Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 44 Histeris Ibu Lela


__ADS_3

''Siapa yang jadi hantu!'' seru seseorang dari luar rumah, orang tersebut yang tak lain adalah paman dari Lela itu sendiri.


''Ya ini si Lela?'' jawab Septin menunjukkan ke arah samping nya. Septin memang tidak pernah punya mrasa takut sama siapa saja, bahkan dia juga sudah terang terangan mengatakan kalau Lela menjadi hantu akibat kecelaka'an yang menimpa beberapa minggu lalu.


''Sayang, ku kok berbicara seperti itu sich, kita harus ngomong secara pelan pelan dengan keluarga Mbak Lela,'' bisik Rafael memegang lengan Septin calon istri nya.


''Aku kan ngomong yang sebenarnya Fa? mbak Lela sekarang ada di samping ku kok,'' sahut Septin yang tidak mau di salah kan.


''Maafkan tunangan saya Bu?'' Ucap Rafael kepada orang tua Lela.


''Nggak apa apa kok, apa yang di bilang tunangan kamu itu semua nya benar?'' tanya Ibu Lela dengan badan sedih nya, memikirkan kalau puteri nya menjadi hantu, dan itu akan menakut nakuti semua orang tentunya.


''Yang aku katakan semua fakta Bu, tapi maaf sebelum nya, kami datang ke sini karena perminta'an mbak Lela sendiri, agar mengatakan sesuatu sama Ibu dan juga Ayah nya,'' sahut Septin yang tak bisa berbohong lagi, kedatangan nya ke rumah Lela adalah memberi tahu yang sebenarnya kepada semua keluarga nya.


''Kamu pasti bohong kan? di daerah sinintidak ada yang bilang kalau Lela menjadi hantu atau semacam nya, tapi kamu hanya orang yang tidak kami kenal bilang kalau Lela menjadi hantu, bahkan dia kini sedang ada di samping kamu, apa aku bisa membuktikan semua nya dengan mata kepala ku sendiri,'' Ujar Paman Lela dengan meninggikan suara nya, karena dia tidak suka dengan ucapan Septin barusan mengenai ponakan nya yang sudah meninggal dunia.


''Bagaimana mbak Lela, apa kamu sudah siap di lihat oleh keluarga kamu yang tak mempercayai keberada'an kamu saat ini, dia memang tidak mengganggu orang orang di daerah sini, namun mbak Lela menangis di pinggir jalan raya tempat dia mengalami kecelaka'an kemarin, dan aku berkata jujur? aku tidak mengada ngada apa yang aku ucapkan semua nya dengan bukti, bukan hanya omong kosong semata,'' jawab Septin tak kalah kesal, ketika dirinya dia anggap hanya membual saja.


''Aku ingin bukti bukan omong kosong!'' sarkas nya masih dengan nada tinggi nya.


''Maaf Pak, anda bisa menekankan suara anda sedikit, agar semua orang tidak berkumpul di sini dan ini akan membuat berita yang lebih buruk lagi untuk Mbak Lela yang sudah meninggal,'' sela Rafael yang menengahi perkata'an dari Septin dan juga Paman Lela.


''Mbak Lela kamu siap di lihat oleh Paman kamu?'' tanya Septin lagi kepada Lela yang ada di samping nya.


-''Septin, apa ini tidak akan membuat semua orang takut melihat wajah ku yang seperti ini,'' jawab Lela yang ingin di lihat oleh semua orang yang berada di sini sekarang.

__ADS_1


''Kamu tidak akan terlihat sama semua orang, tapi ada sebagian dari orang orang ini yang akan melihat dengan jelas wajah mbak Lela yang seperti itu,'' kata Septin yang membuat semua orang melongo.


''Paman sudah siap bertemu dengan mbak Lela,'' tanya Septin menirukan ucapan Lela yang di katakan kepada nya.


Seorang Bapak Bapak, yang di panggil Paman pun mengangguk pasrah. ''Aku sudah siap dan buktikan sekarang juga, akun sudah tidak sabar bertemu dengan ponakan saya,'' ujar nya masih dengan nada tinggi nya.


''Baiklah, aku mohon kamu jangan menjerit atau semacam nya setelah mengetahui dengan jelas wajah ponakan kamu saat ini,'' balas Septin menatap tajam ke arah sang Paman.


Septin mulai memegang lengan seorang laki-laki yang sudah berusia lanjut, mungkin juga dia seumuran dengan Ayah nya saat ini, kemudian Septin mengusap mata sang Paman dan menyuruh nya untuk membuka mata nya secara perlahan, agar dia melihat wajah ponakan nya dengan jelas saat ini.


Laki-laki tersebut mengikuti saran yang ndi ucapkan oleh Septin, dia mengerjapkan matanya perlahan dan apa yang dia lihat saat ini adalah hal yang tak ingin dia lihat sebenarnya, wajah yang terlihat banyak noda merah dan juga wajah yang sangat rata, sehingga sang Paman menjerit dengan melafazkan istighfar yang keluar begitu saja dari bibir nya.


''Astaghfirullah hal adzim?'' ucap nya terperanjat kaget, bahkan tubuh nya mundur kebelakang dengan cepat.


''Ada apa sebenarnya?'' tanya Ibu Lela yang juga penasaran.


''Sebaiknya Mbak tidak melihat hal ini, Mbak tidak akan kuat melihat nya Mbak?'' Ucap nya pelan, tidak mengijinkan Septin untuk memperlihatkan wajah Lela yang sebenarnya.


''Kamu kenapa seperti ini nak? kenapa kamu masih ada di alam ini?'' tanya sang Paman mencoba berinteraksi dengan Lela ponakan nya yang sudah meninggal.


-''Paman? Lela hanya ingin bertemu dengan Ayah dan juga Ibu, Lela kangen dengan mereka berdua Paman, Lela juga ingin meminta maaf sama kalian semua,'' terang Lela dengan nada sedih nya, Lela kini tengah menangis melihat kondisi Ibu nya yang terlihat tidak sehat, dia terlihat tidak mempunyai tenaga lagi untuk berbicara walau hanya sepatah dua patah.


''Kami semua sudah memaafkan kamu kok nak? sekarang kamu tinggal lah di tempat mu dengan tenang?'' jawab sang Paman yang menutup matanya sekilas, nampak jelas ada butiran air mata yang mulai menetes dari kelopak mata nya.


''Ada apa dek?'' tanya Ayah Lela yang mulai penasaran dengan adik ipar nya yang tengah menitikkan air mata.

__ADS_1


''Lela datang ke sini hanya untuk meminta maaf sama kalian semua, apa kalian semua bisa memaafkan Lela? agar dia tidak lagi luntang lantung di dunia ini,'' jawab nya menatap Septin yang masih terlihat biasa di mata semua keluarga Lela.


''Mbak Lela juga akan menyampaikan sesuatu sama kalian semua, bahwa dia sempat menaruh sejumlah uang di jok motor nya, apa uang itu ada?'' tanya Septin tiba-tiba, membuat semua orang yang ada di sana saling melempar pandangan nya, karena merey sama sekali tidak menerima sejumlah uang tersebut.


''Kami tidak ada yang menerima uang, kami hanya di hubungi ketika Lela sudah ada di rumah sakit dan sedang di mandikan di dalam. Kami juga tidak tau dengan jelas wajah dan seluruh tubuh nya seperti apa saat itu, karena setelah dari rumah sakit jenazah Lela tidak pernah di buka lagi, dan itu langsung di makamkan waktu itu juga, aku hanya melihat wajah nya malam ini, dan itu membuat aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri,'' jawab sang Paman panjang lebar.


''Nak? Ibu mohon perlihatkan wajah Lela pada Ibu walau hanya sebentar, Ibu kangen dengan Lela, Ibu ingin melihat untuk yang terakhir kali nya,'' Ibu Lela memohon agar Septin juga memperlihatkan wajah puteri nya kepada nya untuk yang terakhir kali nya.


''Tapi, apa Ibu kuat melihat wajah Mba Lela sekarang, Ibu janji tidak akan history di saat aku memperlihatkan kepada Ibu, Ibu harus janji,'' kata Septin memegang pundak Ibu Lela yang sudah tetisak dengan tangis nya, dia mengangguk sebagai jawaban dari semoga yang di ucapkan oleh Septin barusan.


''Banyak baca istighfar Bu, do'akan Mbak Lela bahagia di alam baru nya,'' tambah Septin dan mengusap wajah Ibu Lela dengan pelan, Ibu Lela pun segey membuka mata nya setelah di usap tadi.


Ibu Lela yang sudah melihat wajah puteri nya langsung histeris, ''Ibu sudah janji tidak akan histeris seperti ini, kalau Ibu masih histeris seperti sekarang Septin tidak akan melanjutkan lagi, biar Ibu penasaran sampai kapan pun Septin tidak peduli lagi. Karena Ibu sudah melanggar janji yang sudah di buat barusan,'' Ucap Septin sedikit mengancam Ibu Lela.


Ibu Lela yang di ancam pun segera menghentikan tangisan nya hanya untuk tetap melihat wajah puteri nya yang sudah tidak berbentuk lagi, wajah yang semula cantik kini wajah itu hanya terlihat rata dan di penuhi noda merah di sekujur tubuh nya.


''Nak? kamu jangan memikirkan uang itu lagi, anggap saja uang itu tabungan buat kamu di jalan Allah, mulai sekarang Ibu dan Ayah sudah mengikhlaskan kepergian kamu nak?'' gumam sang Ibu dengan tangisan yang sudah tidak bisa di bendung lagi.


''Tuh dengerin, apa yang Ibu kamu bilang? makanya mulai hati ini dan seterusnya jangan ganggu kehidupan Septin lagi, aku juga punya urusan sendiri, kamu malah ingin terus terusan ada di samping Septin, kayak pawang hantu saja selalu di ikuti setiap hari,'' gerutu Septin kepada Lela yang kini tengah mengulas senyum nya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2