
Di rumah Septin sedang malas malasan, dia tidak tau harus ngapain sekarang, sedangkan di dalam rumah nya tengah banyak orang yang sedang membantu menyiapkan untuk acara lamaran serta akad nikah nya besok.
Para tetangga di mintai bantuan oleh Bunda nya, semua nya pada membantu dengan ikhlas. Memang kalau di sebuah desa sangat kental dengan adat seperti ini, saling tolong menolong satu sama lain nya.
Jadi orang tua Septin tidak harus mendatang kan chef handal dalam menyiapkan hidangan untuk para tamu besok, cukup para tetangga saja yang membantu nya, mulai dari kue, makanan dan juga minuman para tetangga yang menyiapkan semua nya, itulah guna punya tetangga banyak.
Tok tok tok
Pintu kamar Septin di ketik dari luar, dan tak lama kemudian nampak lah sang Bunda yang menampakkan kepala nya ke dalam kamar.
''Sayang, ada orang yang Bunda undang untuk menghiasi tangan kamu, kamu mau di hias di mana? di kamar atau di ruang tengah,'' tanya sang Bunda seraya menampakkan deretan gigi putih nya kepada Septin yang sedang tiduran.
''Di dalam kamar saja Bunda, kalau di luar Septin malu banyak orang yang nanti lihat,'' jawab nya dengan nada malas nya.
'.Ya sudah Bunda panggil dulu orang nya ya,'' sahut nya dan segera pergi dari kamar Septin, sang Bunda menghampiri wanita yang masih muda itu untuk membawa nya ke kamar puteri nya, mungkin wanita yang akan menghias tangan Septin beda 3 tahun dengan puteri nya tersebut.
''Neng kita langsung ke kamar nya saja kalau gitu,'' Ucap Bunda Septin yang kini tengah ada di samping wanita itu.
''Baik Bu, kenapa nggak di sini saja Bu,'' tanya sang wanita dengan rasa penasaran nya.
''Dia bilang malu kalau di sini yang banyak orang berlalu lalang,'' jawab Bunda Septin yang melangkah di depan wanita tersebut.
''Sayang ini mbak nya sudah di sini sekarang?'' Ucap nya dengan membuka pintu kamar Septin.
__ADS_1
''Masuklah Bunda?'' jawab Septin yang terlihat lesu itu.
''Kamu kok seperti itu sich Tin, kayak orang lagi sakit saja,'' celetuk sang Bunda yang kini sedang duduk di samping nya.
''Nggak tau nich Bunda, kepalaku terasa sakit sekali? ada apa ya,'' jawab Septin yang kininmalah menatap wajah sang Bunda.
''Kamu tunggu di sini saja, biar Bunda ambilin obat dulu ya, gawat kalau kamu sakit besok?'' kaya sang Bunda yang beranjak dari tempat nya, diapun keluar dari kamar Septin menuju ke ruang tengah, di mana kitak obat berada di sana, sang Bunda mengambilkan bebey macam obat sakit kepala dan juga vitamin yang akan ia berikan kepada puteri nya. Mungkin puteri nya sedang di landa kecemasan karena akan menjadi seorang istri di usia muda nya, pikir sang Bunda.
Sedangkan di kamar Septin sudah mulai di hias telapak tangan nya, sebenarnya nya tidak perlu di hias juga nggak apa apa, karena itu adalah sunnah jadi Bunda Septin mendatang kan seorang yang biasa menghias tangan yang akan menjadi pengantin.
''Mbak nya sudah nikah belum?'' tanya Septin memecah keheningan karena kedua nya tidak ada yang berkata sepatah katapun sejak tadi.
''Alhamdulillah sudah nikah dan juga sudah memiliki anak,'' jawab nya serata mengembangkan senyuman nya.
''Ya waktu itu aku nikah berusia 17 tahun, setelah lulus sekolah SMA. Jadi di umur yang sekarang ini sudah memiliki anak juga.'' jawab nya tanpa mengalihkan pandangan nya dari tangan Septin yang sedang ia hias.
''Kirain hanya Septin saja yang menikah di usia muda Mbak, makanya sekarang aku sangat takut dan deh degan juga dengan hari esok,'' gumam nya menatap telapak tangan nya yang masih di hias dengan henna yang berwarna putih tersebut. Karena menurut Septin lebih mecing saja dengan kebaya nya, yang juga berwarna putih.
''Kalian sedang ngobrolin apa sich, serius banget kayak nya,'' tanya sang Bunda yang sudah membawa nampan yang berisi minuman dan satu piring camilan di atas nya, ada obat juga di sana untuk Septin minum.
''Nggak ngobrol kok hanya cerita sedikit saja,'' kaya Septin yang langsung mendapatkan sentilan dari Bunda nya, karena jawaban yang di katakan oleh Septin barusan.
''Ngobrol dan cerita itu sama saja, kenapa harus bilang seperti itu, bikin Bunda kesal saja,'' Ucap nya yang kini menaruh nampan yang berisi minuman tersebut di atas meja yang berada tak jauh dari nya. Sang Bunda pun mengulurkan tangan nya kepada Septin, dia memberikan obat nya kepada puteri nya itu.
__ADS_1
''Ayo cepat di minum sekarang, setelah selesai di hias tangan nya segera beristirahat saja,'' titah nya memberikan obat dan juga segelas air kepada puteri nya.
''Ayo di minum dulu teh nya neng, nanti keburu dingin lagi,'' suruh Bunda Septin kepada wanita cantik itu.
''Tetiman kasih Bu?'' jawab nya dengan ramah dan sedikit senyuman yang selalu menghias di bibir merah nya, karena sebagai orang yang memang sering di undang untuk ke acara seperti ini, dia harus lebih banyak senyuman nya lagi, agar semakin banyak tersenyum para peminat untuk menghubungi dia semakin banyak juga pelanggan nya.
''Bagus nggak Bunda, Septin memilih warna putih agar terlihat lebih cantik di tangan Septin,'' tanya nya menampakkan telapak tangan yang sudah di hias separuh nya.
''Bagus kok, kalau bisa ada warna merah nya juga bagus kayak nya, tapi itu semua terserah kamu saja sich? kan Bunda hanya memberi beberapa saran saja,'' jawab nya yang masih terus menatap wajah puteri nya yang sebentar lagi akan menjadi istri Rafael, dan Septin juga akan langsung di boyong ke rumah nya.
Mengingat di rumah Rafael hanya ada dua orang saja yang menempati nya sekarang, ya sebenarnya Bunda sepy tidak tega dengan puteri nya yang belum bisa ngapa ngapain malah tinggal di rumah suami nya, sang Bunda masih berpikiran kalau keluarga dari calon suami nya itu adalah orang lain.
Tapi setelah mengingat kembali bahwa yang akan menjadi mertua nya Septin adalah Bunda dari Rafael, akhirnya sang Bunda pun merasa sangat lega dengan melepaskan puteri kecil nya besok untuk di bawa ke rumah mertua nya, yang notabene nya adalah keluarga Rafael yang terkenal dengan sikap ramah dan juha sangat penyayang kepada Septin menantu nya.
''Bunda, apa aku besok langsung ikut ke sana atau malah bermalam di sini dulu?'' tanya Septin kepada sang Bunda yang masih setia menemani nya di dalam kamar nya.
''Ya mungkin Rafael yang akan bermalam di sini, tapi mungkin hanya besok saja? setelah itu kamu yang akan ikut pulang Rafael dan akan menetap di sana untuk selama nya.
''Tapi Septin masih bisa menemui Bunda dan juga Ayah di sini kan? bagaimana kalau Sepuluh kangen dengan Ayah dan juga Bunda? selama ini Sepy tidak pernah tinggal jauh dengan Bunda, begitu juga dengan Ayah,'' Ucap Septin panjang lebar dengan nada lirih nya.
''Kamu tenang saja, bukan nya Bunda mertua kamu sudah mengatakan nya kepada kamu sebelum nya, kamu juga boleh tinggal di sini dan juga kamu boleh datang ke rumah ini kapan pun yang kamu mau, Bunda nggak larang kok?'' jawab nya membuat Septin tersenyum senang dengan penuturan dari Bunda nya.
Sampai akhirnya tangan yang di hias dengan henna selesai, pembicara'an antara Septin dengan sang Bunda mengarah seputar kepulangan Septin kerumah Rafael.
__ADS_1