Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 22 Gara-gara mainan


__ADS_3

Akhirnya semua orang yang sedang berkumpul dan tengah memegangi kedua tangan serta kedua kaki adik kecil ini di lepas setelah Septin menyakinkan semua nya.


Adik kecil itu sudah mulai tenang dengan kehadiran Septin di sisi nya saat ini, mungkin dia sudah mengetahui kalau Septin akan mengerti ucapan nya dan tidak akan berbuat kasar kepadanya.


''Janji tidak akan berbuat yang macam macam, kalau sampai itu terjadi aku tidak akan mengampuni kamu lagi,'' Ucap Septin dengan tegas, membuat yang merasuki adik kecil itu bergidik ngeri.


''Kamu mengancam aku,'' Ucap nya tiba-tiba.


''Aku tidak sedang mengancam kok, tapi itu semua benar? apa kamu nggak lihat di sisi ku ada siapa sekarang,'' jawab Septin tanpa rasa takut sama sekali.


Adik kecil itu terlihat melihat di samping Septin, namun tidak ada siapa siapa, bagi semua orang yang ada di dalam rumah itu. Semua orang di buat bingung? dengan penuturan Septin barusan.


''Sebenarnya kamu ini siapa sich, kenapa kamu bisa memiliki itu semua,'' tanya nya lagi, karena yang nada di samping Septin saat ini adalah sesosok yang mungkin ia takuti selama ini.


Sosok itu yang berada di liontin yang Septin kenakan sekarang, liontin beserta kalung nya, adalah pemberian dari mbah Niti Rejo, yakni mbah Buyut Septin.


''Kamu tidak harus tau aku yang sebenarnya untuk saat ini, tapi kedatangan ku saat ini adalah untuk bertanya kepadamu? kenapa kamu harus mengganggu anak sekecil ini, sedangkan kamu sendiri sudah berumur? memang kamu ingin mati yang kedua kalinya,'' Ucap Septin, mengakhiri basa basi nya dengan makluk yang berada di dalam tubuh anak kecil itu.


''Sebenarnya anak kecil ini yang salah, sudah merusak mainan anak anakku, dia dengan jahat nya menginjak mainan anakku dengan sengaja,'' terang nya membuat semua orang terkejut dengan penuturan dengan orang orang yang sudah mereka mintai bantuan.

__ADS_1


Sebagian orang bilang kalau anak kecil itu kerasukan jin jahat, ada yang bilang hanya kesurupan biasa, namun saat ini mereka semua mendengar pernyata'an yang sangat luar biasa menyayat hati.


''Memang adik kecil sedang bermain di mana, dan sampai bisa merusak mainan anak anak kamu,'' tanya Septin lagi, dia kembali fokus dengan mahkluk yang nada di dalam tubuh adik kecil di samping nya.


''Ada empat anak kecil yang tengah bermain di dekat rumah ku,'' jawab nya.


''Di dekat rumah kamu?'' Sela Septin mengernyit kan dahinya tidak percaya.


''Iya, di dekat bambu yang lumayan rindang, tak jauh dari sini lebih tepat nya di belakang rumah ini,'' tukas nya, memberi tahu Septin dengan jelas.


''Sudah aku peringatkan mereka agar semua nya pergi, namun tak ada satu orang pun yang mau pergi dari sana, sampay akhirnya mainan anak ku terinjak dan rusak, saat itu aku marah karena sudah membuat anak anakku menangis histeris!''


''Ibu dan Bapak mau kan mengganti mainan anak-anak Bapak yang di rusak adik ini?'' tanya Septin menatap ke arah kedua orang tua adik kecil yang tengah berbaring.


''Iya nak, Ibu akan mengganti nya dengan yang baru, asal anak Ibu kembali sehat dan tak mengamuk lagi,'' janji Ibu adik kecil tersebut.


''Bapak sudah dengar sendiri kan? sekarang sebutkan mainan apa yang biasa rusak dan segeralah kembali ke rumah nya,'' kata Septin kembali menatap ke wajah adik kecil yang masih bersuara Bapak Bapak.


''Mobil mobilan dan juga pesawat terbang,'' terang nya.

__ADS_1


''Ya sudah, biar Bapak adik ini membeli terlebih dulu mainan yang Bapak sebutkan tadi, besok aku sendiri yang akan taruh di depan rumah Bapak, sekarang keluar lah? atau mau aku temenin hanya sekedar bermain main saja!!'' Septin tersenyum sinis melihat ke arah adik kecil tersebut.


''Tidak usah, aku akan kembali sekarang, kalian akan menepati janji kalian kan?''


''Iya, aku janji dan aku sendiri yang akan mearuh mainan itu esok di siang hari, karena aku harus sekolah dulu, dan awas saja kalau Bapak berani kembali masuk ke dalam tubuh adik ini,'' ancam Septin mengangkat ujung bibir nya.


Tak lama setelah itu, adik kecil itu sudah bangun dan merasakan sakit pada pergelangan dan juga kakinya, ya iyalah sakit? yang pegangin dia dari kemarin sangat kencang.


''Bu? kenapa di rumah banyak orang?'' tanya nya penasaran, karena semua tetangga dan juga saudara saudara yang lain belum pulang ke rumah nya masing-masing.


''Nggak apa apa, cuma sekedar silaturahmi saja,'' jawab sang Ibu menghampiri putera kecil nya. Septin sudah bilang kalau semua orang di larang mengatakan yang sesungguh nya kepada adik kecil ini, Septin takut adik kecil tersebut jadi takut untuk bermain kembali dengan teman teman nya.


''lebih baik Bapak untuk mencari mainan itu, dan sediakan abang juga untuk membuat pagar besok setelah menaruh mainan itu di rumah Bapak tadi, Septin takut kejadian ini terulang kembali, kasian adik adik yang suka bermain di belakang kalau harus menerima perlakuan yang sama dari makhluk tadi,'' kata Septin menjelaskan.


''Iya, benar yang di katakan adik ini, lebih baik kita membuat pagar di tempat itu, lebih cepat lebih baik,'' sambung tetangga yang juga memiliki anak kecil yang suka bermain di tempat itu juga.


''Baik lah kita sepakat semua nya.''


''Demi anak anak kita, kita harus siapin bambu besok, sambil menunggu kedatangan adik ini ke sini,'' sela salah satu tangga yang lain.

__ADS_1


''Terima kasih ya Pak, kalian kompak dengan ide yang Septin katakan, dan ya kami berdua harus pamit dulu, karena hati sudah semakin malam? takut nya orang tua kita mencari,'' kata Septin mencari alasan agar ia cepat pulang, tak mungkin orang tua nya mencari, karena Septin sudah memberi kabar tadi sebelum mereka pergi.


__ADS_2