
Septin dan juga Rafael sudah sampul di rumah ponakan Bu Maya, dia tengah mengambil mainan yang kemarin di janjikan akan di ganti oleh keluar adik kecil yang kerasukan itu.
Di sana sudah ada beberapa orang yang memang di minta tolong untuk membantu nya, pagar sudah siap tinggal di pasang di area ada makhluk tak kasat mata itu, dari pada melawan mending kita ngalah dan menghindari tempat itu untuk sementara waktu.
''Bagaimana persiapan nya Pak?'' tanya Septin setelah turun dari sepeda motor Rafael.
''Pagar nya sudah rampung neng, ini semua berkat Bapak Bapak yang membantu dari pagi tadi,'' jawab Ayah dari adik kecil itu.
''Alhamdulillah kalau begitu Pak? kita langsung ke sana saja sekarang bagaimana,'' ajak Septin agar dia juga cepat pulang ke rumah nya, Septin baru ingat kalau dia tidak meminta ijin kepada Ayah dan juga Bunda nya, tapi biarlah nanti Septin yang akan tanggung semua hukuman nya.
Para tetangga yang terdiri dari Bapak Bapak menggotong pagar yang sudah jadi ke belakang rumah Bapak tersebut, Septin yang berjalan di belakang nya mengarah ke semua arah untuk melihat masih adalah pekarangan rumah Bapak ini nyang di huni sosok halus itu, tapi Septin tak menemukan nya, dia hanya terus menatap ke arah sekitar nya untuk mengamati semua yang ada di sana.
''Di sini neng tempat nya?'' ujar Bapak tersebut tiba-tiba, Septin yang tengah memegang liontin nya di buat terkejut oleh ujaran Bapak tadi.
''Berhenti di sana,'' teriak Septin ketika menyadari di depan Bapak itu ada seorang anak kecil yang tengah bermain di sana.
''Pak, jangan melangkah lagi? sekarang lebih baik Bapak memundurkan kaki nya, soalnya di depan Bapak ada anak anak lagi main, takut nya Bapak kena injak dia dan orang tuanya akan marah lagi seperti kemarin,'' kata Septin berjalan menghampiri Bapak tersebut,lalu Septin juga menghampiri seorang anak kecil yang tengah bermain di depan nya.
__ADS_1
-''Adik kecil, di mana orang tua kamu sekarang,'' tanya Septin yang sudah berjongkok di hadapan Bapak Bapak itu.
Sedangkan Bapak Bapak yang lain sudah berbisik yang meremehkan penglihatan Septin saat ini. ''Mungkin dia saat ini tengah berhalusinasi dengan adanya seorang anak kecil di depan nya, mana ada anak kecil di depan sana, akun saja nggak melihat nya kok,'' bisik Bapak yang juga sering menyembuhkan seorang anak dari kerasukan makhluk atau semacam nya.
''Apa dia tengah membodohi kami semua di sini,'' sambung yang lain, dan masih banyak omongan omongan orang lain nya yang juga ikut meremehkan Septin.
''Kamu lihat semua orang itu, mereka tidak pernah bisa berterima kasih kepada kamu Septin, mereka semua sedang meremehkan kamu tapi kamu masih menolong anak anak mereka dari jangkauan makhluk di depan kamu ini,'' gumam makhluk tak kasat mata menunjuk ke semua orang yang ada di belakang nya, ya yang berbicara adalah makhluk yang kemarin masuk ke dalam tubuh anak kecil, setelah di panggil oleh seorang anak kecil tadi yang di tanyakan oleh Septin.
''Sudahlah Pak? aku tidak pernah menginginkan kata pujian dari mereka semua, yang penting Bapak di belakang aku saja tidak ikut meremehkan aku, lagian aku hanya ingin menolong adik itu dari kamu Pak, nggak lebih,'' tukas nya dengan senyuman yang meremehkan juga.
''Rafael, bisa bantu aku sekarang?'' Ujar Septin kepada sahabat nya yang berada tak jauh dari nya.
''Kamu bisa bantu aku untuk membungkam semua mulut orang orang yang sedang meremehkan aku sekarang?'' ujar nya tanpa mau menatap ke arah Rafael yang bahkan sekarang ada di samping nya.
Tangan Septin memegang salah satu tangan Rafael, dan satu lagi memegang liontin nya, sedangkan tangan Rafael yang sebelah nya memegang tangan Bapak Bapak itu, layak nya membuat rantai manusia agar semua nya bisa melihat dengan sosok yang ada di depan nya, mereka semua tidak ada yang mempercayai Septin, namun kali ini mereka semua mempercayai semua yang di lihat Septin saat sekarang ini.
Orang orang tadi yang sempat meremehkan Septin kini berbalik arah, mereka terkejut dengan keberanian Septin dan semua ucapan nya bisa di buktikan secara langsung, mereka semua merasa malu karena sudah meremehkan Septin tadi.
__ADS_1
''Sekarang Bapak bisa melihat sendiri kan, kalau aku berkata dengan adanya fakta, bukan karena halusinasi saja,'' seru Septin meremehkan semua orang yang ada di belakang nya.
''Lebih baik Bapak Bapak semua nya bisa pasang pagar ini di sini sampai di sana, aku juga tidak bisa berlama lama juga di sini, masih banyak hal yang harus aku selesaikan di tempat lain,'' tambah nya lagi, sembari bangun dari duduk nya. Mainan yang tadi ia pegang sudah berpindah tangan kepada sosok makhluk yang ada di depan nya, seorang anak kecil yang tadi nya bersedih kini dia kembali lagi mengembangkan senyuman manis nya, karena kini mainan yang sempat di rusak anak anak yang kemarin main, kini sudah di ganti dengan yang baru oleh orang tua anak kecil kemarin yang Ayah nya rasuki karena saking kesal nya kepada anak kecil itu.
Septin mengarahkan Bapak Bapak yang memasang pagar di sekeliling tersebut, ''Bapak harus ingat, anak Bapak tidak boleh melewati pagar ini dan anak Bapak juga tidak boleh melewati batas yang sudah di sepakati, kalaupun Bapak ini mau ambil bambu yang adandi depan, Bapak boleh bilang permisi terlebih dahulu agar anak anak Bapak ini tidak tertindih oleh bambu yang akan roboh dan mengenai anak kecil yang tengah bermain,'' Pesan Septin yang langsung di angguki oleh semua warga yang terdiri dari tetangga Bapak tersebut.
''Kalau begitu, Septin pamit pulang dulu karena masalah nya juga sudah selesai,'' gumam nya mengulas senyum manis di bibir nya, sedangkan yang biasa di panggil dukun itu hanya bisa merengut melihat wajah ceria Septin.
''Baiklah neng, Bapak sangat berterima kasih kepada Neng dan juga Aden?'' papar nya bahagia karena putera kecilnya sudah kembali seperti sedia kala.
''Iya Pak, kalau begitu aku akan mengingat kan Bapak Bapak semua agar tidak selalu meremehkan orang lain, apalagi sempat tidak mempercayai apa yang aku ucapkan sebelum nya, tidak apa kalian semua tidak percaya dengan ku, namun aku sungguh tidak mempedulikan itu semua. Aku di sini hanya menolong ponakan dari Guru saya makanya aku mau di ajak kemari selama dua hari ini, tapi yang perlu kalian ingat? aku bukan lah dukun yang tamak dengan uang, uang bisa di cari dengan bekerja, tapi bukan menipu tetangga nya!'' sarkas nya dan melangkah pergi begitu saja yang di ikuti oleh Rafael yang selalu jadi pengikut setia nya. Dan kenapa semua orang menganggap Septin berpacaran dengan kakak kelas nya, sedangkan dia sangat dekat dengan Rafael sahabat setia nya ini.
Selama jalan pulang hati Septin merasa sangat dingkol mendengar kalau tadi dia sempat di remehkan oleh semua orang, bahkan Bunda dan Ayah nya saja tidak pernah meremehkan dia sama sekali, hanya sekarang dia mendengar dengan telinganya sendiri kalau dia tengah di remehkan.
''Kita mampir di warung depan dulu ya Septin, wajah kamu nggak enak sama sekali ketika di pandang? nanti yang ada Bunda dan juga Ayah kamu mengira kalau aku sudah ngapa ngapain kamu lagi,'' seru Rafael membuyarkan lamunan Septin.
''Terserah kamu sajalah Fa, aku juga malas pulang dengan mimik wajah seperti sekarang ini, lagipula aku juga malu sama Ayah karena aku di remehkan begitu saja tadi sama orang orang yang usil atau bahkan dia itu kepada ku karena ilmu yang aku punya saat ini. Sungguh aku tidak menginginkan pujian dari semua orang Fa? tapi yang aku butuhkan hanyalah pengakuan dari mereka kalau aku bisa.
__ADS_1
''Iya aku juga ngerti kok, sudah jangan di pikirkan lagi omongan orang orang itu lagi, sekarang lebih baik kamu tersenyum dan kamu juga hutang penjelasan kepadaku tadi?'' balas nya menarik tangan Septin ke depan, sehingga tangan Septin melingkar di perut Rafael, layak nya seorang kekasih yang tengah di landa Asmara.
Mungkin saat ini Rafael sudah memiliki benih-benih cinta yang di tujukan oleh Septin, namun dia takut akan kejujuran nya kepada sahabat wanita nya. Rafael takut kalau dia di tolak oleh sahabat nya yang sudah 5 tahun selalu menemani nya kemanapun dia pergi. Bahkan sebagian orang orang menganggap Rafael adalah kekasih Septin karena hampir setiap hari dia selalu mengantar dan menjemput nya di pagi hari.