Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 29 Suara hati Rafael


__ADS_3

Sesampainya di rumah Septin segera membersihkan tubuh nya yang begitu lelah. Bunda da Ayah nya hanya melihat raut wajah puteri nya yang sangat kelelahan selepas pulang dari sekolah nya. Sang ayah hanya menatap sekilas puteri nya yang memasuki rumah nya tadi.


Ayah Septin tak pernah bertanya kepada puteri nya yang mulai tumbuh dewasa, sang Ayah dan juga Bunda nya selalu menunggu Septin untuk bercerita dengan sendiri nya.


''Bunda, Septin lapar?'' Ujar Septin ketika sudah selesai dengan kegiatan nya dan juga sudah berganti baju juga.


''Lauk nya ada di atas kompor, kamu ambil saja di sana, apa kamu masih membutuhkan sesuatu,'' tanya sang Bunda yang menghampiri Septin yang tengah membuka megic com nya untuk mengambil nasi.


''Septin ingin susu coklat Bunda, apa Bunda mau bikinin Septin susu coklat?'' tanya nya mulai menyendokkan nasi nya ke piring yang ia pegang.


Sang Bunda hanya mengangguk seraya mengambil gelas di rak piring yang ada di depan nya. ''Bunda? kalau bisa jangan terlalu panas susu nya,'' sela Septin menatap Bunda nya yang tengah menuangkan susu bubuk yang emang khusus buat Septin, ya Septin selalu meminum susu tersebut karena itu adalah kiriman dari abang nya yang tengah bekerja di luar pulau.


''Bunda, Septin boleh bawa makanan nasi ke samping Ayah, kalau sampai nunggu selesai makan Septin nggak bakalan bisa bercerita Bunda? soal nya sudah 5 watt matanya,'' seru Septin yang di angguki Bunda nya.


Septin mengembangkan senyuman nya dan membawa piring yang sudah berisi nasi dan juga lauk pauk yang ia ambil tadi, sedangkan Bunda nya membawa gelas yang berisi susu coklat untuk nya.


''Kenapa nggak makan di meja makan saja nak?'' tanya sang Ayah yang tengah membaca sebuah buku pemasukan (penghasilan) sawah sawah nya.


''Septin ingin berkata sesuatu sama Bunda dan juga Ayah, kalau nunggu Septin kenyang akan langsung tidur dan tidak jadi untuk bercerita Yah,'' jawab nya sambil mengunyah makanan nya.


''Apa yang mau kamu ceritakan sich nak?'' tanya Ayah nya lagi.


''Yah, kenapa semua orang pada ngeremehin Septin. Lebih tepat nya sebagian orang orang ngeremehin Septin, karena Septin yang bisa melihat sesuatu yang orang lain tak bisa melihat nya,'' Ucap Septin dengan nada lirih.


''Sudahlah jangan terlalu di pikirkan omongan orang orang, biarkan saja mereka ingin menilai kamu seperti apa saat ini, kamu harus banyak bersyukur karena kamu di beri kesempatan dan juga sedikit ilmu itu, dengan begitu kamu bisa menolong seseorang yang tengah membutuhkan kamu, dan jangan lah kamu memasang tarif untuk jasa kamu untuk mengobati semua orang, lebih tepat nya mengatakan apa yang kamu lihat sekarang dan juga nanti nak?'' jawab nya panjang lebar.

__ADS_1


''Iya Yah, Septin tak pernah memasang tarif atau menerima dari orang orang kok, hanya saja? Septin nggak terima saja ketika Septin di kandang sebelah mata oleh sebagian orang Yah, mereka bilang Septin berhalusinasi saja, dan makhluk itu tak beneran ada?'' tambah Septin sambil terus mengunyah makanan nya, walau makanan nya terasa sangat hambar sekali, tapi Septin harus tetap menghabiskan makanan nya, karena Bunda nya sudah susah payah memasak kan untuk diri nya makan.


''Sudahlah, jangan terlalu di pikirin lagi. Kamu makan yang benar dan kerjakan tugas sekolah kamu sekarang, mumpung masih belum terlalu malam?'' sela sang Bunda mengusap bahu puteri nya.


''Iya Bunda, tapi Septin mau menghabiskan makanan dulu?'' sahut nya dan terus mengunyah makanan nya, setelah selesai dengan makan malam nya, Septin menegak habis susu coklat nya dengan sekali tegukan, karena Septin tau? kalau bikinan Bunda nya tak akan panas.


''Biarkan saja di dapur, nanti Bunda yang beresin semua nya, kamu tinggal mengerjakan pekerjaan sekolah kamu, dan kamu harus ingat, jangan tidur terlalu malam karena kamu besok harus pergi ke sekolah nya,'' seru Bunda nya ketika Septin mulai memasuki dapur nya untuk menaruh piring bekas dia makan.


Septin hanya mengangguk dan melangkah kan kakinya ke dalam kamar untuk mengerjakan soal yang di beri Guru nya kemarin, Septin sebenarnya merasa sangat malas untuk mengerjakan nya, namun dia tidak mau mengecewakan orang tua nya.


''Aku harus lebih semangat lagi mengerjakan semua nya, mungkin saja Rafael juga sama saat ini sedang mengerjakan tugas tugas sekolah yang di berikan Guru nya kemarin.


Septin mengambil ponsel nya yang ada di atas nakas, guna untuk menghubungi Rafael hanya sekedar bertanya apakah dia sudah selesai mengerjakan tugas sekolah nya kepada Rafael sahabat sekaligus teman sekolah nya juga.


-''Assalamu'alaikum Tin?'' sapa Rafael dari seberang telfon.


-''Kamu nanya??'' jawab Rafael setengah bercanda kepada sahabat tersebut, candaan Rafael membuat Septin terkekeh karena tingkah konyol sahabat sudah nampak di permuka'an lagi.


-''Kamu sudah menyelesaikan tugas sekolah belom?'' Ujar Septin tho the poin.


-''Belum mengerjakan sich Tin? emang nya kenapa, kamu mau nyontek ya,'' tebak Rafael yang setengah benar.


-''Lho tau aja kalau aku mau nyontek?'' sahut nya cemberut, ya walaupun Rafael tidak tau kalau Septin tengh cemberut karena mereka tidak melakukan video call.


-''Emang lho ada di mana sich Fa, kok rme banget?'' tukas nya yang mendengar beberapa orang tengah mengobrol dan juga tertawa.

__ADS_1


-''Aku tengah berkumpul bersama keluarga yang lain Septin, emang nya kedengaran sampai sana ya suara nya,'' tanya Rafael mengangkat satu alis nya ke atas.


-''Ya lumayan denger sich, tapi hanya sekilas saja kok? emang nya kalian lagi ngebahas apa sich sampai malam seperti ini,'' tanya Septin yang di landa oleh rasa penasaran.


-''Ya bahas yang lain nya lah Tin, kamu mau ikutan tah?'' sahut Rafael tersenyum jail.


-''Nggak ach, aku mau ngerjain tugas sekolah dulu kalau gitu, sampai besok saja oke,'' balas nya dan langsung mematikan ponsel nya, malu juga kan harus ngobrol panjang lebar dengan sahabat laki-laki nya, sedangkan dia tengah berkumpul dengan keluarga nya di sana, bagai obat nyamuk saja yang ada, pikir Septin.


Sedangkan orang tua Rafael tersenyum penuh arti ketika putera tengah di telfon oleh seorang wanita yang tak lain adalah sahabat nya sendiri, ''Siapa Fa?'' tanya sang Paman yang kebetulan ada di sana juga.


''Teman Rafael Paman,'' jawab Rafael dengan santai nya.


''Teman apa calon pacar sich?'' ledek nya yang langsung di tertawakan oleh semua orang yang ada di ruangan keluarga rumah Rafael.


''Lebih tepat nya sahabat sich Paman, memang nya kok kalian begitu kepo kalau Rafael ngobrol dengan seorang wanita,'' sela Rafa dan bertanya kepada sang Paman, dan juga menatap ke semua keluar nya yang ada di sana.


''Ya nggak apa apa kok Fa, kami malah senang kalau kamu sudah punya calon, tapi jangan lupa kenalin dia kepada kami semua,'' pesan nya uang langsung di setujui oleh Bunda Rafael.


''Iya Rafa, yang di bilang Paman kamu itu benar sekali, jadi jangan ngejomblo terus cepat cepat cari cewek dan Ayah juga Bunda akan segera melamar dia untuk mu sayang?'' sambung Bunda nya.


''Apa sih Bunda, Rafael masih sekolah dan masih belum lulus sekolah? masak iya Rafa harus melamar wanita sedangkan Rafael belum bekerja juga kan?'' Ucap nya yang di angguki saudara nya.


''Jangan mau nikah muda Rafa, aku saja sebagai kakak kamu belum nikah apalagi ngelamar seorang gadis kok?'' sambung nya, karena mengingat saudara sepupu nya itu lebih tua dari nya namun dia belum juga menemukan tambatan hati untuk ia berlabuh dalam bahtera rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmatullahi.


Rafael hanya tersenyum mendengar penuturan dari saudara sepupu nya tersebut, namun dia sesekali membayangkan kalau wanita yang akan ia lamar adalah Septin? Rafael tidak akan pernah menolak sama sekali walaupun dia di jodohkan sekalipun Rafael akan terima dengan tangan yang terbuka lebar, mengingat dia juga suka dengan Septin sahabat wanita nya.

__ADS_1


Sedangkan Septin yang tengah mengerjakan tugas sekolah nya bersin bersin yang tak berkesudahan. ''Apa aku akan sakit sehingga bersin bersin seperti ini,'' gumam nya mengusap hidung nya yang sudah mulai memerah karena selalu ia gosok dengan telapak tangan nya.


__ADS_2