Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 25 Septin pacar kakak kelas


__ADS_3

Dengan nafas yang masih ngos ngosan Septin beranjak dari tempat tidur nya, dia berjalan menuju kamar mandi untuk melaksanakan sholat malam nya, namun belum sampai di dalam kamar mandi Septin terperanjat kaget ketika mendengar suara yang meminta tolong.


''Tolong??'' terdengar begitu lirih ketika suara itu berteriak minta tolong.


Septin hanya bisa celingak celinguk menatap ke sekeliling rumah nya, ternyata tak ada orang yang mendengar satu orang pun. Septin kembali mendengarkan teriakan itu lagi, dan diapun memejamkan matanya sejenak, Septin melihat seorang Ibu Ibu di kejar oleh kawanan penjahat, namun saat Septin ingin meraih Ibu Ibu tersebut ada awan hitam oekat yang menutupi pandangan Septin, sehingga dia tidak bisa menyelamatkan Ibu Ibu tersebut dari kawanan penjahat tersebut.


Septin membuka mata nya kembali dan segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dengan segera dia membasuh wajah nya yang memikirkan hal yang bukan bukan, lalu Septin mengambil wudhu guna menenangkan fikiran nya walau hanya sementara.


Tepat pukul dua dini hari Septin melakukan sholat malam nya, di tambah dua raka'at untuk sholat hajat nya, agar segala hajat yang selama ini di mimpi mimpikan segera menjadi nyata.


Malam ini terasa ngantuk sekali bagi Septin, biasa nya dia selesai sholat malam langsung mengaji untuk menghilangkan rasa bosan nya, namun malam ini berbeda sekali, tubuh Septin serasa di duduki beberapa orang sehingga dia tepar di atas sajadah nya dengan masih memakai mukenah nya.


Sampai adzan subuh berkumandang Septin di bangunkan oleh Ibunda nya untuk menunaikan solat subuh nya. ''Masya Allah, nich anak kebiasa'an banget kalau tidur masih memakai mukenah nya,'' gerutu sang Bunda seraya menggoyang goyangkan tubuh puteri nya.


''Septin, bangun sudah subuh? ayo sholat dulu setelah itu baru tidur lagi,'' bisik sang Bunda, Septin yang terganggu pun menggeliat dan mengerjapkan beberapa kali kelopak mata nya.


''Bunda, ada apa?'' tanya Septin yang masih belum terlalu sadar.


''Bangun sholat dulu, setelah itu baru di lanjut lagi tidur nya,'' jawab sang Bunda pelan, namun Septin sudah merubah posisi tidur nya menjadi duduk.


''Bunda, mana mungkin Septin bisa tidur kembali setelah sholat subuh? yang ada Septin telat pergi ke sekolah nya,'' Ucap Septin membuka mulenah nya dan beranjak dari tidur nya, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya sekaligus mengambil wudhu.

__ADS_1


Jam 6:30 Rafael sudah menjemput nya di rumah Septin, seperti biasa dia selalu standby di depan rumah Septin, ''Dari tadi?'' tanya Septin ketika baru keluar dari dalam rumah nya.


''Nggak juga kok, aku baru sampai?'' jawab Rafael sembari memperlihatkan deretan gigi putih nya kepada Septin, yang tak lain adalah sahabat nya.


Septin mengambil helm yang di ulurkan oleh Rafael, helm yang selalu berada di kepala Septin setiap hari nya. Namun bukan Septin yang membeli helm tersebut, melainkan Rafael sendiri dengan alasan takut kena tilang. Betapa baiknya Rafael di mata orang tua Septin sendiri, karena setiap hari dan setiap pagi dia selalu menjemput puteri kecil nya, dan di kala sore Rafael juga yang mengantarkan pulang ke rumah nya dengan selamat.


Bunda Septin pun berdo'a agar puteri kecil nya berjodoh dengan Rafael, ''Ayah, Rafael selain ganteng dia juga sangat baik kepada puteri kita ya,'' Ucap sang Bunda memulai obrolan nya.


Pak A siarip yang mengerti akan maksud dari ucapan istri nya hanya mengangguk dan berkata, ''Kita do'akan saja yang terbaik untuk puteri kecil kita, lagian nich Bun terserah Septin mau menikah dengan siapa?'' jawab suami nya pelan, seraya menyesap kopi hitam nya yang di bikin oleh istri nya barusan.


''Bapak benar, jodoh tidak ada yang tau, tapi kita sebagai orang tua nya hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk anak anak kita,'' sela sang istri yang langsung di angguki Pak A siarip.


...****************...


''Pak, bagaimana kalau kita jodohin saja putera kita dengan puteri nya Pak A siarip.


''Apa mereka akan setuju dengan perjodohan ini Bu, sedangkan anak anak kita masih begitu kecil untuk di jodohin apalagi untuk di nikahkan,'' sahut sang suami.


''Kalau kita tidak mencoba nya, kita nggak akan pernah tau kalau kami senang dengan puteri kecil nya itu,'' sela sang istri yang tak lain adalah Ibu Rafael.


''Kalau mereka menolak, kita juga yang akan menanggung malu Bu, coba kita tanya dulu sama putera kita nanti,'' tukas sang suami yang di angguki istri nya.

__ADS_1


Sedangkan di sekolah Septin dan juga Rafael yang tengah di bicarakan oleh orang tua masing-masing tak henti hentinya bersin bersin di dalam kelas nya.


''Kenapa sich kalian berdua kompak banget dech, sampai sampai bersin aja kompak dan barengan gitu,'' seru salah satu teman nya yang berada tak jauh dari dia duduk.


''Nggak tau juga kenapa? mungkin ada yang ngomongin kita berdua kali ya,'' pikir Septin.


''Masak iya cuma di omongin orang di belakang saja bersin bersin seperti itu sich,'' sela Nurul dari depan bangku nya.


''Ya itu kan mungkin saja?'' sahut Septin mengucek hidung nya yang gatal.


''Jangan di kucek gitu Tin, tuh hidung kamu saja sudah memerah seperti itu,'' cegah Rafael memegang tangan Septin yang ingin mengucek kembali hidung nya.


''Ini sangat gatal Rafael?'' jawab Septin yang ingin melepaskan cekalan tangan Rafael.


''Sudah nggak usah di kucek lagi, atau kamu mau aku ikat kedua tangan kamu pakek tali,'' ancam Rafael membuat Septin terbelalak kaget dengan penuturan Rafael barusan.


''Cieeee--- lebih baik kalian pacaran saja, cocok tuh?'' ledek Nurul seraya bertepuk tangan riuh.


''Bukan nya Septin pacaran sama kakak kelas kita ya,'' sela salah satu teman nya.


Septin mengerutkan kening nya mendengar pacar kakak kelas nya, ''Jangan sembarangan kalau ngomong? nanti ada yang salah faham sama aku riweh urusan nya,'' celetuk Septin melihat teman nya yang sedang menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.

__ADS_1


''Kan aku dengar nya seperti itu tadi Septin, banyak kok yang bilang kalau kamu tengah berpacaran dengan kakak kelas sekarang?'' sambung yang lain, mereka juga sempat mendengar salah seorang mengucapkan kalau Septin adalah pacar dari kakak kelas nya. Rafael hanya menjadi pendengar yang baik, karena dia juga baru saja mendengar pernyata'an tersebut bahwa Septin di klaim sebagai pacar kakak kelas nya.


__ADS_2