Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 51 Perdebatan antara Bunda dan anak


__ADS_3

Hingga pukul sembilan malam mereka berdua baru sampai di rumah Rafael dengan barang belanja'an yang begitu banyak yang ada di dalam mobil nya.


''Kamu masuk dulu aja, biar ini aku yang bawa masuk ke dalam,'' gumam Rafael ketika melihat Septin mau ikut membantu membawa barang belanja'an nya.


''Biar aku bantu saja lah Fa, aku nggak enak? masuk ke dalam rumah sendirian sedangkan ku harus membawa semua nya sendirian, aku nggak mau,'' jawab nya panjang lebar.


''Ya sudah ku bawa yang enteng enteng saja,'' sela Rafael mengambilkan paperback untuk di bawa Septin masuk ke dalam rumah nya.


''Cuma ini saja,'' tanya Septin memandang wajah Rafael yang kini tengah mengejek nya.


''Nak? lebih baik kamu masuk saja gich, biar ini semua Ayah dan Rafael yang masukin ke dalam,'' Ucap Ayah Rafael tiba-tiba.


''Tuh kan? sudah Rafael bilangin suruh masuk saja kok Yah, tapi Septin malah tidak mau dan memaksa untuk ikut bantu bawa semua ini ke dalam rumah,'' jawab Rafael memberitahu kan Ayah nya, karena Septin sendiri yang meminta itu semua, pikir Rafael.


''Ayo sayang? itu semua pekerja'an para kaum laki-laki, wanita harus duduk manis dan menerima beres nya saja,'' tiba-tiba Bunda Rafael keluar dari rumah nya dan langsung menimpali ucapan Rafael putera nya.


''Tuh dengerin ucapan Bunda Tin?'' sambung Rafael yang kini sibuk menggotong barang barang yang ia beli di Mall tadi.


Septin sudah di bawa masuk oleh Bunda Rafael, dia juga di bikinin minuman oleh sang mertua sampai akhirnya sang nenek datang ikut bergabung dengan Bunda Rafael dan juga Septin di ruang tamu.


Septin yang menyadari kedatangan nenek nya Rafael segera bangun dan menyamnut tangan sang nenek, Septin mencium punggung tangan sang nenek dengan khidmat.


''Ini toh yang namanya Septin?'' tanya nya kemudian.

__ADS_1


''Iya nek? saya Septin,'' balas nya dengan sopan dan ramah.


''Cantik dan juga sopan, berarti Rafael tidak salah pilih calon istri,'' gumam nya pelan, namun masih terdengar oleh Septin, karena Septin duduk persis di samping nya.


''Terima kasih nek?'' jawab Septin dengan kemgulas senyum di bibir nya. Malam ini memang Septin tidak mengenakan hijab seperti pergi ke sekolah nya, Septin hanya pakek hijab kalau ada di lingkungan sekolah nya, mungkin setelah menikah dia akan menutup semua aurat nya dan mau memakai gamis serta hijab, sebagai wanita muslimah yang taat itulah hal selalu di inginkan sebagian para suami di rumah tangga nya.


Namun Rafael masih belum berpikiran akan menyuruh Septin untuk menutup aurat nya, dia akan terus menunggu Septin untuk memakai baju secara tertutup dengan sendiri nya, tanpa ada paksaan sama sekali dari diri nya maupun dari keluarga nya Rafael.


''Ayo sayang ndi minum teh nya, dan camilan nya juga di makan? itu bikinan Bunda sendiri lho,'' suruh nya seraya menyodorkan sepiring camilan kehadapan Septin, Septin hanya mengangguk dan mengambil piringnya yang berisi camilan, lalu mengambil dan menaruh nya kembali di atas meja kaca yang ndi lapisi kain di atas nya.


''Kok malah dintaruh lagi sich sayang?'' ucap nya dan ingin mengambil piring itu lagi, tapi Septin mencegah nya dengan cepat.


''Sudah Bunda, Septin bisa mengambil nya sendiri? dan ini Septin sudah mengambil nya kok Bunda,'' cegah nya seraya memegang tangan sang Bunda.


''Insya Allah nek? tapi di rumah Septin juga hanya Septin, jadi insya Allah Septin usahakan akan selalu bersikap adil, dan bolehkan Septin selalu menemui Bunda Septin di rumah,'' tanya. Septin dengan sangat hati hati. Karena dia takut menyinggung perasa'an Bunda dan juga nenek Rafael di depan nya.


''Tentu saja boleh sayang? Bunda tidak akan menghalangi kamu untuk bertemu dengan orang tua kalian kok, kamu bebas pergi ke sana kapan pun yang kamu mau, tapi Bunda harap kalau tidur? kalian tidur di rumah ini, kamu mau kan,'' tanya Bunda Rafael dengan mengelus punggung tangan Septin.


''Tapi Bunda?''


''Bunda sudah bicarakan ini dengan Bunda kamu sebelum nya, dan itu terserah sama kamu nya saja,'' potong nya membuat Septin bingung harus menjawab apa dengan pertanya'an Bunda mertua nya.


Setelah selesai memasukkan semua barang barang yang Rafael beli tadi, Ayah dan Rafael langsung bergabung dengan mereka bertiga.

__ADS_1


''Ngobrolin apaan sich, serius amat?'' tanya sang Ayah yang sudah duduk di depan istri nya.


Sedangkan Rafael membawa mimlnuman dingin untuk diri nya dan juga sang Ayah, mereka berdua terasa gerah di malam hari setelah mengangkat semua barang belanja'an nya.


''Kamu mau juga?'' tawar Rafael yang memang tau kalau calon istri nya itu sangat suka dengan minuman dingin, jadi Rafael menawari Septin tanpa rasa malu dengan keluarga nya yang sedari tadi menatap nya.


''Nggak usah terima kasih, Bunda sudah bikinin aku teh kok,'' tolak Septin dengan menunjukkan segelas teh hangat di depan nya.


''Bunda, Septin tidak terlalu suka dengan teh hangat,'' ujar Rafael menatap wajah Bunda nya, dia baru tau kalau menantu nya tidak suka teh hangat.


''Maaf Bunda nggak tau kalau menantu Bunda tidak suka teh hangat?'' sahut nya. dengan nada lirih nya.


''Nggak apa apa kok Bunda, Septin suka kok? Rafael saja yang sok tau tentang itu,'' balas nya merasa tak enak hati dengan Bunda mertua nya.


''Sudah jam sepuluh, sebaiknya kamu antarkan menantu Bunda pulang sekarang, agar tidak terlalu malam,'' titah nya, Rafael menganggukkan kepalanya paham, dan Rafael menyambar kunci motor nya yang ada di atas meja yang kebetulan ada di dekat nya.


''No Rafael, ini sudah sangat malam. Menantu Bunda akan kedinginan kalau kamu antarkan dia pakai motor, kamu pakai mobil saja lebih enak dan menantu Bunda juga nggak bakalan kedinginan,'' jelas sang Bunda yang membuat Septin melongo tidak percaya dengan perkata'an Bunda mertua nya.


''nggak apa apa kok Bunda pakek motor, kan Septin sudah terbiasa naik motor dari pada naik mobil,'' bela Septin, agar Rafael tidak terkena marah oleh Bunda nya.


Namun alih alih sang Bunda mendengarkan ucapan Septin, dia malah semakin gencar menyuruh Rafael untuk membawa mobilnya untuk mengantarkan Septin, Septin yang mendengar perdebatan kedua nya hanya bisa mendengus kesal, dan menerima dengan tangan terbuka juga karena sudah di antar oleh Rafael sampai ke rumah nya dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.


Rafael segera pamit pulang setelah sampai mengantarkan Septin ke rumah nya, orang tua Septin mengerti kalau Rafael tidak ingin mampir karena sudah sangat malam dan dia juga mengerti kalau bertamu malam malam akan membuat para tetangga tidak enak dan merasa tidak nyaman juga harus mengganggu kenyamanan para tetangga yang sedang beristirahat di rumah nya masing-masing, setelah seharian bekerja keras mencari nafkah untuk anak istri nya, bahkan mungkin untuk membantu meringankan kedua orang tuanya juga.

__ADS_1


kalau dia sudah


__ADS_2