
Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah sampai ke rumah mbak nya yang kini sudah menjadi hantu, Septin turun dari motor nya dan si ikuti oleh Rafael yang sudah selesai dengan memarkirkan motor nya di depan rumah mbak hantu tersebut.
Di rumah itu terlihat masih banyak orang yang duduk santai dan ada juga yang tengah memakan camilan yang di suguhi oleh keluarga mbak hantu.
''Sekarang lebih baik kamu masuk ke dalam, jangan bikin aku seperti orang gila di sini ya,'' bisik Septin kepada mbak hantu tersebut.
-''Aku nggak bisa masuk Septin, percuma aku masuk ke dalam? tapi hanya bisa melihat mereka saja, tidak bisa memeluk nya, aku bahkan minta tolong sama kamu agar kamu bilang ke mereka untuk memelukku.'' gumam nya lirih.
''Sudah jangan banyak mengatur ku, aku sudah bosan dengan ocehan kamu yang hanya membuat aku malu saja,'' Ucap Septin masih berbisik kepada si hantu.
''Mungkin keluarga mbak nya baru selesai mengadakan tahlilan untuk mendo'akan mbak nya Tin?'' ujar Rafael tiba-tiba.
''Kamu saja yang nanyain sama bapak nya Fa, tanya apa benar ini rumah nya mnak yang jadi hantu githu,'' kata Septin asal. Rafael mendelik mendengar nya karena mana mungkin dia bertanya seperti itu kepada keluarga mbak nya, meski yang di ucapkan Septin itu semua nya benar adanya.
''Septin? kamu yang bener saja nyuruh aku nanya seperti itu, yang ada aku nanti malah di usir bukan di suruh masuk,'' jawab Rafael dengan dahi yang sudah mengkerut.
''Lagian aku juga nggak tau nama dia kok Fa, sudah sok kenal dengan ku, kepo nya juga tingkat dewa, ech di tambah nggak ngenalin dirinya lagi, nyusahin orang saja,'' gerutu Septin, Rafael yang melihat hanya mengulas senyum manis nya, melihat calon istri nya yang cemberut seperti itu, ingin rasanya mencubit pipi chubby Septin.
''Lebih baik kamu tanyain sekarang, malu di lihatin orang, karena kita sudah berhenti di sini sekarang,'' Ucap Rafael menyuruh kekasih nya untuk bertanya kepada si hantu.
''Ech hantu, nama kamu siapa sich!'' tanya nya kesal.
-''Nggak sopan banget sich lho Septin,'' sahut sang hantu yang bernama Lela.
''Kamu tinggal sebutin nama kamu saja, beres?'' sahut nya dengan nada masih kesal.
-''Namaku Lela, panggil saja mbak Lela.'' jawab nya menaik turunkan alis nya.
''Kamu nyuruh aku manggil Mbak, no aku tak sudi,'' sela Septin yang sudah melangkah meninggalkan Rafael dan juga si hantu.
''Septin kamu kenapa ninggalin aku sendirian sich!'' seru Rafael yang mengikuti Septin dengan berlari kecil.
__ADS_1
''Kamu nggak sendiri kok, tuh sama si hantu tanpa muka,'' Ucap nya ketus, Lela yang di katai hanya terkekeh kecil saja menanggapi ucapan dari Septin, karena dia sudah mencari tahu dan selalu mengikuti Septin beberapa hari sebelum dia meminta tolong kepada nya. Septin memang orang nya ceplas-ceplos dan itu membuat Lela terdiam ketika setiap ucapan Septin nyelekit ke hati nya.
Septin menemui salah satu orang yang sedang memakan cemilan di teras rumah nya Lela. ''Maaf Pak mau tanya,'' Ucap Septin dengan sopan.
''Mau nanya apa neng?'' balas nya dengan tak kalah sopan nya.
''Apa benar, ini rumah nya Mbak yang jadi hantu?'' Ucap nya asal namun dia tetap santai dan tidak mengoreksi setiap ucapan nya, karena sudah sering Septin memanggil Lela dengan hantu.
''Maksud tunangan saya? Mbak Lela yang kemarin mengalami kecelaka'an itu,'' Rafael meluruskan setiap ucapan Septin.
Bapak yang tadi sempat di tanyain merasa lega, karena apa yang di dengar pertama bukan hal yang benar, Bapak itu adalah Ayah dari wanita yang kini tengah menjadi hantu.
-''Septin, itu Ayah ku jangan bicara yang bukan bukan sama beliau, aku takut dia merasa sedih?'' ucap Lela yang saat ini menitikkan air mata nya.
''Maaf aku nggak tau dan aku juga asal ceplos kok, lagian kamu hantu apa bukan sich cengeng banget,'' bisik Septin yang melihat Lela tengah menangis.
''Saya Ayah nya, kalau boleh tau kalian dari mana?'' tanya nya tak kalah sopan.
''Ayo masuk, kamu masih pakek seragam sekolah? apa tidak akan di cari sama keluarga kalian,'' tanya Ayah Lela.
''Maaf Pak, kalau kedatangan kami ke sini akan membuat Bapak merasa sedih, tapi kami datang kesini karena amanah dari mbak Lela, dan kami sudah berjanji akan mengatakan semua nya kepada keluarga nya di rumah,'' Ucap Rafael panjang lebar.
''Mohon maaf Pak, kalau boleh tau Ibu kemana?'' tanya Septin yang belum melihat wajah Ibu dari Lela.
''Istri saya ada di kamar sekarang, sebentar ya Bapak panggilin dulu,'' sahut nya dan beranjak berdiri dari duduk nya.
-''Septin, aku ingin memeluk Ibu walau hanya sebentar saja, apa aku bisa memeluk beliau semua nya,'' Ucap Lela tiba-tiba masih dengan tangisan nya.
''Kita lihat saja nanti ya, kamu bisa apa nggak meluk Ibu kamu dengan keada'an kamu yang seperti ini,'' Ucap Septin terang terangan.
Sedangkan ada seseorang yang memang duduk di luar dan mata nya mengarah ke arah Septin, dia menangkap kalau Septin sedang bicara dengan seseorang di samping nya, namun pria itu tidak melihat siapa siapa .
__ADS_1
''Aneh, tapi aku melihat dia sedang berdiskusi dengan seseorang di samping nya tapi siapa dia,'' Gumam laki-laki tersebut dan memanggil teman nya untuk mendekat ke dia. Karena dia masih dengan rasa penasaran nya.
''Ech kamu liat terus wanita yang pakek seragam itu, tadi aku lihat dia malah tengah ngobrol dengan seseorang, tapi akun tidak lihat dengan itu,'' bisik nya kepada teman yang sudah datang menghampiri nya.
''Itu kan kekasih nya tolol!'' balas nya dengan menjitak dahi laki-laki yang memanggil nya.
''Lebih baik kamu lihat saja dulu, mungkin setelah ini dia akan mengobrol kembali dengan orang yang tak terlihat sama kita itu,'' tukas nya membalas jitakan dari teman nya.
-''Septin, aku kangen sekali dengan Ibu,'' papar nya.
''Sudah diam, kamu membuat aku seperti orang gila yang sedang mengobrol sendiri, bahkan mungkin seseorang sudah menganggap aku gila dan itu semua karena kamu, paham!'' kata Septin yang merasa sudah di awasi seseorang yang ada di belakang nya.
''Iya kamu benar, gadis ngobrol sendiri?'' kata laki-laki yang duduk di teras.
-''Maafkan aku Septin, karena sudah membuat kamu marah, tapi aku sungguh meminta tolong sama kamu, karena aku ingin bertemu dengan keluarga ku sebelum aku pergi jauh, apa aku berada di sisimu selamanya ya, jadi kalau aku kangen, aku tinggal mengajak kamu ke rumah untuk menemui orang tuaku?'' Ujar nya, ucapan yang dia dengar membuat Septin menjadi semakin kesal.
''Jangan aneh aneh dech, kamu itu sudah mati!'' pekik Septin yang langsung menjadi sorotan semua orang yang masih setia berada di rumah orang tua Lela.
Septin yang sedang kesal tidak sengaja berbicara dengan lantang, di saat bersamaan Ibu Lela keluar dengan di tuntun oleh Ayah Lela.
''Kamu kenapa?'' tanya Rafael menggenggam tangan Septin.
''Hantu ini semakin nyolot sama aku Fa, bikin aku kesal?'' jawab nya menarik nafas panjang dan menghembuakan secara perlahan.
Di teras semua orang sudah saling pandang, ketika mendengar kata hantu dari Septin.
.
.
.
__ADS_1
.