Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 18 Rasa penasaran


__ADS_3

Jahat memang, itulah yang di rasakan Septin saat ini. Harusnya lelucon itu tak ia lakukan hanya demi membuat sang Bunda marah atau pun kesal, tapi bagi Septin malah sebalik nya, dia merasa senang kalau Bunda nya memarahi nya, makanya dia selalu akan membuat Bunda nya merasa kesal dan ya seperti tadi itulah sikap Septin. Menurut orang lain sich tidak sopan buat gadis seperti Septin.


Selesai mandi dan juga makan malam Septin menemui Ayah serta Ibunda nya yang tengah duduk di ruang tamu, mereka mengobrol tentang hasil panen nya yang lumayan untuk tahun ini. Mereka berdua sangat bersyukur dengan hasil yang begitu melimpah di tahun ini, dan semoga di tahun tahun yang akan datang bisa terus bertambah dan selalu barokah, berkah untuk keluarga kecil nya itu.


''Ayah, Bunda,'' sapa Septin yang duduk di tengah tengah mereka berdua.


''Ada apa, dan kenapa dwngan sikap kamu yang tidak seperti biasanya?'' cecar sang Bunda yang tau dengan sikap puteri nya, ''Kayak nya ada yang ingin kamu sampai kan kepada Bunda dan juga Ayah?'' tebak nya dengan benar. Memang benar ada yang ingin Septin tanyakan kepada kedua nya malam ini.


''Kalau ada yang mau di tanyakan, tanyakan saja? dari pada menjadi penyakit hati,'' kata Bunda nya menimpali lagi.


''Septin mau bertanya kepada Ayah Bunda, apa benar kalau orang yang mati karena kecelaka'an arwah nya jadi gen--gentayangan,'' tanya Septin gugup. Baru kali ini Septin merasa gugup dalam bertanya sesuatu kepada kedua orang tuanya.


''Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu nak? emang ada yang mengalami kecelaka'an?'' tanya Sang Ayah dengan nada lembut nya, Ayah Septin memang selalu berucap dengan lembut ketika bersama dengan keluarga kecil nya, mereka terbilang sebagai keluarga yang harmonis, dan jarang sekali sang Ayah memarahi Septin, maka dari itu Septin selalu berpegang teguh dengan kepercaya'an Ayah nya dengan terus menjaga kepercaya'an tersebut.


''Tadi di rumah Nurul Septin mendengar kalau kecelaka'an yang kemarin itu menjadi hantu, di tempat yang kemarin dia mengalami kecelaka'an tersebut,'' terang Septin, sang Ayah dan juga Bunda nya hanya menjadi pendengar yang baik dengan cerita puteri kecilnya. Yang kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja dan juga begitu bawell dan manja kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


''Septin ingin melihat langsung, dan akan bertanya pada dia? kenapa dia bisa jadi gentayangan seperti itu,'' lanjut Septin, melihat kedua teman nya hanya diam mendengar kan.


''Ya wajar lah nak? dia menjadi gentayangan, karena cara dia meninggal saja sudah dadakan, dan tanpa meninggalkan pesan kepada sanak saudara nya yang di rumah juga kan, mungkin dia masih menunggu keluarga nya untuk sekedar berpamitan dengan mereka githu,'' kata sang Ayah masih menatap puteri nya. ''Dan untuk apa juga kamu harus datang kesana nak, kayak nggak ada kerjaan saja,'' tambah sang Ayah karena puteri nya masih tetap kekeh ingin melihat nya secara langsung.


''Septin takut orang orang hanya akan membuat isu saja Yah, yang membuat semua orang menjadi takut di jalan itu ketika melewati di malam hari, dan juga ingin membersihkan fikiran buruk orang orang tentang yang bilang arwah nya itu gentayangan? padahal kan itu semua bohong?'' jelas Septin, keinginan nya sudah bulat dan ingin segera pergi ke sana.


''Dan lagi, tempat itu lumayan jauh juga Tin, kamu mau naik apa ke sana nya,'' Ujar sang Bunda yang tak suka melihat puteri nya menjadi pawang hantu, pawang ular saja masih dapat bayaran karena ularnya bisa di jual, lah ini pawang hantu? yang ada mereka hanya bergidik ngeri mendengar nya, pikir sang Bunda.


''Seperti biasa Septin akan mengajak Rafael untuk pergi bersama Septin?'' tukas Septin girang.


Septin sudah mencebikkan bibir nya karena ucapan sang Bunda, apalagi Bunda nya mengatakan kalau dirinya adalah pawang hantu segala, membuat otak nya pecah dan hatinya hancur berkeping-keping.


Karena malam semakin larut Septin memutuskan menghampiri arwah yang gentayangan itu besok malam saja, lagi pula hari ini Septin tak bilang kepada Rafael kalau dirinya akan meminta di antarkan oleh Rafael, sahabat sekaligus ojol Septin.


...****************...

__ADS_1


Pagi hari begitu cerah, tak ada awan hitam yang bertengger di atas langit nan biru, yang ada hanyalah warna biru di langit yang luas, sungguh maha karya yang luar biasa indah nya, bahkan semilir angin di pagi hari menambah kan kesan yang tak bisa di ucapkan dengan kata kata saja, bahwa Kuasa dan Cipta'an Tuhan benar adanya.


Pagi ini sepi di antar oleh sang Ayah, karena kebetulan beliau tidak pergi kemana-mana untuk hari ini, sang Ayah biasa nya sedang sibuk mengurusi sawah nya, meski di bantu oleh para pekerja Ayah Septin tak mau hanya tinggal diam di galengan sawah nya, berpangku tangan dan melihat para pekerja nya selesai dengan pekerjaan nya. Septin selalu melarang sang Ayah untuk ikut lagi mengurus sawah nya, karena sudah ada seseorang yang di percayakan oleh sang Ayah di sana, namun beliau tetap saja tidak mau mendengar kan semua itu.


''Jangan nakal di sekolah ya ndok?'' sang Ayah mengingat kan puteri kecilnya untuk tidak nakal, karena sang Ayah tau Septin yang tergolong tomboy selalu bergabung dengan para laki-laki di sekolah nya, namun masih di temani oleh kedua sahabat nya, Rafael dan juga Nurul tentunya.


Sang Ayah pernah mendapatkan surat panggilan dari kepala sekolah nya, karena Septin yang nakal, kenalan Septin wajar wajar saja sich, kala itu dia hanya memanjat dan mengambil buah rambutan di belakang sekolah nya, dan lebih gawat nya Septin pernah kabur dari sekolah dengan meloncat tembok pembatas sekolah yang sudah lumayan tinggi, namun masih tetap bisa Septin panjat. Dasar kelakuan cah sableng emang seperti itu, terlalu oincah dan terlalu agresif dalam mengerjakan suatu hal yang membuat orang tuanya mendapat surat panggilan yang tidak pernah di pikir kan sama sekali oleh kedua orang tuanya.


Mengingat itu Septin hanya cengengesan seraya menyambar tangan sang Ayah dan mencium punggung tangan nya, lalu Septin bergegas masuk ke dalam sekolah nya, yang ternyata di sana sudah di tunggu oleh Bu Maya, Guru kelas nya.


.


.


. Terima kasih buat yang selalu dukung karya receh ku.

__ADS_1


Jangan lupa like komen ya kakak, semoga suka🙏🙏🙏💕💕💕


__ADS_2