
''Lagian kamu ngapain sich harus datang ke sana malam malam, bukan nya masih ada hati esok untuk datang ke sana,'' sang Ibu menegur Sifa dan juga putera nya.
''Kami berdua datang ke sana hanya untuk menelusuri saja sich Bu, apa benar uang orang bilang kalau adikku selalu menangis di tengah malam di tempat itu, tapi aku datang ke sana tidak mendengar suara tangisan sama sekali, sampai aku juga turun dan menghampiri pohon besar yang menurut orang sekitaran sana tempat adik,'' terang kakak Lela dengan mata yang sudah berkaca kaca, dia masih belum bisa melupakan hari terakhir dia kemarin, semalaman dia bermanja dan ingin tidur bersama dengan kakak ipar nya yakni Sifa.
''Sudah kakak tidak usah mendengar kan ucapan orang orang lagi, semenjak aku datang menghampiri mbak Lela ke sana, dia sudah tidak menangis lagi kok, hanya saja dia masih bersikap egois kepada Septin karena belum bisa menemui kalian di rumah nya, kan waktu itu Septin masih sibuk dengan urusan lain, dan masih mencari waktu yang pas juga untuk datang ke sana, karena kita masih sekolah dan rumah Ibu juga lumayan jauh dari sini, jadi kamu memutuskan 4 hari setelah datang menemui mbak Lela di sana, tapi apa? dia selalu meneror Septin kalau malam, dia juga kepo dengan urusan Septin yang membuat Septin menjadi kesal setengah mati,'' terang Septin yang membuat kakak Lela kini tertawa dengan penuturan Septin barusan. Dia tidak lagi merasa sedih ketika mendengar cerita dari Septin.
''Jadi sekarang adik tidak pernah menangis lagi di sana dek?'' tanya nya dengan satu tarikan nafas saja.
''Nggak usah seperti itu dech nanya nya Joni,'' terus Ibu nya yang mendengar pertanya'an dari putera nya membuat dia keselek karena saking fokus nya kepada putera semata wayang nya.
''Ya sudah, kita akan lihat Mbak Lela sekarang, tapi yang takut lebih baik skip saja, atau kembali ke kamar sekarang,'' Ujar Septin sedikit meledek sang Bunda yang memang penakut dengan hal mistis seperti hantu dan beberapa teman teman yang lain nya juga.
''Nyindir Bunda nich ceritanya,'' sahut nya dengan mengernyit kan alis nya ke atas.
''Ya Bunda kan penakut, jadi lebih baik masuk ke kamar saja dech, nanti pingsan di sini lagi,'' gumam nya dengan kekehan renyah nya. ''Ayah bawa Bunda masuk dech, jadi nggak apa apa kan kalau Ayah tidak melihat wajah Mbak Lela?'' tambah nya dengan meminta bantuan kepada Ayah nya agar membawa sang Bunda yang penakut ke dalam kamar nya, sebelum Septin memperlihatkan Lela ke semua orang yang sudah berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
Ayah Septin segera membawa istri nya ke dalam kamar, namun sebelum mereka pergi meninggalkan semua orang yang sedang menunggu momen momen menegangkan, Ayah Septin berpamitan terlebih dulu kepada mereka semua nya.
''Kalau gitu saya dan istri saya kembali ke kamar sekarang, maaf tidak bisa menemani kalian semua di sini,'' pamit nya dan beranjak dari duduk nya dengan menarik lengan istri nya yang masih ingin tetap berada di sana, namun lagi lagi Septin mengusir sang Bunda untuk segera masuk ke dalam kamar nya.
''Bunda? lebih baik Bunda masuk ke dalam kamar, dari pada Bunda kena mentak nanti,'' ucapy nya yang sudah bersiap siap untuk meminta bantuan kepada Allah agar bisa membantu keluarga Lela untuk bertemu dengan Lela yang sudah meninggal beberapa waktu lalu.
''Iya iya, Bunda masuk sekarang,'' jawab jua dan membuka pintu kamar nya, karena ruangan keluarga dekat dengan kamar sang Bunda.
Septin mulai memejamkan mata nya, seraya memegang tangan mereka secara bersama'an.
Lela mulai menampakan wajah nya di hadapan keluarga yang sangat ia sayangi, dia terlihat menangis menatap wajah keluarga nya satu persatu satu, Lela juga menutup mulut nya melihat wajah kakak nya yang begitu sedih, Lela sebelum nya mengira kalau sang kakak tidak akan pernah merasa sedih kalau dia pergi meninggalkan nya untuk selama nya, namun yang ia lihat malam ini sangat berbeda sekali, kakak nya begitu terpukul melihay kepergian adik nya yang tiba-tiba.
Joni sang kakak terkejut melihat penipuan dari adik nya yang tidak sama dengan dia masih hidup, walaupun wajah nya sudah lumayan kelihatan dan juga memancarkan sinar kebahagia'an karena sebagian keluarga nya sudah menerima dengan ikhlas atas kepergian Lela.
''Adik, kakak kangen dengan adik?'' gumam Joni dengan tangisa nya yang sudah tidak bisa di bendunh lagi, begitu juga dengan Sifa. Kedua nya memang baru kali ini bertemu dengan Lela, karena kemarin mereka berdua sedang bekerja sift malam.
__ADS_1
''Kak Sifa juga kangen sama kamu dek? adik tega ninggalin kakak sendirian di rumah?'' ucap nya lirih, mengingat adik ipar nya yang berpamitan untuk jalan jalan saja kepada dia, tapi nyatanya jalan jalan yang dia tempuh sangat lah jauh, dan itu semua membuat Sifa sangat menyesal selama ini karena dia juga mengijinkan adik ipt nya pergi jalan jalan sendirian.
-''Ini semua sudah takdir dari Allah kak, dan kita masih bisa bertemu kok, walau itu semua hanya di dalam mimpi saja, makanya kak Sifa cepat hamil dong? agar rumah kita menjadi rame dengan kehadiran seorang anak kecil,'' balas nya dengan mengulas senyum manis nya.
''Adik, tapi kakak sangat sayang sama kamu, sampai sekarang saja aku belum bisa melupakan kamu dek, aku ingin terus berkumpul dengan kamu untuk selama nya,'' kata Sifa dengan linangau air mata yang sudah membanjiri kedua pipi nya.
-''Lela juga ingin nya gitu kak, tapi sekarang kak Sifa tidak usah sedih lagi ya, kan sudah ada Septin yang akan selalu menghibur kak Sifa, dia orang nya kocak lho kak,'' gumam nya.
''Enak saja, emang nya aku pelawak apa,'' sahut Septin kesal mendengar kata kocak keluar dari bibir Lela.
-''Ya memang kamu kocak kok Tin, apalagi kamu pernah dengar sendiri kan? kalau kamu di bilang gila oleh beberapa orang,'' Lela malah meledek Septin dan membuat Septin semakin kesal di buat nya.
''Itu semua gara-gara kamu kali, kalau kamu nggak ngajak aku ngomong! aku ngu akan ngomong sendirian seperti yang di lihat orang orang lain nya, kamu tuh yang jadi biang kerok nya sehingga aku di anggap gila,'' tukas nya dengan kesal.
-''Kalau nggak salah ingat dia bilang seperti ini waktu itu?'' Lela menirukan kata kata orang yang pernah mengatakan Septin gila. ''Cantik cantik kok gendeng, sopo seng gelem karo wong gendeng, (cantik cantik kok gila, siapa yang mau dengan orang gila).'' Lela lagi lagi meledek Septin di depan keluarga nya membuat kakak ipar nya tersenyum.
__ADS_1
'Kamu masih sama seperti lela yang dulu dek, kamu juga masih cantik walau dengan wajah kamu yang sudah hancur seperti itu, tapi aku janji? mulai hati ini dan seterusnya aku akan belajar untuk ikhlas dengan kepergian kamu, dan aku yakin Ayah dan juga Ibu sudah sangat ikhlas dengan kepergian kamu, buktinya dia bersikap seperti biasa biasa saja. Tidak seperti kemarin sebelum bertemu dengan Septin,' batin Sifa yang menyunggingkan senyuman nya, dia menghapus sisa sisa air mata nya yang masih menempel di kedua pipi nya.