Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 56 Keluarga baru, kebahagian baru


__ADS_3

Septin sedikit kesulitan untuk membuka baju dan juga konde yang ada di kepala nya, dan untung saja kakak ipar Lela datang, dia menghampiri Di kamar nya setelah bertanya kepada sang Bunda letak kamar Septin.


''Butuh bantuan?'' tanya kakak ipar Lela yang biasa di panggil Sifa itu.


''Kakak, kenapa kakak kesini,'' tanya Septin mengangkat satu alis nya.


''Butuh bantuan nggak?'' tanya Sifa lagi kepada Septin.


''Memang nya tidak merepotkan kak?'' tanya Septin merasa tak enaknya tidur dengan Sifa.


''Sama sekali nggak kok, sini aku bantuin buka,'' Ucap nya yang langsung mendekat ke arah Septin yang sedang berdiri di depan cermin di dalam kamar nya.


Sifa membantu Septin untuk membuka semua nya yang ada di badan nya, Septin yang malu hanya bisa menutupi tubuh nya yang hanya mengenakan baju tengtop dan juga celana pendek selutut.


''Nggak usah malu seperti itu, bagaimana pun aku juga sudah menjadi kakak kamu sekarang, kamu adalah pengganti Lela yanhnsidah hidup tenang di surga nya Allah,'' kata Sifa dengan tulus.


''Terima kasih kak? tapi apa kakak tidak di repotkan oleh Septin sekarang, harus nya kakak sedang makan di luar bersama Ibu dan yang lain nya, ech kak Sifa malah bantuin Septin di sini,'' gumam nya pelan.


''Sudah, sekarang kamu tinggal cuci muka saja, kalaupun tidak mau cuci muka juga tidak apa apa kok?'' Ucap Sifa lagi dengan memgulas senyuman nya.


''Septin cuci muka dulu dech, kak Sifa bisa istirahat di kamar Septin,'' ucap nya dengan masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa satu set baju yang sudah ia ambil di dalam lemari nya.


Sifa melihat lihat di sekeliling kamar Septin yang sangat bersih dan semua barang barang nya juga tertata sangat rapi di dalam nya, terlihat ada beberapa catatan yang menempel di tembok kamar nya, di sana terdapat beberapa catatan dengan menyebutkan sudah bertemu dengan siapa saja, Sifa yang membaca catatan itu hanya ngeri dan kini bulu kuduk nya sudah berdiri, merasa ketakutan yang bersemayam di tubuh Sifa.

__ADS_1


''Kak Sifa kenapa?'' tanya Sepy tiba-tiba, Septin merasa heran melihat Sifa yang sedang memegang tubuh nya dengan cara memeluk sendiri.


''Kakak nggak apa apa kok, hanya saja merasa takut saja ketika membaca isi catatan yang menempel di tembok ini,'' jawab nya merasa tak enak hati kepada Septin karena sudah sangat lancang membaca isi catatan Septin tanpa ijin.


''Maaf Tin, bukan aku untuk membaca isi catatan kamu,'' Ucap nya merasa bersalah kepada Septin.


''Sudah nggak apa apa kok, itu cuma catatan ketika Septin sedang menghadapi makhluk halus lain nya, dan Septin juga minta maaf kalau sudah mengatai mbak Lela dengan sebutan hantu muka datar di sana, sey tidak sengaja karena Septin juga tidak tau akan menulis apa di sana, so Septin tidak tau namanya, lebih jelas nya sich belum menanyakan namanya.'' terang nya dengan memegang tangan Sifa yang sedikit bergetar.


''Nggak apa apa kok, memang kenyata'an seperti itu kok Tin, jadi kamu tidak bersalah,'' balas nya dengan membalas geggaman tangan Septin.


''Tapi sekarang wajah mbak Lela sudah tidak seperti kemarin kok kak, mungkin ibu dan juga Ayah sudah bisa mulai menerima keberada'an mbak Lela yang sudah tidak sama dengan kita, wajah Mbak Lela sedikit berbeda dari sebelum nya, wajah nya nampak bersinar dan senyuman di wajah nya sudah muali terlihat, dia sudah menyeramkan seperti kemarin saat Septin menemui Ibu dan juga Ayah di rumah,'' ujat Sepy panjang lebar menceritakan perbeda'an yang di alami oleh Lela si hantu muka datar.


''Rasanya aku ingin sekali melihat wajah Lela untuk yang terakhir kali nya, tapi apa bisa aku bertemu dengan adik ipar ku yang begitu baik dengan ku itu,'' jawab nya dengan suara parau, ada setitik air mata yang ada di pelupuk mata Sifa saat ini, karena dia belum pernah mengetahui jelas wajah terakhir dia untuk yang terakhir kalinya, saat Lela mengalami kecelaka'an Sifa sedang bekerja dan tidak tau tentang kecelaka'an yang di alami oleh adik iy nya.


''Kak Sifa bisa bertemu dengan mbak Lela nanti malam, jadi kakak dan yang lain nya tinggal saja di rumah Septin ya,'' kata Septin mencoba menghibur Sifa yang sudah meneteskan air mata nya.


''Kalau masalah itu biar Septin yang bicara kepada Ibu dan Ayah, kalau masalah suami kak Sifa lebih baik ngomong sendiri saja ya oke,'' sahut Septin memeluk Sifa yang tengah terisak dengan tangisan nya.


''Sudah jangan menahis lagi, nanti yang ada kak Sifa jelek lagi kalau menangis di sini,'' ledek Septin dan mentuwir hidung Sifa, kini kejailan Septin sudah datang kembali seperti menemukan mainan baru Septin memperlakukan layak nya boneka yang bisa di cubit dan di peluk oleh Septin.


''Ayo ach, kak Sifa pasti belum makan kan? ayo temani Sey makan dulu dan setelah itu Septin akan bicarakan kepada Ibu dan juga Ayah di luar, jangan sedih lagi dong, nanti di kira di tabok sama Septin lagi,'' sela Sepy mengusap air mata Sifa yang terus saja mengalir di kedua pipi nya.


Sifa mengulang senyum manis di kedua bibir nya, ''Kan kalau seperti ini sangat cantik dan juga anggun,'' lagi lagi Septin meledek Sifa yang masih berada di pelukan nya.

__ADS_1


Septin dan Sifa keluar dari kamar nya dan berjalan menuju keluar di mana keluarga nya sedang berkumpul di sana.


''Lama banget di dalam kamar Septin,'' Ujar kakak Lela kepada Sifa sang istri.


''Sifa masih bantuin Septin buat membuka baju dan beberapa yang menempel di atas kepalanya Mas, jadi lumayan lama dech,'' jawab nya dengan mengembangkan senyuman nya kepada sang suami yang tengah mengobrol dengan Rafael suami Septin.


''Ka Sifa kan belum makan, jadi Septin minta temenin sama kak Sifa saja makan nya, ayo kak Sifa makan dulu, habis itu kita ngobrol lagi,'' Ajak Sepy dengan merangkul Sifa layak nya seorang adik dengan kakak nya sendiri.


Orang Septin tersenyum melihat kedekatan Sifa dengan Septin yang notabene nya adalah orang luar, tanpa ada embel-embel saudara di depan nya.


''Mereka berdua terihat sangat akur, aku sangat senang melihat mereka berdua yang akur seperti itu Mbak,'' Ucap Bunda Septin kepada Ibu Lela.


''Iya Mbak, padahal mereka baru bertemu dua kali saja, tapi mereka terlihat sangat akrab, mungkin karena Sifa menantu ku itu sudah sangat dekat dengan Lela, jadi dia kalau di rumah merasakan kesepian sejak Lela meninggalkan kita semua,'' jawab nya dengan lirih.


''Mbak yang sabar ya, mungkin ini sudah takdir Lela, Allah lebih menyayangi Lela Mbak, dan Mbak juga harus ikhlas dengan kepergian Lela, karena kasihan dia yang tidak akan bisa menemukan tempat yang nyaman kalau kedua orang tuanya belum rela melepaskan puteri nya,'' kata Bunda Septin mengingatkan Ibu Lela.


''Iya Mbak, Septin juga bilang seperti itu tadi, dan dia juga bilang sekarang Lela lebih bersinar wajah nya, mungkin dia sudah bahagia juga karena kami berdua sudah mencoba mengikhlaskan nya,''


''Iya harus memang Mbak, siapa sich yang nggak sedih, ketika putera atau puteri kita pergi untuk selama nya, dan dia juga tidak akan pernah kembali lagi kepada kita, aku saja yang hanya di tinggal merantau sedih nya sudah tidak ketulungan, jadi Septin yang selalu mengingat kan aku ketika aku sudah merasa kehilangan, Septin biarpun umur dia masih baru 17 tahun tapi pikiran nya melebihi orang dewasa, jadi kalau kemarin ada salah kata kepada Mbak dan juga keluarga Mbak yang lain, saya minta maaf atas puteri saya,'' Ucap Bunda Septin dengan tulus.


''Tidak sama sekali, biarpun semua omongan nya ceplas-ceplos, tapi itu memang kenyata'an nya kok, berkata nasihat dari dia juga aku bisa berpikir, dan karena Septin juga? aku bisa melihat wajah datar puteri ku yang sudah tiada akibat kecelaka'an itu, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan puteri mu Mbak, selain dia cantik dia juga baik, makan dari itu kami datang kesini untuk menyambung silaturrahim dengan kedua orang tua Septin, karena kami sekeluarga sudah menganggap Septin seperti puteri ku sendiri, jadi kamin datang kematian hanya bermodalkan nekat saja, tanpa undangan dan juga tanpa pemberitahuan dulu,'' sahut nya membalas pegangan tangan Bunda Septin.


''Maafkan kami, kami sekeluarga memang tidak menyebar undangan, tadi yang datang semua nya adalah saudara saudara semua nya, karena kalian semua sudah tau alasan kami tidak menyebar undangan, karena Septin masih sekolah dan sebentar lagi dia akan ujian kelulusan juga,''

__ADS_1


Sudah nggak apa apa kok, aku juga sudah berjanji kepada Septin ketika dia datang ke rumah kemarin, akan datang ke acara pernikahan nya, jadi aku juga salah tidak mengabarkan Septin terlebih dahulu,'' sesal nya dengan menatap sendu wajah Bunda Septin.


''Sudah kita kan keluarga, jadi tidak usah berkata seperti itu lagi,'' jawab Bunda Septin mengulas senyum di bibir nya.


__ADS_2