
Adzan subuh berkumandang membuat Rafael dan Septin terbangun dari tidur nya, Septin sendiri sudah sangat terbiasa bangun saat subuh, tapi aneh nya. dia masih sering telat bangun untuk pergi ke sekolah? karena Septin selalu tidur kembali setelah melakukan sholat subuh yang bikin Bunda nya marah dan juga kesal dengan puteri nya yang satu ini.
''Masih gelap kenapa sudah bangun?'' tanya Rafael ketika melihat Septin juga ikut bangun.
''Iya, aku juga tau kalau masih gelap? tapi aku nggak bisa tidur kalau mendengar suara adzan subuh, ya walaupun sedang berhalangan tapi aku akan tetap bangun juga, tapi setelah itu tidur lagi,'' jawab nya membuat Rafael hemas di buat nya, dia mencubit pipi Septin pelan dan segera berlari keluar kamar untuk segera mengambil wudhu dan segera pergi ke masjid yang berada di dekat rumah Lela.
Sedangkan Septin pergi ke kamar mandi dan segera mencari Ibunda Lela, yang sudah berkutat di dapur bersama menantu nya.
''Sudah bangun?'' tanya kakak ipar Lela, dia memang baru datang sebelum subuh tadi, karena dia harus masuk bekerja dan sift kerjanya memang malam.
''Sudah kak? kalau boleh tau kakak ini siapa nya Mbak Lela,'' tanya Septin yang tengah di landa penasaran karena baru sekarang melihat Mbak mbak ini di sini.
''Och, kenalin aku kakak ipar nya Lela, dan terima kasih sudah datang ke sini hanya untuk menyadarkan Ibu ku yang sempat terpuruk karena kehilangan adik,'' Ucap nya lembut dan juga ramah.
''Sama sama Mbak, dan tidak usah berterima kasih segala dech Mbak, ini juga Septin yang sudah berjanji akan datang ke sini,'' jawab nya tak kalah ramah dan juga lembut.
''Kamu sudah sholat belum?'' tanya seorang wanita paruh baya tiba-tiba bersuara dari belakang nya, karena dia sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik, bagi perempuan perempuan di belakang nya.
Septin menggeleng seraya berkata, ''Septin sedang berhalangan untuk melakukan kewajiban Bu?'' sahut Septin mengulas senyum nya.
''Ya sudah kamu tunggu di dalam saja, mungkin akan selesai sebentar lagi,'' sela nya sambil membalas senyuman dari Septin.
''Septin ingin membantu kalian berdua di sini, ya mungkin buat pembelajaran juga sich? karena sebentar lagi akan menjadi seorang istri,'' sambung nya dengan nada gugup.
Kedua wanita itupun mengangguk pelan seraya menyodorkan sayur yang akan ia potong, ''Lebih baik kamu potongan ini saja dek,'' Ucap kakak ipar Lela.
''Mbak, kasih contoh saja, Septin takut salah motong nya?'' jawab Septin malu malu, karena selama ini dia tinggal makan dan tinggal menerima beres, karena Bunda nya selalu memasak di pagi hari.
''Ya maklumin saja ya mbak, Septin biasa nya nerima beres nya saja, tinggal hap saja,'' tambah lagi yang langsung di ledekin sama Ibunda Lela.
__ADS_1
''Tuh nak? kamu saja ada teman nya kok jadi jangan merasa kalau kamu paling malas dalam mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan dapur,'' sambung nya dengan cekikikan.
''Maksud nya bagaimana ya Bu?'' tanya Septin yang belum ngeh dengan obrolan antara Ibu dan menantu di depan nya.
''Dulu aku sempat berpikir seperti itu juga dek, tapi alhamdulillah nya aku di kasih mertua yang sangat baik dan menerima aku apa adanya, beliau selalu sabar mengajari aku untuk masak? dan alhamdulillah nya sekarang aku sudah bisa walau belum terlalu mahir juga sich?'' jawab nya dengan memperlihatkan deretan gigi putih nya.
Tak lama kemudian masakan yang di masak ketiga perempuan itu mateng juga, dan mereka segera memanggil semua orang untuk melakukan sarapan pagi bersama.
Tak butuh waktu lama mereka menyantap makanan yang di masak ketiga perempuan cantik tadi.
Dan di sini lah sekarang Septin dan juga Rafael berada, dia berada di teras rumah nya untuk pulang ke rumah nya karena pasti orang tuanya sedang khawatir.
''Hati hati di jalan ya nak? sering sering lah main ke rumah Ibu,'' Ujar Ibu Lela yang sudah mulai membaik dari keterpurukan nya.
''Iya Bu, Isya Allah Septin nggak janji juga? soalnya Septin akan mengikuti ujian dalam waktu dekat ini,'' sahut nya yang tidak ingin mengecewakan Ibu dari Lela tersebut. ''Kalau Ibu sama keluarga datang ke sana, jangan lupa mampir ke rumah Septin ya,'' tambah nya dengan senyuman nya.
''Memang kalau kami semua mampir? mau di suguhi apa saja?'' tanya seorang laki-laki yang Septin tebak adalah kakak dari Lela.
''Kalau begitu kami berdua pamit Bu, Pak dan semua nya,'' kata Rafael ramah yang tak bisa menyebut satu satu orang yang ada di sana.
''Iya, hati-hati di jalan. Salam pada orang tua kalian berdua,'' gumam Ibu Lela.
Sepy mengangguk dan melambaikan tangan nya kepada keluarga Lela, Rafael melajukan kendara'an nya dengan perlahan sampai tiba di jalan besar yang tentunya sudah banyak mobil besar di sana.
Septin yang mengenakan jaket Rafael merasa tak enak hati kepada calon suami nya itu, karena suasana di pagi hari yang sangat dingin dan menusuk sampai ke dalam tulang.
''Rafa,'' gumam Septin pelan.
''Hmmm,'' jawab nya.
__ADS_1
''Kamu yang pakek jaket nya ya, aku tidak terlalu dingin kok,'' sela Septin yang membuat Rafael merasa senang di perhatikan seperti itu oleh calon istri nya.
''Sudah, aku nggak apa apa kok? kamu saja yang pakek, lebih baik kamu pegangan yang erat, aku mau ngebut mumpung di sini masih sepi,'' kata Rafael menyuruh Septin berpegangan dengan erat di tubuh Rafael.
Bukan tanpa alasan, jalan yang mereka lalui terkenal dengan sarang bandit yang sewaktu waktu bisa keluar dari tempat persembunyian nya dan menghadang para pengendara yang memang sendiri, maksudnya lebih sepi.
Septin melakukan seperti yang di suruh oleh Rafael, Septin memejamkan matanya seraya tidak berhenti mengucapkan sholawat di dalam hati nya, Septin merasa nyalinya ciut ketika mendengar jalan ini yang terkenal seram. Mungkin orang mengira Septin tidak pernah takut dengan semua makhluk cipta'an Allah SWT, tapi nyatanya Septin juga takut kalau melihat bandit, takut orang terdekat nya yang jadi incaran nya, kalau misalkan itu terjadi kepada Septin, dia tidak pernah se takut ini sebelum nya, asal dia sendiri. Karena Septin bisa menghajar bandit bandit tersebut, namun kalau bersama dengan keluarga atau yang lain nya, rasa khawatir Septin malah membuat dia takut untuk melawan bandit bandit tersebut.
...****************...
Tepat jam 2 siang mereka sampai di rumah Septin, karena mereka notabene nya yang selalu berhenti karena Rafael yang merasa sangat ngantuk, mengingat semalam dia seluruh memandang wajah cantik calon istri nya tersebut.
''Kalian sudah pulang? dan kenapa ponsel kalian tidak bisa di hubungi sama sekali, apa kalian sengaja mematika ponsel kalian,'' ucap Bunda Septin mencecar dengan berbagai macam dia pertanya'an.
''Ponsel Septin kehabisan baterai Bunda, dan Septin lupa tidak membawa charger, jadi Septin taruh di dlam tas saja tanpa mau mengecas ponsel selama ada di sana?'' kawab Septin dengan panjang kali lebar.
''Alasan doang! bilang saja kalau kalian berdua tidak mau kami ganggu waktu kalian berdua, iya kan? ayo ngaku saja dech,'' sambung sang Bunda yang malah menggoda kedua pemuda pemudi di depan nya.
''Ibu bisa dech, masak iya kami di kita hanya berdua di sana, padahal kami rame rame lho, bahkan tumah nya hampir tidak muat untuk semua orang yang ingin melihat artis seperti Septin ini,'' Septin malah membalas candaan dari Bunda nya dan malah dia yang sekarang menjadi bahan ejekan dari keluarga nya yang memang sedang menunggu kedatangan Septin dan juga Rafael.
''Maklum lah Mbak, sebentar lagi akan jadi seorang istri, jadi dia sudah pandai dalam melakukan hal konyol seperti ini,'' tukas nya yang langsung ramai dengan suara tertawa.
Septin hanya mendengus kesal, dan Rafael masih dengan senyuman nya yang juga mengiyakan atas kelakuan calon istri nya yang beberapa hari ini nampak aneh dan selalu menunjukkan kekonyolan nya.
.
.
.
__ADS_1
.