
Septin mengikuti langkah Rafael dari belakang nya, karena Septin tidak pernah berbelanja di sebuah Mall besar seperti ini, jadi Septin hanya menjadi pengikut yang baik bagi calon suami nya, sesekali Rafael menoleh ke belakang sembari menghentikan langkah nya sejenak, agar Septin bisa berjalan sejajar di samping nya, tapi Septin tidak mau dan malah mendorong Rafael untuk berjalan di depan nya.
''Ayolah di samping ku sayang?'' goda nya, membuat si empu menjadi lemas tak berdaya mendengar kata sayang yang keluar dari mulut calon suami nya tersebut.
''Aku di belakang saja, kamu kan yang tau jalan lebih di depan?'' jawab nya yang juga menghentikan langkah nya.
''Kamu itu calon istri ku atau calon bodyguard ku sich Tin?'' Ucap nya dengan dengusan halus.
''Ya tapi aku kan nggak tau jalan Rafa, jadi lebih baik aku di belakang saja lebih enak mengikuti mu gitu,'' jawab nya tak mau kalah dari Rafael.
''Ya sudah sekarang kita ke toko yang di depan itu, dan aku mau kamu berjalan di sampingku tanpa ada bantahan lagi oke,'' gumam pelan seraya menarik lengan Septin untuk berjalan di sisi kiri nya.
Septin hanya mengikuti kemauan dari Rafael, dan benar saja mereka sekarang sedang menuju toko mas, untuk mengambil cincin yang sudah di pesan oleh Bunda nya Rafael di sana.
''Mas Rafael?'' tanya penjaga toko yang langsung di angguki Rafael.
''Iya mbak saya Rafael, dan saya ke sini untuk mengambil pesanan Bunda yang kemarin,'' jawab Rafael dengan jelas.
''Tunggu sebentar, akan saya ambilkan dulu,'' sahut nya dan berlalu ke belakang guna mengambil cincin yang sudah di taruh di tempat lain, agar barang tersebut tidak tertukar dengan barang lain nya.
Septin hanya menjadi pendengar yang baik dan juga menjadi penyimak yang baik, karena dia tidak tau harus berkata apa di dalam toko itu, setelah kedatangan pelayanan toko dia menyerah dua buah cincin yang sangat bagus dan juga elegan di mata Septin.
''Gimana pilihan Bunda bagus nggak?'' tanya Rafael kepada Septin.
''Bagus banget, memang nya ini nggak terlalu mencolok ya, dan bahkan terlalu mewah buat ku Rafa,'' balas Septin pelan, dia menundukkan kepala nya karena menurut dia ini sangat berlebihan, sedangkan mereka berdua masih harus sekolah juga.
__ADS_1
''Ini sudah pilihan Bunda Tin, jadi aku nggak bisa berbuat apa apa lagi. Tapi kalau boleh tau kamu pengen cincin yang mana?'' tanya Rafael menyuruh Septin memilih cincin lagi, yang menurut dia pas untuk Septin.
''Sudah nggak usah Fa, ayo keluar dari sini kalau sudah,'' ajak nya dan tak mengindahkan ucapan Rafael, yang menyuruh dia memilih cincin lagi.
''Tunggu sebentar Septin? ini saja belum bayar,'' tukas nya memperlihatkan kartu black card masih ada di tangan nya.
Septin mendesah pelan melihat Rafael yang begitu antusias selama berbelanja yang ada di dalam catatan itu. Tapi yang bikin Septin kaget adalah tiba-tiba Rafael mengalungkan sebuah berlian di leher jenjang nya, membuat Septin hanya bisa ternganga melihat kalung yang sudah melingkar di lehernya.
''Rafa, apa ini?'' tanya Septin memegang kalung yang sudah melingkar di leher nya.
''Kamu sangat cantik dengan ini Tin, aku sangat suka ini,'' Ucap Rafael kepada penjaga toko yang melayani nya.
Septin yang masih terkejut dengan kejutan Rafael masih menatap nya dengan rasa penasaran yang semakin tinggi, 'Kapan Rafael ambil kalung ini dan kapan dia yang memakai kan ini di leherku juga,' gumam Septin masih memegang lehernya.
''Ayo,'' ajak Rafael menggandeng tangan Septin keluar dari toko perhiasan tersebut.
''Kamu sudah ingin pulang?'' tanya Rafael yang melihat calon istri nya merasa ada yang anech. 'Apa dia marah sama aku karena kalung ini,' pikir Rafael yang kini menghentikan langkah nya dan menghadap ke arah Septin yang ada di samping nya, tak lupa juga Rafael mengangkat dagu Septin? agar Septin bisa menatap wajah nya.
''Kamu ingin pulang sekarang?'' tanya Rafael lagi dengan lembut, membuat Septin menatap wajah laki-laki yang akan menjadi suami nya.
''Bukan itu maksud aku Fa, tapi-- aku lapar?'' jawab Septin yang kembali menundukkan kepadanya.
Rafael menepuk jidad nya pelan karena dia baru menyadari, mereka belum makan malam? pantas saja Septin sudah merasa lapar dan pasti sudah sangat lapar sekarang, jam yang melingkar di lengan nya saja sudah menunjukkan pukul 7:30, kok bisa aku lupa sich? saking asik berbelanja dengan calon istri, sampai sampai aku mengabaikan dia yang belum makan malam, pikir Rafael.
Rafael mengajak Septin ke sebuah restoran yang ada di dalam Mall tersebut, lalu dia memesan beberapa menu kesuka'an Septin dan juga dirinya tanpa mau bertanya lagi kepada calon istri nya itu.
__ADS_1
Tak harus menunggu lama kini pesanan mereka sudah di antar oleh pramusaji di restoran tersebut.
''Permisi mbak, Mas?'' ucap nya dengan ramah dan juga sopan. ''Selamat menikmati hidangan nya? dan semoga Mbak dan Mas suka,'' ucap nya lagi sebelum dia benar benar pergi dari hadapan nya.
Septin mengangguk dan mengulas senyum seraya berkata, ''Terima kasih Mbak,'' suara Septin begitu enak saat di dengar ketika dia berkata dengan pramusaji barusan, tidak seperti ketika dia sedang mengobrol dengan Rafael yang kadang kala ada nada keras dan juga lengkingan. Suara Septin barusan membuat bulu kuduk Rafael berdiri ketika mendengar nya, entah rasa apa yang tengah Rafael rasakan saat ini, hanya mendengar suara nya saja sudah ada rasa gelenyar yang menjalar di setiap tubuh nya.
''Kok ngelamun?'' tegur Septin ketika melihat Rafael tengah bengong di depan nya.
''Enggak kok, aku hanya sedang natap wajah wanita yang sangat aku cintai saja, betapa cantik nya dia malam ini dengan kalung di leher nya,'' gumam Rafael membuat Septin memgang kembali ke arah leher yang kini ada kalung yang melingkar di sana dengan cantik. Pasti kalau teman sekelas nya melihat ini semua pasti akan merasa iri kepada Septin, namun ketika dia di sekolah kan mengenakan hijab? jadi tidak akan terlihat begitu jelas dengan apa yang biasa kenakan sekarang di leher nya.
''Rafa, lebih baik ini di buka saja ya, aku takut memakai ini? apalagi ini pasti mahal banget kan,'' balas nya dan ingin membuka kalung yang ada di leher saat ini. Rafael segera mencegah Septin membuka kalung nya, Rafael memegang lengan Septin yang sudah terulur di leher jenjang nya.
''Sudah, kamu pakai saja. Aku sangat senang bisa membelikan ini untuk orang yang akan menjadi istri ku, karena asal kamu tau saja Tin? aku sudah sangat lama menabung uang ini untuk membelikan perhiasan kepada istri ku kelak, dan aku tidak menyangka sama sekali kalau aku akan secepat ini mendapatkan jodoh dan akan segera menikah, yang membuat aku masih tidak percaya adalah wanita yang di pilihkan oleh Allah SWT itu ternyata adalah kamu, sahabat ku sendiri.'' Ucap Rafael panjang lebar.
''Septin?'' panggil nya lagi.
''Hmm,'' hanya deheman sebagai jawaban dari panggilan Rafael, karena saat ini mulut Septin tengah penuh dengan makanan yang baru ia masukkan.
''Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sangat mencintai mu Tin? bahkan sejak dulu aku sudah memiliki perasa'an itu ke kamu, tapi aku tidak bisa mengutarakan isi hatiku kepada kamu karena aku takut itu akan merusak persahabatan kita yang sudah tetjalin selama beberapa tahun ini, makanya ketika aku melihat orang tuaku ada di rumah kamu malam itu, dan mendengar langsung kalau dia melamar kamu untuk ku? aku sangat bahagia dan bahkan aku langsung mengiyakan saja ucapan Ayah,'' terang nya dengan gamblang, kini hati Rafael terasa sangat plong ketika sudah mengutarakan semua isi hati nya yang selama ini ia pendam sendiri.
Sedangkan Septin terperanjat kaget dengan kejujuran yang di katakan oleh Rafael, dia dengan terang terangan mengutarakan isi hati nya di sini dengan gamblang, membuat Septin tak bisa berkata kata, bahkan dia tadi sempat tersedak akibat kaget dengan ucapan calon suami nya yang lain adalah sahabat baik nya.
''Apa kamu marah sekarang Septin,'' tanya Rafael lirih, karena melihat wajah Septin yang sudah berubah tidak seperti tadi, kini wajah Septin seperti orang bingung, bingung mau bilang apa dan juga bingung mau senang atau mau bersedih mendengar pengajian Rafael tadi.
''Haa-- a-aku nggak marah kok Rafael, aku hanya tidak percaya saja sama kamu, kenapa selama ini menaruh hati kepada ku. Bahkan disekolah banyak wanita yang cantik dan juga menarik di sana, kenapa malah punya perasa'an itu kepadaku yang hanya wanita jelek ini,'' balas nya dengan santai, Septin melanjutkan makan makanan nya agar dia tidak terlihat begitu monoton di depan Rafael.
__ADS_1
''Sudah, nggak usah bahas itu lagi? sekarang kita cepat habiskan makanan ini dan kembali melanjutkan membeli barang yang masih beberapa yang belum kita beli,'' Ucap Septin mengalihkan pembicara'an nya, membuat Rafael menyunggingkan senyum tipis di sana. 'Saya kira Septin akan marah kepadaku, karena aku yang sudah berterus terang dengan isi hatiku selama ini, tapi nyatanya dia tidak marah bahkan dia juga ingin mengalihkan obrolan nya dengan alasan belanja nya yang belum kelar, aku cukup kagum padamu Septin, wanita lain sibuk memilih barang branded ketika dia ajak belanja ke Mall, sedangkan kamu hanya menjadi pengikut yang setia dan tanpa mau meminta barang lain seperti hal nya gadis gadis di luaran sana, pikir Rafael menatap Septin intens.
ecara