
''Septin kamu jangan salah paham akan hal itu, aku hanya tidak mau membuat kamu merasa tidak nyaman saja, ketika berdua'an sama aku? dan aku juga tidak akan pernah mengekang kamu kalau suatu saat teman kamu mengajak pergi, asal jangan sampai malam saja,'' Ujar Rafael dari awal sangat serius, tapi ujung ujung nya dia malah bikin ngakak.
Kini mereka berdua sudah tiba di sekolah nya, dan tepat mereka sudah ada di depan kelas nya bel pun berbunyi, padahal Rafael masih ingin mengajak Septin untuk ke kantin sekolah, mengingat calon istri nya belum sarapan pagi tadi.
''Septin, kamu sekolah?'' tanya salah satu teman nya ketika melihat Septin yang datang ke sekolah.
''Iya,'' jawab Septin singkat.
''Bukan nya kemarin kamu bilang nggak akan masuk sekolah selama 3 hari?'' sela Nurul mengingat ucapan sahabat nya yang mengatakan tidak akan masuk ke sekolah hari ini sampai 2 hari ke depan.
''Tadi nya aku nggak mau masuk sekolah? tapi Ayah menyuruh aku untuk masuk saja, toh di rumah hanya molor dan nonton TV saja,'' jawab nya. ''Apalagi Rafael sudah menunggu ku tadi pagi di rumah, kalau aku nggak masuk sekolah kan kasian dia harus menelan kecewa karena sudah di tolak oleh si cantik Septin?'' tambah nya dengan kekehan kecil, mengingat dia sangat lebay dalam menanggapi semua ucapan teman teman nya.
''Kamu tuh Tin bisa saja ngeles nya, sudah ach aku mau kembali ke tempat duduk ku dulu, bye....?'' Ucap Nurul dan juga salah satu teman nya yang juga ikut bertanya kepada Septin.
Rafael hanya meng geleng-gelengkan kepala nya pelan, melihat sikap jail calon istri nya yang di tujukan kepada Nurul saja selaku sahabat cewek nya.
__ADS_1
Rafael mengulas senyum ketika dia mendengar kalau dia akan kecewa ketika ia di tolak oleh gadis di samping nya, ucapan itu membuat Rafael terus mengembangkan senyuman nya sepanjang hari, dia juga tidak fokus dengan mata pelajaran nya karena selalu mencuri pandang ke arah Septin yang duduk di samping nya.
''Rafael, kenapa kamu senyum senyum seperti itu sich, seperti orang tidak waras saja,'' bisik teman Rafael yang tak punya kesopanan kepada teman nya.
''Nggak usah ikut campur dech dengan urusan orang, lebih baik lho urus diri lho sendiri dari pada lho urus gue,'' balas Rafael dengan berbisik juga, namun tatapan nya mengarahkan kepada teman nya yang ada di depan bangku nya.
''Tin, lho harus waspada dengan cowok satu ini, aku takut dia sudah mulai gila. Coba lho tengok sendiri kelakuan dia sekarang?'' ujar nya kepada Septin, Septin yang tidak paham dengan semua yang di ucapkan teman nya hanya terlihat cengo' layak nya dia sendiri tak waras.
''Danu, kenapa kamu melihat ke belakang terus, memang guru nya da di belakang,'' tegur sangat Guru yang tengah mengajar di kelas Septin. Ya laki-laki yang mengajak Rafael mengobrol adalah Danu yang duduk nya tepat di depan bangku nya.
''Ada apa dengan Septin, dia terlihat baik baik saja kok kenapa kamu malah bertanya, apa yang kamu mau tanyakan? bukan nya nanti selesai pelajaran Bapak kamu bisa mengobrol dengan dia sepuas nya, bahkan mungkin sampai ember nya penuh dengan iler,'' papar nya dengan kesal, mengingat murid yang satu ini bandel nya minta ampun, tapi semua Guru nya hanya bisa mengutarakan dengan kata kata saja tanpa mau melakukan kekerasan seperti men jewer telinga nya atau hal yang lain semacam nya.
Mereka semua yang ada di sana hanya bisa diam mendengar kan saja tanpa ada yang mau menjawab semua ucapan yang sedang di lontarkan oleh Guru nya.
Satu jam sudah Guru yang mengajar di kelas Septin dan lain nya mengomel. Jam pulang pun mulai berbunyi, menandakan semua siswa akan kembali ke rumah nya masing-masing, Rafael mengajak Septin ke cafe sebelum pulang ke rumah nya, sejak tadi Septin hanya diam tanpa mau makan ketika di kantin sekolah nya, hanya minuman saja yang ia pesan ketika jam pertama usai tadi.
__ADS_1
''Lho kok kita datang kemari sich, bukan nya kita mau mencari alamat gadis yang semalam itu,'' tanya Septin tiba-tiba.
''Masuklah dulu, kita akan mencari nya setelah ini, tapi kuya makan dulu dan pulang untuk ganti baju dulu agar orang tua kita tidak terlalu khawatir kalau kita nggak pulang sampai malam?'' jawab Rafael panjang lebar, Rafael terus saja menatap ke wajah cantik Septin, yang membuat dia tak pernah bosan melihat gadis pujaan nya, yang sebentar lagi akan menjadi istri nya, Rafael tidak pernah menyangka kalau dia akan menikah di usia nya yang masih sangat muda, bahkan di usia nya yang belum menginjak 18 tahun.
Septin mengikuti apa yang di katakan calon suami nya, Septin memilih makanan seperti biasa nya ketika mendatangi cafe yang saat ini ia datangi dengan Rafael, mungkin kemarin Rafael dan Septin datang ke tempat ini sebagai sahabat saja, tapi tidak untuk sekarang, dia datang dengan calon suami nya bukan lagi sahabat nya.
''Rafael, setelah kita menikah aku- ingin bekerja sepulang dari sekolah,'' Ucap Septin membuka obrolan nya.
''Kenapa kamu mau bekerja, bukan kah kita harus menyelesaikan pendidikan kita sampai tamat sekolah dan lulus di Universitas seperti yang kamu katakan dulu,'' jawab Rafael mengernyitkan kening nya, karena heran dengan istri nya yang tiba-tiba ingin bekerja paruh waktu.
''Kita akan segera menikah, tapi kamu juga belum bekerja, kita harus punya penghasilan sendiri Rafa, kita tidak harus selalu bergantung kepada orang tua kita, sejak ijab kabul di ucapkan oleh mu, tanggung jawab ku sudah kamu yang menanggung nya Fa, jadi mari kita cari pekerjaan saja mulai dari sekarang.''
''Septin kamu nggak seharusnya memikirkan untuk bekerja, biar aku saja yang akan bekerja keras untuk keluarga kecil kita nanti, kamu tenang saja dan fokus dengan sekolah kamu dan juga harus fokus karena sebentar lagi kita akan kenaikan kelas juga, karena sebenarnya kamu sudah menjadi tanggung jawab ku, maka aku yang akan memikirkan hal itu ya,'' sahut nya panjang lebar dan mencoba menenangkan calin suami nya yang sudah sangat ingin bekerja.
''Makanlah setelah ini kita akan pulang dan pergi mencari alamat wanita yang semalam itu,'' kata Rafael menyuruh calon istri nya untuk segera menghabiskan makanan nya yang sudah ia pesan.
__ADS_1
''Terima kasih banyak ya?'' gumam Septin pelan, sebenarnya Septin bingung akan memanggil Rafael dengan sebutan apa nanti, secara dia hanya beda satu tahun saja, dan selama ini Septin sudah sangat nyaman dengan hanya memanggil nama saja, tapi sekarang dia sangat canggung dengan sahabat di depan nya.