
Septin terbangun dari tidur nya gara-gara mimpi itu lagi, dia mulai begitu penasaran sekali dengan wanita tadi yang ada di dalam mimpi nya. Itu juga sudah dua kali bermimpi dengan wanita itu, namun pertemuan kedua nya wanita itu masih saja menangis di tempat yang sama.
''Ada apa sebenarnya dengan wanita itu, kenapa aku selalu bermimpi bertemu dengan dia lagi, apalagi ini bukan malam hari melainkan di siang hari,'' pikir Septin yang sudah beranjak dari tempat tidur nya, dia terus saja berpikir tempat wanita itu berada ketika bertemu dengan nya.
''Kalau di pikir pikir lagi tempat itu kayak nya aku pernah lihat? tapi di mana ya,'' Gumam Septin yang masih mondar-mandir di dalam kamar nya, dia masih enggan keluar kamar nya walaupun Bunda nya sudah memanggilnya untuk makan siang bersama.
''Nak? ayo makan siang dulu, Bunda dan Ayah tunggu di meja makan,'' teriak sang Bunda dari luar pintu kamar nya.
''Iya Bunda, sebentar lagi Septin keluar?'' jawab Septin membalas teriakan Bunda nya.
Septin menyisir rambut panjang nya dan segera ke meja makan, karena Septin tak ingin membuat orang tua nya menunggu lama. Bunda dan juga Ayah nya sudah duduk tenang di meja makan, dengan hidangan yang sudah tersaji di sana, Bunda memang pintar dalam memasak, oleh sebab itu Ayah nya selalu membawa bekal setiap pergi bekerja, ya boleh di bilang irit pangkal kaya, tapi nggak gitu juga kali yang adandi pikiran keluarga Septin saat ini.
Hidup sehat di mulai dengan makanan sehat dan juga olah raga, istirahat yang cukup secukupnya.
Septin menyendok nasi dalan wadah megicom, dengan lauk yang sederhana namun terlihat istimewa karena di buat dengan rasa cinta oleh Bunda nya.
''Kenapa nggak ambil ayam saja, itu kesuka'an kamu lho? tadi Bunda kamu sengaja masakin buat makan siang?'' kata sang Ayah ketika melihat Septin hanya mengambil tahu, tempe dan juga sayur kangkung.
''Ini sudah cukup kok Yah, Septin sedang nggak berselera makan hari ini, mengingat mimpi itu hadir kembali tadi,'' jawab Septin kepada Ayah nya.
''Mimpi seperti apa nak?'' tanya sang Ayah yang belum mulai memakan nasi yang sudah ada di piring nya.
''Makan dulu saja, cerita nya kita lanjut di ruang tamu, Bunda juga ingin mendengarkan juga,'' sela Bunda nya melihat suami dan juga puteri nya yang mau bercerita.
Septin dan juga Ayah nya mengangguk pelan sebagai jawaban dari istri dan juga Bunda nya.
__ADS_1
Mereka bertiga makan dengan sangat nikmat, tak ada obrolan sepatah katapun di saat mereka tengah menyantap makan siang nya bersama dengan keluarga nya. hanya bunyi dentingan sendok dan garpu saj yang terdengar saat ketika ketiga nya makan siang.
Tak butuh waktu lama untuk mereka menyelesaikan makan siangnya, setelah itu Septin membantu Bunda nya untuk membereskan piring piro kotor yang ada di meja makan.
''Kamu ke ruang tamu saja, Ayah kamu mungkin sudah menunggu di sana sekarang,'' kata sang Bunda menyuruh puteri nya agar menemui Ayah nya di ruang tamu.
''Baik Bunda, tapi benaran nggak apa apa Bunda?'' jawab nya dan bertanya.
''Maksudnya,'' tanya Bunda nya dengan bingung, karena puteri nya memang selalu membuat orang yang ada di dekat nya menjadi bingung dan juga penasaran.
''Bunda nggak apa apa kalau Septin nggak bantuin,'' tambah nya yang membuat Bunda nya kesal dengan kelakuan puteri nakal nya.
Septin yang melihat Bunda nya akan marah pun segera berlari menuju ke ruang tamu, di mana Ayah nya sudah duduk santai di sana dengan memasang buku buku pengeluaran sawah sawah nya.
''Ayah sudah nunggu Septin di sini?'' tanya nya dan mendaratkan bokong nya ke sofa di depan Ayah nya.
Septin beranjak dari tempat nya dan melangkah menghampiri Ayah nya dan duduk tepat di samping Ayah nya. Di mana sofa itu di tepuk.
''Apa ada yang ingin kamu bicarakan sama Ayah,'' tanya nya memulai obrolan nya.
''Ayah, hari ini Septin sangat gelisah dan juga sangat penasaran dengan mimpi Septin Yah?'' jawab Septin menundukkan kepalanya, karena Septin takut dengan tatapan dari Ayah nya yang menurut dia sangat menakutkan.
''Ceritakan sama Ayah sekarang, memang apa yang terjadi dengan mimpi kamu nak,'' tanya Ayah nya dengan lembut.
''Septin sudah dua kali bermimpi bertemu dengan wanita itu Yah, dia menangis dan juga tengah duduk di pinggir jalan raya.''
__ADS_1
''Wanita itu, maksud nya wanita yang mana?'' tanya Ayah nya yang sudah mengernyit kan dahinya.
''Septin juga nggak terlalu tau wanita itu Yah, yang aku lihat dia hanya menangis dan meminta bantuan kepada Septin?''
''Bantuan apa?''
''Entahlah, tapi tempat itu seperti tidak asing bagi Septin Yah, seperti nya Septin sudah pernah datang ke tempat itu, tapi Septin lupa tempat itu di mana Yah,'' Ucap nya dengan panjang lebar.
''Kalau dia memang meminta tolong sama kamu, harus nya kamu bertanya sama dia, keberada'an dia sekarang dan minta bantuan seperti apa?'' sela sang Ayah memberi petunjuk.
''Nggak tau lah Yah, Sepi juga bingung harus bertanya seperti itu, soalnya dia hanya bisa menangis di kegelapan malam, suasana di sana sangat gelap Yah, wajah nya saja aku tidak terlalu tau seperti apa jelas nya? tapi yang Septin yakini wanita itu adalah wanita kemarin,karena suaranya masih sama seperti mimpi Septin pertama bertemu dengan dia Yah,'' jawab nya panjang lebar.
''Kamu nggak punya keinginan untuk mencari tau wanita itu? ke tempat yang kamu maksud tadi?'' sambung sang Bunda yang baru bergabung dengan anak dan juga suami nya di ruang tamu.
''Rencana nya sich nanti Bunda, Septin juga belum bicara dengan Rafael?'' tukas nya menatap ke arah sang Bunda yang juga tengah menatap nya saat ini.
''Sebenarnya kalian ini ada hubungan apa sich dengan Rafael,'' tanya sang Bunda tiba-tiba, yang sukses membuat Septin terkejut bukan main.
''Apa sich Bunda? Septin sama Rafael hanya teman sekaligus sahabat, memang nya ada yang salah ya, kalau Septin selalu bersama dengan Rafael?'' tanya nya sambil mengerutkan kening nya heran, karena Bunda nya tak seperti biasanya menanyakan perihal hubungan dia dengan sahabat laki-laki nya.
''Ya nggak ada masalah sich? Bunda hanya bertanya saja sama kamu, memang nya nggak boleh?'' jawab sang Bunda dengan santai nya.
''Sudah lah jangan bahas hubungan akun dan Rafael lagi,'' sela Septin.
.
__ADS_1
.
.