Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 46 Rasa khawatir


__ADS_3

Karena terlalu asik bercerita, dengan keluarga Lela. Septin dan Rafael melirik ke arah jam yang ada di dinding, mata mereka melotot bersama'an ketika jambi dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam.


''Lebih baik kalian menginap di sini saja, lagiannininsudah sangat malam?'' kaya Ibu Lela yang mengerti tatapan dari Rafael dan juga Septin di depan nya.


''Memang tidak merepotkan Bu?'' tanya Septin merasantak enak hati dengan keluarga Lela si hantu muka datar.


''Sama sekali nggak kok? kami takut terjadi sesuatu sama kalian berdua di tengah jalan kalau memaksakan untuk pulang di jam segini? apalagi saat ini rawan begal dan mereka juga tak akan segan untuk melukai korban nya,'' Ujar Ayah Lela mengingat kan.


''Baiklah kalau begitu,'' sahut Rafael yang tak ingin memperpanjang masalah nya dengan keluarga Lela hanya karena menyuruh nya menginap, mengingat Septin yang sudah sangat ngantuk dan Rafael juga mengerti kalau calon istri nya itu sangat kelelahan.


''Nak Septin tidur di kamar Lela saja,'' Ibu dari Lela memberi ide.


''Mohon maaf Bu, bukan nya aku nggak mau tidur di sana? tai Septin tidak mau Mbak Lela mengganggu tidur ku nanti, dia memang pengganggu,'' kata Septin menatap ke arah samping nya, di mana di sana Lela masih sangat setia menatap Septin.


-''Aku nggak akan ganggu kamu kok Tin, kamun tenang saja?'' jawab Lela meyakinkan Septin, namun Septin tidak mau karena dia juga takut berhubungan dengan barang barang Lela di kamar nya.


''Septin tidur di kamar tamu sama Rafael saja Bu kalau gitu?'' Ucap Septin tiba-tiba, Septin tak ingin membuat Ibu Lela memikirkan akan tidur di mana Septin malam ini.


''Apa tidak apa apa?'' tanya Ibu Lela ragu, mengingat Septin yang masih berstatus siswa SMA, tapi dia ingat kalau Rafael adalah tunangan Septin sendiri.


''Tidak apa apa Bu, lagian dalam waktu empat hari ini dia akan sahabat menjadi istri ku,'' sahut Rafael, membuat semua orang menganga nggak percaya dengan ucapan Rafael.


Akhirnya keluarga Lela mengantarkan mereka berdua ke kamar tamu yang ada di samping nya, ''Ini kamar kalian, tidur lah dengan nyenyak, maaf kalau rumah Ibu tidak seperti rumah kalian berdua,'' ucap nya lirih, melihat Septin yang menatap ke sekeliling kamar yang di peruntukkan kepada nya.


''Bukan itu Bu, ini malah bagus banget dan juga besar, seperti kamar kamar yang ada di sinetron saja,'' jawab Septin menatap wajah Ibu Lela sendu. ''Rumah Septin saja tidak seperti ini kok Bu, menurut Septin ini terlalu bagus untuk di tempati kami berdua,'' tambah nya lagi dengan mengembangkan senyuman termanis nya.

__ADS_1


''Ya sudah kalian beristirahat lah dulu, Ibu pergi dulu,'' pamit nya dan melangkah keluar dari kamar tamu yang akan di tempati Rafael dan juga Septin untuk malam ini.


Septin memilih tidur di atas ranjang, sedangkan Rafael berjalan menuju ke arah sofa yang memang ada di dalam kamar tersebut, di dalam kamar Septin bisa bernafas lega? karena Rafael juga tidur di kamar yang sama.


''Tidur lah Tin?'' Ucap Rafael dari sofa yang ia duduki saat ini, Septin mengangguk dan segera membaringkan ke atas ranjang ukuran besar, tak butuh waktu lama untuk Septin memejamkan mata nya dan berkeliling di alam mimpi yang begitu indah, sehingga siapapun yang bermimpi itu tidak akan rela untuk bangun dari tidur nya dan menghilangkan momen indah nya di alam mimpi tersebut.


Rafael tidak segera tidur, melainkan dia menatap wajah Septin yang sangat cantik dan juga adem walaupun dia tidak memoles wajah nya dengan make up, wajah cantik Septin menjadi saya tarik sendiri untuk Rafael sehingga dia beranjak dari duduk nya dan melangkah kan kakinya menuju ranjang, di mana Septin tengah tertidur pulas di sana.


Rafael mengulas senyum di kedua bibir nya, seraya tak henti henti nya dia memuji kecantikan dari calon istri nya.


''Tak kusangka? kamu begitu cantik Septin, bahkan di waktu tidur saja kamu masih terlihat sangat cantik, pantas saja di sekolah banyak laki-laki yang tergila-gila sama kamu,'' gumam Rafael pelan, tangan Rafael mengambil helaian rambut Septin yang berada di wajah putih nya.


...****************...


Di rumah Septin kedua orang tuanya tengah memikirkan Septin dan juga Rafael karena sampai malam dia tidak memberi kabar kepada mereka berdua, Septin sendiri sudah beberapa kali di hubungi tapi ponsel nya tidak aktif, begitu juga dengan Rafael yang di hubungi juga sama, seorang operator yang menjawab panggilan nya.


''Kita coba hubungi keluarga Rafael saja, siapa tau mereka ada di sana sekarang?'' jawab Ayah Septin yang memang sangat menghawatirkan puteri nya.


''Baiklah terserah Ayah saja,'' sahut nya dan memilih diam mendengarkan obrolan suami nya dengan calin besan nya.


-''Assalamu'alaikum,'' Ucap Ayah Septin ketika sambungan telfon nya di angkat.


-''Waalaikum salam?'' jawab Ayah Rafael di seberang dengan nada santai, seperti tidak sedang memikirkan putera nya yang tidak pulang ke rumah nya malam ini.


-''Ada apa San?'' lanjut Ayah Rafael dengan memanggil Ayah Septin dengan sebutan San.

__ADS_1


-''Apa puteri ku ada di sana malam ini?'' tanya Ayah Septin.


-''Puteri kamu tidak ada di sini, dan putera ku juga belum pulang? mungkin dia menginap di sana karena hati sudah sangat malam?'' jawab nya dengan nada santai nya.


-''Apa kamu tidak khawatir sama mereka berdua,'' tanya Ayah Septin kepada besan nya, dari nada bicara nya dia sudah terbiasa dengan ketidak pulangan Rafael putera nya.


-''Kuawatir sich San? tapi apa boleh buat, kita tunggu saja sampai besok pagi, kalau mereka belum pulang juga kita samperin ke kota itu, coba kamu pikir dech? perjalanan dari sinintuh memakan waktu kurang lebih 3-4 jam untuk sampai di kita itu, apalagi malam ini sudah sangat larut, mungkin oleh orang yang punya rumah mereka di suruh menginap mengingat jalanan di sana yang sangat rawan begal, kamu coba pikir kalau sampai orang yang punya rumah menyuruh mereka pulang malam ini dan terjadi sesuatu, pasti aku sama kamu akan sangat marah sama orang tersebut,'' ujar Ayah Rafael panjang lebar, mengingat anak buah nya sudah melaporkan kalau Septin dan juga Rafael memilih menginap di rumah orang yang puteri nya mengalami kecelaka'an beberapa minggu lalu.


-''Lebih baik kamu tidur yang nyenyak, mereka baik baik saja saat ini,'' tambah nya dan mematikan sambungan telfon nya mengingat sudah tidak ada lagi yang akan di bicarakan.


''Apa Bunda bilang? Ayah yang nggak percaya sama Bunda, mereka akan baik baik saja kok, lagian mereka berdua akan segera menikah jadi mereka akan menjaga satu sama lain nya Yah,'' terang Bunda Septin kepada suami nya.


''Iya Bunda, Ayah terlalu memikirkan puteri Ayah? takut nya terjadi sesuatu sama dia, Ayah tidak pernah jauh sebelum nya dengan puteri kecil Ayah Bunda,'' sambung Ayah Septin dengan mata yang sudah berkaca kaca.


''Mulai sekarang, Ayah harus biasa di tinggal oleh puteri kita, mengingat Septin sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari Rafael,'' terang sang istri yang langsung di angguki oleh suami nya, Ayah Septin sadar betul kalau puteri akan menjadi milik orang, tapi dia juga tidak akan memaksa puteri nya untuk tetap tinggal bersama nya di rumah kecil nya tersebut.


''Sudahlah lebih baik kita tidur, karena besok masih banyak yang akan kita urus untuk mendatangi rumah saudara saudara yang lain yang belum kita datangi ke rumah nya,'' sela Bunda Septin menepuk punggung tangan suami nya.


Ayah Septin berpikir sejenak, bahwa saat putera nya meninggalkan rumah dan memilih untuk merantau ke kota orang, dia tidak se khawatir itu.Mungkin karena dia berpikir kalau putera nya akan baik baik saja di perantauan, tapi baru kali ini puteri nya tidak oulang ke rumah dan dia begitu khawatir dengan Septin puteri kecil nya yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari Rafael.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2