dan juga gampang gampang susah, apalagi ketika perkalian dan juga pengurangan yang menurut mereka sangat sulit dan ada beberapa tan nya yang menyukai pelajaran tersebut.
Seandainya belajar perkalian dan pengurangan seperti menghitung uang kan lebih enak dan juga lebih menyenangkan lagi. Ech maksud nya menghitung uang beneran ya, lebih tepat nya sang Guru menyediakan uang uang di depan nya jadi kan otomatis semua siswa nya akan lebih semangat lagi dalam belajar nya, palagi sampai di kasih cuma cuma uang nya? ya syukur alhamdulillah dong tentunya hehehe.
Kini jam istirahat sudah tiba dan semua murid murid nya pada berhamburan keluar kelas, tanpa menunggu Pak Guru nya keluar terlebih dahulu dari dalam kelas. ''Septin dan Rafael kenapa masih ada di dalam kelas?'' tanya nya lembut sembari menatap ke arah Septin dan juga Rafael yang masih setia duduk di kursi nya.
''Oiya Tin, kamu tau nggak Rina sampai malam pulang dari sekolah ini,'' kata sang Guru menghampiri meja Septin yang ada di belakang.
''Itu kan salah dia sendiri Pak, tidak mau meminta maaf kepada Om Wowo jadi sepet itulah buah dari keras kepalanya dan juga ego tinggi nya, Bapak lihat sendiri kalau Rina pulang malam dari sekolah kemarin,'' Ucap nya dan sekaligus bertanya kepada Guru laki-laki yang ada di depan nya saat ini.
''Iya, karena Bapak sendiri yang memaksa dia untuk mengatakan agar dia mau mengucapkan kata maaf pada pohon besar itu, sungguh sulit sekali membujuk dia Septin, sampai sampai bpak merasa sangat kesal agar Bapak bisa pulang juga ke rumah,'' ungkap nya dengan sedikit rasa kesal ketika mengingat kejadian kemarin.
__ADS_1
''Lagian kenapa juga Bapak harus nungguin dia segala sich, bukan nya langsung pulang saja,'' sela Septin membuat sang Guru akhirnya menceritakan semua nya kepada murid yang satu ini. Murid yang tak bisa di singgung apalagi di remehkan oleh orang lain.
''Sebenarnya Bapak kemarin sudah mau pulang? namun sampai di parkiran Bapak di panggil kepala sekolah agar ada di sana juga kemarin, takut nya orang tua Rina marah marah karena tidak mau melepaskan ikatan nya,'' terang nya.
Septin mengerutkan kening nya mendengar orang tua dari Rina datang ke sekolah nya. ''Orang tua Rina datang ke sekolah kemarin, mereka tau dari siapa kalau puteri nya terikat di pohon belakang sekolah?'' tanya Septin yang terus menyimak cerita Guru nya, namun sesekali dia bertanya ketika di rasa tidak mengerti dengan cerita Pak Guru nya.
''Kepala sekolah terpaksa menghubungi orang tua Rina untuk datang ke sekolah kemarin, karena kami sudah sangat capek membujuk Rina untuk meminta maaf dan menarik kembali ucapan yang ia lontarkan kepada pohon tua tersebut, tapi dia tidak mau di bujuk apalagi menarik semua kata kata nya, tapi ketika ayah dan juga ibu nya datang ke sekolah dan memaksa Rina untuk meminta maaf akhirnya ikatan nya bisa di buka, itupun terbuka dengan sendirinya tanpa harus kita yang membuka ikatan itu,'' lanjut nya.
''Memang orang tua Rina tidak marah ketika melihat puteri nya terikat di pohon besar itu?'' tanya Septin mengangkat satu alis nya ke atas, karena dia merasa aneh? kalau orang tua Rina tidak marah melihat puteri nya yang terikat di pohon besar itu.
''Awal nya dia sangat murka kepada kami semua, tapi setelah mendengar penjelasan dari para Guru Guru yang di sana mereka pun akhirnya menghela nafas panjang, mungkin mereka berpikir ini semua salah puteri nya. Mereka terus membujuk Rina agar segera minta maaf dan menarik semua kata kata nya, yang membuat kami melongo adalah kata yang di ucapkan Rina kepada pohon itu adalah agar orang tua nya merobohkan pohon besar itu, karena dia tidak terima di ikat di sana, dia juga sempat mengadu kepada orang tua nya kalau ini semua salah kamu Septin? dan Bapak tidak bisa berkata lagi, mungkin besok atau lusa mereka akan memanggil orang tua kamu untuk datang ke sekolah ini. Apa kamu sudah siap dengan swmua kemungkinan yang akan terjadi sama kamu?'' pungkas nya panjang lebar, dia tidak tau harus berbuat apa untuk menolong murid nya yang banyak talenta di diri nya itu.
''Sudahlah Pak, Pak Guru nggak usah memikirkan semua itu lagi, Septin berjanji kalau Septin bisa mengatasi nya,'' Ucap nya mencoba menenangkan Guru nya yang nampak sekali khawatir dengan Septin.
Terima kasih buat kakak yang selalu dukung karya receh ku selama ini, jangan lupa like komen ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕
__ADS_1