
Selama dua hari Septin tidak masuk ke sekolah, dia sedang di oingit oleh keluarga nya, hanya Rafael yang tengah berangkat ke sekolah nya, tapi terasa sangat sepi tanpa ada nya Septin di sekolahan nya, karena Septin lah yang membuat satu sekolah membuat gaduh dengan tingkah polah nya yang seperti anak kecil.
''Rafael, kemana Septin? biasa nya dia selalu bareng kamu kalau ke sekolah,'' tanya Nurul yang emang tidak tau menau kalau Septin dan Rafael akan segera menikah, walaupun itu hanya nikah siri.
Rafael hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban dari pertanya'an Nurul kepada nya.
''Kamu kok nggak jawab sich Fa, aku nanya juga,'' Ucap Nurul lagi, tapi kali ini dengan nada ketus nya, karena mengingat Rafael hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban nya tadi.
''Lebih baik kamu datang saja ke. rumah nya, atau mungkin telfon saja dia agar kamu tahu yang sebenarnya,'' kata Rafael memutus pertanya'an yang akan di ajukan lagi oleh Nurul sahabat Septin dan juga diri nya.
'''Males ach Fa, lagian aku harus jaga warung nanti sepulang sekolah, jadi tidak bisa main main seperti biasa nya lagi,'' gerutu Nurul yang di angguki oleh Rafael, ya memang dari tiga bulan yang lalu, Nurul sudah mulai membantu orang tuanya untuk menjaga warung bakso nya, sedangkan sang ayah berjualan berkeliling dengan menggunakan sepeda motor nya, memang keluarga Nurul hanya memiliki satu motor? jadi kalau pagi motor tersebut selalu di pakai Nurul untuk pergi ke sekolah nya, sedangkan di sore hari nya di pakek sang Ayah untuk menjajakan bakso nya, dengan cara berkeliling desa satu ke desa lain nya, seperti itu setiap hari nya.
Kini ayah Nurul sudah memiliki beberapa pelanggan yang setia untuk menunggu kedatangan nya, walaupun itu tidak setiap hari? tapi ya lumayan lah buat beli beras dan juga jajan untuk Nurul dan juga adik nya Nurul yang terbilang masih kecil. Ya maklum sajalah? Nurul dengan sang adik udianya terpaut cukup jauh.
Kini umur Nurul akan menginjak 18 tahun, sedangkan adik nya masih berumur 3 tahun.
''Selamat pagi anak anak,'' sapa Bu Maya ketika masuk ke dalam kelas nya. Semua murid-murid menjawab dengan serempak.
''Selamat pagi Bu Guru?''
__ADS_1
''Kalian sudah siap dengan ulangan yang kemarin sudah ibu katakan sebelum nya,'' Ujar Bu Maya membuat semua murid-murid nya menatap horor ke arah sang Guru yang tengah menyiapkan lembaran ulangan nya.
''Interupsi Bu Guru,'' ucap Nurul mengangkat tangan nya ke atas, dan beranjak dari duduk nya, dia berdiri agar lebih sopan dengan sang guru nya, pikir Nurul.
''Kenapa Nurul,'' tanya Bu Maya menatap wajah Nurul yang sedikit bingung dengan apa yang akan ia katakan.
''Teman kita ada yang tidak masuk sekolah hari ini, apa tidak bisa hari ulangan nya di undur menjadi minggu depan saja,'' jawab Nurul selena nya, karena Nurul sendiri belum sama sekali belajar, dia lupa kalau hari ini akan ada ulangan Bu Maya di sekolah nya.
''Teman kalian yang tidak masuk sekolah hari ini, akan mengerjakan ulangan susulan, apa kamu mau ikut ulangan yang susulan juga? tapi Bu Guru akan menambah ulangan kamu, yang tadinya hanya 30 soal menjadi 50 soal, bagaimana,'' sambung Bu Maya menatap ke arah Nurul yang menggaruk tengkuk nya yang tidak gatel sama sekali, Nurul mulai bimbang? antara mau ikut ulangan sekarang atau ikut ulangan susulan saja
''Kamu sudah punya jawaban nya belum Nurul?'' tanya Bu Maya lagi.
Bu Maya hanya terkekeh menatap wajah Nurul yang tengah cemberut, karena dia tidak menyangka kalau akan melihat kelakuan murid nya yang satu ini, pikir Bu Maya dengan mengulas senyuman nya.
''Ternyata Bu Maya jahat juga orang nya, apa ketika Septin mengulang ulangan nya akan mendapatkan itu juga,'' gumam Nurul pelan sehingga tidak ada orang yang mendengar nya sama sekali.
Bu Maya sudah membagikan lembaran ulangan kepada seluruh siswa nya yang berjumlah 30 anak, namun ada 3 anak yang tidak masuk sekolah karena ijin sakit, dan ada juga ijin bepergian. Sedangkan Septin ijin dengan alasan ada acara keluarga yang tidak bisa di tinggal begitu saja. Jadi Bu Maya memaklumi Septin yang tidak bisa mengikuti ulangan hari ini di sekolah nya, tadi Bu Maya hanya mengancam Nurul saja akan menambah soal ulangan nya kalau dia ikut ulangan susulan bersama teman teman yang hari ini memilih ijin karena halangan hadir k sekolah nya.
Tapi sejujurnya Bu Maya sudah tau kalau Septin tidak masuk sekolah hanya karena dia sedang di pingit oleh orang tua Rafael, jadi dia memaklumi nya.
__ADS_1
Septin sebenarnya sudah menceritakan semua nya kepada Bu Maya, yang notabene nya wali kelas nya, dia juga meminta pendapat kepada Guru nya tersebut agar dia tidak di keluarkan dari sekolah nya, toh dia hanya nikah siri saja, kalaupun mau nikah secara hukum umur mereka masih sangat kurang, jadi Bu Maya mengatakan kalau sebaiknya teman sekolah nya tidak ada yang tau kalau Septin dan Rafael sudah nikah.
Ucapan Bu Maya di benarkan oleh Septin, makanya dia tidak mengundang Nurul yang memang sahabat nya sendiri, Septin takut kebohongan akan terbongkar dan semua orang tau dan dia yang akan rugi karena bisa di keluarkan dari sekolah nya.
''Ratau, tolong kamu kasih ini kepada Septin,'' kata Bu Maya menyodorkan satu lembar soal ulangan nya.
''Tapi Bu, saya tidak bisa--''
''Sudah, lebih baik kamu taruh soal ulangan ini ke dalam tas kamu, takut nya Septin malah menunggu lembaran ulangan ini lusa,'' potong nya membuat Rafael melongo tak percaya dengan Bu Maya wali kelas nya.
''Baiklah Bu,'' jawab Rafael dengan nada pasrah dengan kenuruti perminta'an dari sang wali kelas.
Rafael memasukkan ke dalam tas ransel nya lembaran soal yang akan di berikan kepada Septin yang tengah meminta ijin tadi.
''Ayo cepat Rafael, dan kerjakan tugas kamu dengan baik dan lebih teliti lagi, jangan sampai kata kata tadi tidak di lontarkan lagi.
Takut nya ada seseorang yang menyamar sebagai tamu dengan menginginkan Septin yang sudah jadi milik nya saat ini.
Rafael mengerjakan semua tugas tugas nya dengan baik, mereka semua menatap ke arah Rafael yang sedang mengerjakan ulangan sekolah nya dengan serius, Rafael memang ingin segera pulang ke rumah nya, mengingat dia besok akan melangsungkan hari pernikahan nya dengan wanita puja'an hati nya, yang tak lain adalah Septin.
__ADS_1