
''Kamu kenapa canggung gitu, kita kan sudah setiap hari selalu pergi bareng? dan kenapa kamu sekarang malah bersikap seperti itu sama aku,'' Tanya Rafael yang bingung melihat sikap yang di perlihatkan kan oleh sahabat wanita nya, ech ralat. Calon istri bukan sahabat lagi.
''Aku rasa mulai sekarang panggilan ku sama kamu harus di rubah Ra-fa?'' sahut nya dengan gugup.
''Nggak usah se cepat itu juga nggak apa apa kok Tin, aku tau kok kamu pasti butuh waktu dengan ini semua, aku sangat mengerti kamu kok?'' Ujar Rafael mengusap ujung bibir Septin yang ada sisa makanan nya.
''Terima kasih ya sudah ngertiin aku,'' kata Septin dengan mengembangkan senyuman nya kepada calon suami nya. ''Tadi kamu sempat tanya ke aku, memang nya kita mau ke mana?'' tambah nya lagi, Septin yang mengingat perkata'an Rafael ketika di tengah jalan tadi.
''Kalau kamu sibuk dan juga acara lain, nggak apa apa kita bisa pergi lain kali saja,'' sahut nya sambil menyuap kan makanan nya.
''Aku nggak sibuk kok Fa, mungkin kamu marah ya sama aku, karena ucapan ku tadi?'' tanya Septin dengan nada lirih.
''Aku nggak marah kok? beneran,'' jawab nya menghentikan kunyahan nya.
''Terus kalau kamu nggak marah, kenapa kamu nggak bilang mau ajak aku kemana?'' tanya nya lagi dengan nada sedih nya, yang membuat Rafael tidak tega dan merasa bersalah sudah membuat Septin bersedih.
''Tadi nya aku mau ngajak kamu ke sebuah Mall untuk beli perlengkapan acara kita nanti, tapi nggak apa apa kalau kamu ada acara lain, kita bisa besok pergi ke sana nya,'' gumam Rafael memegang tangan Septin.
''Kan semalam sudah ngomong juga sama kamu Fa? kalau kita akan ke rumah mbak nya,'' Septin mengingat kan Rafael kembali tentang acara nya hari ini, mungkin dia melupakan nya karena suruhan orang tua nya.
Rafael yang mendengar ucapan Septin langsung menepuk jidad nya karena dia lupa, kalau dia sudah berjanji akan mencari alamat wanita yang meminta tolong kepada Septin.
''Kok aku bisa lupa ya Tin, maaf aku bukan nya pura-pura lupa? tapi beneran lupa,'' Ujar nya.
''Iya nggak apa apa kok Fa, apa kamu sekarang banyak pikiran sampai melupakan janji kita yang semalam?'' tanya Septin dengan rasa penasaran nya, karena Rafael tidak pernah seperti ini sebelum nya, dan batu kali dia melupakan kalau kita punya janji untuk pergi ke tempat yang semalam di bicarakan.
''Kamu sudah selesai makan nya?'' tanya Rafael lembut kepada Septin sangat calon istri.
__ADS_1
''Udah,'' jawab Septin singkat, dan menyeruput sisa jus nya sampai habis.
''Kalau sudah kita jalan sekarang saja, takut nya kemaleman sampai disana kan?'' sambung Rafael yang langsung di angguki Septin, Rafael menggandeng tangan Septin layak nya dia ingin mengatakan kalau Septin adalah milik nya. Begitu juga dengan Septin yang membalas genggaman Rafael, sesekali Septin melirik ke arah Rafael yang hari ini terlihat sangat ganteng di mata nya.
''Kenapa kamu lihatin aku seperti sich Tin, aku memang ganteng dan juga menggemaskan,'' selanya, ketika Septin ketahuan tengah mencuri pandang.
''Ich pede banget?'' elak Septin yang membuat Rafael terkekeh melihat wajah Septin yang sudah cemberut. ''Sudah ayo berangkat sekarang, tadi bilang nya takut kemaleman ech nyata nya malah di lambat lambantin jalan nya,'' tambah nya lagi menarik tangan Rafael agar segera sampai di parkiran motor nya.
Rafael mengulas senyuman nya melihat tingkah sahabat nya, yang sebentar lagi akan menjadi istri nya.
Rafael memasangkan helm di kepala Septin seperti biasa nya, ya Rafael sudah terbiasa memakaikan helm ke kepala sahabat nya, tapi sekarang dia memakai kan helm tersebut ke kepala calon istri nya.
''Memang nya alamat yang semalam itu sangat jauh ya, kok kamu bilang sampai malam?'' tanya Septin yang penasaran dengan alamat yang ia catet di ponsel nya.
''Ya lumayan lah Tin? memangnya kamu capek, atau kita pulang sebentar dan membawa mobil Ayah di rumah?'' Ujar Rafael tiba-tiba.
''Ya biar kamu lebih nyaman saja saat di jalan?'' ungkap nya dengan rasa peduli yang begitu tinggi.
''Kamu bisa saja dech Fa,'' sela Septin menepuk punggung Rafael pelan.
Mereka berdua bersenda gurau, mengobrol dan juga menceritakan keseharian nya yang di lalui dengan bersama sama selama ini, mungkin inilah yang di namakan jodoh yang tidak di sangka sangka, Allah memang sudah merencakan setiap manusia akan memiliki pasangan masing-masing, dan pasangan Rafael adalah Septin? seorang sahabat yang selalu menemani di segala suka dan suka, dan dia akan menjadi jodoh nya, semoga menjadi jodoh yang Sakinah mawaddah warahmah.
''Mungkin kita sudah sampai, tinggal kita cari di mana rumah mbak nya itu,'' Ucap Rafael menunjuk papan nama yang ada di pinggir jalan Raya.
''Sebentar ya Fa?'' sela Septin yang saat ini tengah memegang liontin yang selalu ia pakai.
''Mbak, kita sudah sampai di sini, tapi kita tidak tau pasti tempat tinggal mbak nya di mana,'' Ucap Septin menatap arah samping nya. Ya arwah wanita tersebut kini tengah berada di samping Septin, dan itu membuat bulu kuduk Rafael berdiri mendengar nya.
__ADS_1
''Kamu jalan lurus saja, setelah itu belok kiri dan ada masjid di sana kamu belok kanan?'' sahut nya yang hanya di dengar oleh Septin.
''Septin, lebih baik kita mampir ke masjid saja dulu, sekarang sudah Adzan maghrib, bahkan sudah sedari tadi adzan nya, kita berhenti di sana sebentar ya,'' sela Rafael yang mengejutkan Septin, Septin sedari tadi tidak menyadari kalau sekarang sudah Magrib, karena Septin sendiri sedang halangan jadi tidak ingat lagi dengan masalah kewajiban yang harus ia lakukan.
''Tapi aku nggak bisa ikut kamu sampai ke halaman masjid?'' kata Septin mencegah Rafael yang akan segera melakukan motor nya.
''Tapi kenapa?'' tanya nya penasaran seraya menyentuh bahu Septin.
''Aku sedang halangan, jadi tak mungkin masuk sampai ke halaman masjid itu?'' tunjuk nya ke arah masjid yang berada tak jauh dari tempat sekarang ia berhenti.
''Kalau gitu kamu tunggu di sini saja, biar aku jalan kaki ke sana nya,''
''Kamu bawa saja motor nya Fa, aku duduk di warung itu saja?'' Septin menunjuk warung yang sudah tutup yang adandi depan nya.
''Kamu yakin akan duduk di sana sendirian ?'' tanya Rafael memastikan.
''Bukan sendirian Rafa, ini ada mbak nya yang masih bersama ku, dan aku juga mau mengobrol juga sama dia, mungkin masih adanyangnia sampaikan kepadaku sebelum kita sampai ke rumah nya nanti,'' sahut Septin yang langsung di angguki oleh Rafael, Rafael sangat percaya sekali dengan calon istri nya, makanya dia sangat bahagia sekali ketika orang tuanya melamar wanita yang ia kagumi untuk nya, Rafael melajukan motor sport nya menuju masjid, sedangkan Septin berjalan menuju warung yang sudah tertutup karena sudah malam.
Septin memainkan ponsel nya di depan mbak yang sudah menjadi makhluk halus atau bisa di bilang Roh yang masih gentayangan.
''Kenapa mbak harus meminta tolong kepadaku sich, kenapa nggak pulang sendiri dan menceritakan setiap kejadian kepada semua nya,'' kata Septin memulai obrolan nya.
''Orang tumah tidak ada yang bisa melihat ku selain kamu Tin, aku sangat berterima kasih sama kamu, karena kamu sudah mau menolong ku untuk segera lepas dari masalah ini, dan aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang belum aku sampai kepada orang itu,'' terang nya membuat Septin melongo mendengar nya.
''Sesuatu yang belum bilang--?'' tanya Septin mengerutkan kening nya.
''Jangan mikir yang aneh aneh dech Septin, akunya udah meninggal dan aku hanya ingin meminta maaf saja tidak lebih dari itu,'' potong nya, membuat Septin kesal karena ucapan nya di potong oleh seseorang, bukan seseorang sich? lebih tepat nya hantu mungkin lebih cocok.
__ADS_1