
''Maaf Bunda, Ayah kalau sudah membuat kalian berdua khawatir kepada kami berdua, tapi kami tidak bermaksud berbuat seperti itu, itu semua tanpa kami ketahui dan juga karena kami berdua berangkat ke rumah Mbak Lela sudah mulai sore hari jadi kami sampai di sana sesudah Isya,'' terang Rafael yang merasa tak enak hati kepada kedua mertuanya.
''Sudah, jangan di pikirkan lagi masalah itu, lebih baik kamu dan Septin makan siang di dalam? Bunda sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua,'' sahut sang Bunda mengalihkan ucapan Rafael yang akan membuat dia semakin bersalah sama mereka berdua.
''Masak apa siang ini Bunda? kebetulan sekali aku sudah lapar banget, padahal tadi belum sampai rumah sudah makan bakso di tempat biasa Septin nongki,'' Ujar Septin membuat sang Bunda melongo tak percaya dengan ucapan puteri nya.
''Swharus nya kamu melakukan diet sebelum nikah, entar yang ada yang kamu malah melar sebelum punya anak,'' balas sang Bunda yang mengikuti Rafael dan juga Septin ke meja makan.
''Biarin sajalah melar, toh yang ada orang mengita kalau aku sangat bahagia, padahal kebalikan nya,'' jawab nya santai, Rafael melongo tak percya dengan ucapan calon istri nya.
''Kok kamu bilang seperti itu, memang nya apa yang bikin menjadi beban buat kamu, kan kamu hanya tinggal jalani saja? tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun di dalam pernikahan ini,'' sela sang Bunda mengangkat alis nya ke atas.
''Ya kan? sebentar lagi Septin akan mengikuti ujian sekolah Bunda, tapi Septin sudah mau menikah saja sekarang, pusing kan mikir nya. Tugas sekolah dan juga tugas sebagai seorang istri,'' celetuk nya yang kini tengah menyendok nasi dan meletakkan ke atas piring Rafael.
''mau lauk apa?'' tanya Septin tiba tiba.
''Telur sajalah,'' jawab Rafael tanpa melihat isi yang ada di atas meja, di sana ada beberapa macam lauk, dan Rafael malah memilih lauk telur saja.
__ADS_1
''Memang nya nggak bosen dengan telur terus, dari kemari makan nya dengan telur, di rumah mbak Lela ambil telur walau nada ikan yang lain nya, tadi pagi juga lauk telur dan sekarang juga telur? awas bisulan kebanyakan makan telur,'' jawab Septin tanpa menatap wajah Rafael yang sudah mengerutkan kening nya, dan mengangkat kedua bahunya di saat sang mertua bertanya dengan kode mata nya.
''Kalau gitu jangan telur, ikan juga boleh dech,'' sahut Rafael membuat Septin menoleh ke arah nya, Rafael menampakkan deretan gigi putih nya dan dengan dua jari yang dibentuk huruf v.
''Lain kali jangan makan telur lagi, bisa bisa bisulan dan aku akan membuat kamu kapok dengan bisul mu itu,'' lanjut nya lagi membuat Rafael bergidik ngeri mendengar nya.
''Nggak usah berdebat terus, kalau kalian hanya berdebat dan kamu Septin terus mengomel? yang ada Rafael akan mati karena kelaparan menunggu nasi yang kamu ambilin,'' Ujar sang Bunda yang melihat dengan jelas, kalau puteri nya tengah mengomel di depan calon suami nya. ''Jangan galak galak jadi istri, nanti suami kabur kamu malah menyesal!'' sambung nya lagi, membuat Septin tersenyum jahat kepada sang Bunda.
''Baguslah kalau kabur, mending kabur dari sekarang saja kan enak tuh?'' jawab nya santai, sulit memang berdebat dengan seseorang yang cerdik, semua pertanya'an pasti ada saja jawaban nya, yang akan membuat orang itu bertambah down.
''Nak Rafa, jangan dengerin uvapan Septin yang barusan, bisa bisa migran kalau sampai memikirkan ucapan dia yang sembrono,'' sela sang Bunda yang di angguki oleh Rafael.
'Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan kamu Tin, itu janjiku? aku akan selalu menjaga kamu dengan segenap jiwa dan raga, selama nafas masih bersatu dengan raga, pasti aku dengan suka rela menjaga mu,' gumam Rafael dalam hati.
Rafael mulai menyuapkan makanan nya ke dalam mulut nya dan dia juga sesekali melirik ke arah Septin yang tengah makan dengan sangat lahap, Septin tidak pernah merasa malu dengan sikap nya yang sekarang, dia memang seperti itu sejak dulu di hadapan Rafael, namun meski Septin makan dengan porsi besar tak membuat badan Septin menjadi gendut atau pun sedikit berisi, berat badan dia masih berada di atas normal, nggak kurus dan juga nggak gemuk, yang 'sedang sedang saja,' pikir nya.
''Sudah jangan lihatin aku seperti itu lagi, itu akan membuat biji mata kamu keluar nanti nya, hanya gara-gara melihat aku yang makan banyak? makanya aku bingung? bagaimana setelah menikah nanti dan aku harus ikut ke rumah kamu, apa Bunda kamu tidak akan marah dan juga menyesal punya menantu seperti aku yang banyak makan dan juga nggak bisa ngapa ngapain juga, aku hanya bisa mengusir setan dan semacam nya,'' Ujar Rafael yang ketahuan curi curi pandang kepada Septin.
__ADS_1
''Jangan berpikiran yang macam macam dech, kalau memang kamu nggak suka tinggal di rumah Bunda ku, kita bisa tinggal sendiri di apartemen ku kok,'' sela Rafael membuat Septin menaikkan satu alis nya mendengar kata apartemen.
''Memang nya kamu punya apartemen?'' tanya nya menghentikan suapan nya, ya menurut ratau itu adalah suapan terakhir nya, karena Septin sudah bersendawa karena mungkin sudah terlalu kenyang.
''Ya adalah Tin, kalau memang tidak ada? aku tidak akan bilang ada Septin,'' jawab Rafael dengan gemas.
''Yang sudah kamu cepat makan dan segera pulang sanah, pasti Bunda dan ayah kamu juga sedang khawatir karena kamu sejak kemarin tidak pulang,'' balas Septin yang tak ingin memperpanjang obrolan nya, dia memang sudah mengetahui apartemen Rafael, karena sering mendengar teman teman sekelas nya yang bilang kalau apartemen Rafael sangat mewah dan juga bagus, tapi selama itu juga Septin tidak pernah menggubris ucapan ucapan yang di lontarkan oleh semua teman teman nya, apalagi untuk bertanya langsung kepada Rafael sendiri, bodoh amat lah? itu juga bukan milik nya dan juga bukan hak nya dia juga.
''Sekarang kamu malah mengusir aku Tin?'' gumam nya lirih dengan nada sesedih mungkin.
''Bukan nya mengusir, lebih tepat nya menyuruh untuk pulang, aku juga capek ingin beristirahat di dalam kamar? kalau ada kamu di sini, yang ada Bunda akan menyuruh aku untuk menemani kamu di sini, dan otomatis aku nggak bisa beristirahat dong Fa?'' terang Septin dan itu di benarkan oleh Rafael sendiri, jadi Rafael akan pulang setelah selesai dengan makanan nya.
''Aku harap kamu mengerti Fa, aku bukan ngusir kamu, tapi aku hanya capek dengan perjalanan jauh ku,'' keluh nya, agar Rafael tidak salah kaprah menilai Septin.
''Iya, setelah makan aku akan pamitan dengan Bunda dan juga Ayah, tapi aku mau tanya sama kamu? kapan kamu bisa pergi ke Mall untuk membeli perlengkapan acara lamaran kita sekaligus akad nikah kita juga, aku hanya ingin memastikan nya saja kok? aku tidak akan memaksa kamu. Kalau kamu masih capek dan butuh istirahat mungkin besok atau aku akan menyuruh Bunda saja untuk membeli nya,'' tanya nya dengan berbagai macam pertanya'an.
''Kalau kamu menyuruh Bunda kamu yang beli, itu yang ada malah nggak sopan tau nggak Fa, bagaimana kalau nanti malam saja dech, aku pastikan akan menunggu kamu di sini,'' jawab Septin lalu membereskan tempat makan nya, dan juga membawa sisa makanan ke dapur, sedangkan Rafael sudah menghadap mertua laki-laki dan mertua perempuan nya, untuk berpamitan pulang ke rumah nya.
__ADS_1
''Baiklah hati hati nak Rafa,'' Ucap Ayah Septin dengan nada lembut nya.
Rafa mengangguk seraya mengulurkan tangan nya, untuk mencium punggung tangan Bunda dan juga Ayah Septin yang tak lain adalah mertuanya.