
Sedangkan di rumah Septin orang tua Rafael dan juga Ayah nya tengah membahas tentang acara lamaran, mereka sudah setuju kalau mereka akan menjodohkan kedua anak anak nya, bahkan orang tua Rafael mengajukan kalau mereka harus menikah siri agar tidak terkena fitnah dari semua para tetangga nya yang memang ratu dan juga pawang nya gosip.
''Bagaimana, kita sudah sepakat kalau acara lamaran anak anak kita di adakan minggu besok?'' ujar Ayah Rafael dengan antusias yang ingin segera memiliki menantu secantik dan sebaik Septin.
''Apa nggak terlalu cepat? kalau acara nya di lakukan minggu depan, apa sebaiknya kita adakan setelah dua minggu dari pertemuan ini, lagi pula kami harus menghubungi keluarga kami yang lain, dan juga harus mempersiapkan yang lain nya juga, apa itu bisa di lakukan selama satu minggu ini,'' jawab Bunda Septin yang bingung dengan perkataan dari calon besan nya.
''Sudah Mbak Yu jangan terlalu memeras otak untuk acara ini semua, kami sudah menyiapkan semua nya dengan baik, jadi kita hanya meyakinkan anak anak kita saja, agar mereka mau satu sama lain nya.
Tanpa di duga Rafael dan juga Septin sudah berada di halaman rumah nya, Rafael sengaja mematikan mesin motor nya sebelum masuk ke dalam halaman rumah sahabat nya, karena Rafael melihat ada dua mobil di depan rumah Septin.
Rafael mengira ada tamu penting di rumah Septin, namun setelah mereka mendekat dengan kedua mobil yang terparkir di halaman rumah Septin, Rafael memicingkan mata nya ketika melihat mobil tersebut adalah mobil Ayah dan juga Paman nya.
''Kenapa Rafa?'' tanya Septin melihat Rafael yang tengah bingung dengan menatap kedua mobil di depan nya.
''Ini mobil Ayah dan juga Paman ku Tin, sedang apa mereka di dalam timah kamu, ini tidak seperti biasanya kan? dan lagi, ini adalah kali pertama mereka datang ke rumah kamu?'' gumam Rafael memegang mobil Paman nya.
''Dari pada kamu memikirkan yang bukan bukan tentang mereka, lebih baik kita masuk ke dalam dan bertanya secara langsung kepada mereka semua,'' kata Septin mengusap bahu Rafael dengan sangat lembut, mengingat wajah sahabat nya sudah mulai pucat pasih.
__ADS_1
Septin menarik tangan Rafael untuk masuk ke dalam rumah nya dengan cara menarik tangan Rafael yang ia genggam, orang tua mereka pun swkua nya menoleh kepada pasangan yang baru saja datang, mereka semua mengembangkan senyuman nya melihat tangan Rafael yang masih di genggam oleh Septin.
''Ternyata kalian berdua seakur itu ya, jadi ua kita tenang tenang saja mulai hari ini,dan tak perlu memikirkan hal hal lain nya lagi, toh mereka sudah sangat mesra di depan kita semua,'' cerocos Bunda Rafael yang memang suka banget meledek putera bungsu nya itu.
''Bunda ngomong apa sich, aku saja tidak mengerti apa yang di ucapkan Bunda saat ini, apa yang Bunda dan yang lain nya datang ke sini?'' sahut Rafael yang masih tetap diam berdiri di ambang pintu dengan tangan masih di genggam oleh sahabat.
''Kita sudah melamarnya Rafa,dan seminggu lagi kalian akan bertuanangan dan juga nikah?'' sambung sang Paman menatap wajah datar Rafael di depan nya.
Rafael yang terkejut hanya membelalakkan matanya mendengar penuturan dari adik Ayah nya, ''Jangan omong kosong dech Paman, mana mungkin kita bisa menikah? sedangkan usia kami saja belum genap 17 tahun,'' sela Rafael menatap nanar ke arah sang Paman.
''Sudah lah, lebih baik kita duduk dulu, kita bicarakan ini semua dengan perlahan, dan dengan kepala dingin juga. Ayah dan juga yang lain nya datang ke rumah Ayah ingin melamar kamu dan menjadikan kamu sebagai menantu nya, Ayah juga sudah menyetujui itu semua, mengingat selama ini kamu selalu pergi bersama sama dengan Rafael, jadi kami kita kalian sudah menjalin hubungan lebih dari sahabat, Ayah juga senang melihat ketuluaan dari keluarga Rafael yang tiba-tiba datang bertamu untuk melamar kamu nak?'' kata Ayah Arya kepada puteri nya yang masih tetap diam membisu di samping Bunda nya.
''Bagaiamana nak? apa kamu setuju dengan semua yang Ayah katakan barusan?'' Ujar Ayah Arya meminta persetujuan dari puteri nya.
''Septin ngikut Ayah saja, kalau Ayah bahagia dengan acara pinangan ini Septin tidak bisa berbuat apa apa lagi selain menuruti sekia perkataan Ayah dan juga Bunda,'' gumam Septin menundukkan kepalanya.
''Rafael bagaimana?'' kini giliran Rafael yang mendapatkan pertanya'an dari Ayah nya juga.
__ADS_1
''Rafael juga nggak bisa menolak nya Yah, lagipula apa salah nya kalau kita berpasangan beneran di lingkungan sekolah dan juga di rumah,'' Ucap Rafael yang sedikit bercanda dengan keluarga nya.
Septin merutuki semua yang keluar dari mulut Rafael barusan, Septin semakin menundukkan kepala nya karena malu dengan perkata'an sahabat nya, yang sebentar lagi akan menjadi tunangan nya sekaligus suami tepat satu minggu dari hati ini, kini Rafael duduk tepat di hadapan nya. 'Kenapa Rafael bisa berkata sedemikian rupa di hadapan semua keluarga nya sich, apa dia tidak merasa malu dengan semua itu,' pikir Septin.
Sedangkan di dalam hati Rafael tengah berbunga bunga, mengingat gadis yang ia taksir dan juga ia sukai kini akan menjadi miliknya, lebih tepat nya seutuh nya akan menjadi milik nya untuk hari ini, besok, lusa dan sampai nafas terakhir nya.
''Semua nya sudah berjalan sesuai dengan rencana, jadi kita akan mempersiapkan semua nya mulai besok untuk acara lamaran putera dan puteri kami berdua'' Ujar Ayah Rafael dengan rasa bahagia nya, mengingat Septin yang begitu cantik akan menjadi menantu nya, dan akan selalu menemani hari hari putera nya, di kala suka maupun suka.
Rafael merasa sangat bahagia mengingat dia akan segera menikah dengan sahabat nya, tanpa harus berpacaran terlebih dulu namun mereka di minta untuk segera menikah, walau hanya menikah secara Agama terlebih dulu ytak mengurangi rasa bahagia nya.
Setelah kepergian keluarga Rafael dan juga Rafael sendiri tentunya membuat Septin menarik nafas panjang nya, dan menghembuskan secara perlahan, Bunda dan Ayah nya hanya menatap wajah puteri nya yang terlihat murung.
''Apa kamu terpaksa menerima lamaran dari keluarga Rafael nak?'' tanya sang Ayah menatap wajah Septin lekat lekat.
''Nggak kok Yah, Septin hanya tidak menyanhka saja? kalau Septin akan segera menjadi seorang istri di usia yang masih 17 tahun, bahkan belum genap 17 tahun juga?'' jawab nya mengulas senyuman nya, walaupun semua itu hanya senyuman yang sangat di paksakan oleh Septin.
''Sudahlah, mungkin kalian memang sudah berjodoh sejak lama, makanya Allah SWT lebih mendekatkan kamu dengan Rafael.
__ADS_1
''Bunda? apa ini semua tidak terlalu cepat, bahkan akun saja tidak pernah belajar memasak ataupun membantu Bunda di dapur, Rafael juga masih belum bekerja saat ini. Kalau kita menikah kita akan hidup seperti apa?'' tanya Septin panjang lebar, mengingat yang akan menjadi calon suami nya adalah sahabat nya sendiri dan dia beluk bekerja.
'Aku harus mulai mencari pekerja'an mulai besok, aku nggak mau setelah aku. menikah masih bergantung dengan Ayah dan juga Bunda,' gumam Septin di dalam hatinya.