
Di suasana malam yang begitu indah, Septin dan Ayah nya duduk santai di halaman rumah nya, yang emang di letakkan kursi di sana, sehingga mereka berdua bisa menatap bintang dan juga bulan di malam ini.
Nampak bulan purnama di atas sana, dengan taburan bintang yang kerap kerlio menambah keindahan langit biru yang sangat luas?.
''Ayah, kenapa Septin bisa melakukan ini semua ya Yah? apa Septin sudah sejak dulu mempunyai mata batin dan bisa juga melihat makhluk tak kasat mata dengan mata kepala Septin sendiri,'' tanya Septin dengan polos nya, polos atau pura pura nggak tau saja sich Tin.
''Itu semua ilmu Mbah mu nak? Mbah mu mempercayakan ilmu itu kepada kamu, karena beliau sangat tau kalau kamu tidak pernah takut dengan hal hal ghoib dan hal lain nya.
Septin meneruskan kening nya masih tidak ngeh dengan ucapan sang Ayah, yang mengatakan kalau dirinya lah yang mendapatkan kepercaya'an.
''Maksud Ayah bagaimana, Septin belum mengerti,'' tanya Septin menatap sang Ayah dengan tatapan tak bisa di jabarkan dengan kata kata.
''Seperti hal nya kalung ini, kalung ini adalah milik kamu setelah Mbah mu memberikan kepada kamu ndok? tapi-- coba kamu perhatikan di dalam liontin ini dengan teliti dan juga baik, pasti kamu akan menemukan sesuatu di dalam sana, karena itu adalah milik kamu saat ini. Ketika Mbah mu memberikan kalung dan juga liontin ini, otomatis yang yang ada di dalam nya juga milik kamu, kamu berhak nyuruh mereka untuk melakukan hal yang bemacam macam, tapi Mbah kamu yakin, kalau kamu tidak akan melakukan perbuatan yang akan melanggar hukum dan juga di sana ada beberapa sanksi ketika melakukan hal baik kepada orang di depan nya.
__ADS_1
''Memang nya ada berapa mahluk di dalam liontin ini Ayah?'' tanya Septin yang sudah duduk di dekat sang Ayah.
''Mungkin ada dua di sana nak?'' jawab nya pelan. ''Ayah juga nggak tau pasti, yang Ayah ingat pernah lihat ada mahluk yang keluar dari liontin yang kamu pakek sekarang?'' tambah nya lagi, membuat Septin semakin penasaran dengan Ayah nya.
''Kalau boleh tau, ini semua Mbah dapatkan dari mana Yah, kok Mbah punya banyak pusaka dan juga barang ajaib? menurut Septin sich,'' tanya nya lagi.
''Ayah juga nggak tau pasti soal masalah itu ndok, yang Ayah tau Mbah mu sudah punya banyak barang itu, beliau bilang ada yang memburu barang tersebut,sampai sampai dia rela tidur di makam leluhur agar mendapatkan pusaka nya, dan ada juga yang datang sendiri hanya lewat dalam mimpi nya, bahkan keeson harinya barang yang ada di mimpi nya langsung ada di samping tempat tidur nya, itu yang Ayah pikirkan sampai saat ini,'' balas Pak A Siarip kepada puteri kecil nya .
''Ya sudah lah Ayah, kalau gitu Septin masuk ke dalam dulu Yah? mau istirahat, soalnya besok Septin masih harus menghampiri adik yang tadi itu,'' potong Septin ketika melihat wajah lelah sang Ayah. Ayah Septin hanya mengangguk pelan seraya ikut beranjak dari tempat duduk nya.
Sedangkan di dalam kamar, Septin sedang menatap langit langit kamar nya, dia masih memikirkan ucapan Bapak tua tadi di rumah adik kecil itu, yang tak lain adalah ponakan dari Guru yang mengajarkan di sekolah nya, Septin masih sangat tersinggung dengan perkataan yang menanyakan harga dari dia menyembuhkan orang. Sedangkan Septin tak memikirkan masalah itu sampai ke sana, dia hanya bisa tersenyum melihat orang yang biasa tolong juga merasa bahagia dengan nya, itu sudah cukup bagi Septin, pikir nya.
''Tapi kenapa orang orang selalu salah dalam menilai kebaikan yang aku tunjukkan kepada mereka semua, padahal aku ikhlas menolong nya? tapi apa yang aku dapat kan sekarang, pertanya'an bodoh yang mungkin tak ada di kamus ku,'' Gumam Septin mengingat kejadian tadi sore.
__ADS_1
''Sudah lah, lebih baik aku merebahkan tubuh lelah ku ini, dan mungkin besok aku akan mendatangi tempat kejadian kecelaka'an yang menurut semua orang-orang, dia menjadi hantu di tempat kejadian tersebut, aku harus memastikan nya sendiri, agar aku tidak mati karena rasa penasaran yang beberapa hari ini mengganggu pikiran ku,'' gumam Septin pelan, lalu diapun menarik selimut nya ke atas sampai dada nya, di pejamkan mata nya untuk berkeliling di alam mimpi nya, namun mimpi indah nya itu gagal, dalam mimpi nya Septin melihat sosok wanita cantik tengah menangis tersedu-sedu di pinggir jalan raya, Septin yang notabene nya nggak tega'an melihat orang sedih hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar.
''Maaf kak, kenapa kakak malam malam duduk di sini?'' tanya Septin menghentikan laju motor nya, padahal di alam nyata Septin tak bisa bawa motor namun di alam mimpi bisa mengendarai motor nya.
''Tolong aku kak, aku mau pulang? tapi aku tak menemukan jalan pulang,'' Ucap nya dengan nada lirih. Septin bingung dengan penuturan sangat wanita yang ada di samping nya saat ini.
''Maksud nya nggak menemukan jalan pulang itu bagaimana ya kak?'' tanya Septin yang masih belum mengerti dengan ucapan wanita di samping nya.
''Orang tua ku masih tidak menerima kalau aku sudah pergi, mereka belum mengikhlaskan aku untuk pulang kak? aku nggak tau harus bagaimana di sini, sedangkan aku di sini ketakutan setiap hati hanya sendirian saja, aku tak tau harus berbuat apa dengan keada'an ku sekarang,'' jelas wanita itu yang masih menangis.
Septin mengernyit kan dahinya, masih belum paham dengan kata pergi dan pulang, sampai akhirnya dia di kagetkan oleh kedatangan seorang Ibu Ibu setengah bayar di depan nya.
''Nak? kamu sedang apa di sini malam malam?'' tanya nya lembut, dan menatap ke arah Septin di depan nya, Ibu tersebut merasa aneh melihat Septin yang masih setia untuk terus duduk di samping wanita itu, hanya saja sekarang? tangisan wanita itu sudah mulai reda.
__ADS_1
''Maaf Bu, saya mengajak kakak ini mengobrol sebentar?'' jawab Septin menunjuk ke arah samping nya. Namun justru Ibu Ibu itu menatap nya dengan tatapan yang sulit di mengerti.
''Tak ada seorang pun di samping kamu bakal, lebih baik kamu pulang sekarang,'' balas nya, dan itu membuat Septin terperanjat kaget ketika melihat Ibu tua itu, ''Hanya mimpi,'' kata Septin.