Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 62


__ADS_3

Setelah berganti baju Septin menghampiri suami nya dan mengajak Rafael untuk keluar dari kamar nya untuk menemui keluarga baru nya.


''Kok Ibu dan Bapak sudah mau pulang saja sich, emangnya kalian tidak mau menginap lagi di sini,'' tanya Septin ketika sudah ada di depan nya.


''Nanti malam kakak kamu pergi kerja sayang? nggak mungkin juga dia harus ijin tanpa surat pemberitahuan terlebih dahulu, apalagi nyari kerja sekarang susah di dapat,'' jawab nya dengan lembut dan memegang tangan Septin dengan sangat lembut dan sangat perhatian juga kepada Septin.


''Kenapa nggak berhenti saja kak dari kerja nya?'' tanya Septin yang berjalan menghampiri Sifa sang kakak.


''Iya nanti kalau kakak sudah hamil? kakak akan berhenti, kalau berhenti sekarang sayang?'' jawab Sifa memegang tangan Septin. ''Main main ke rumah kalau ada waktu luang oke,'' tambah nya lagi.


''Insya Allah, soal nya tugas negara masih belum selesai,'' jawab nya dengan enteng.


''Tugas negara apa'an sich dek?'' sambung suami Sifa.


''Membasmi makhluk astral?'' sahut nya dengan kekehan di akhir kalimat nya.


''Bisa saja dech kamu itu, ya sudah kalau gitu aku pamit pulang dulu oke,'' sela Sifa, Septin mengangguk dan mencium punggung tangan semua orang.


''Hati hati di jalan?'' Ujar Septin ketika semua nya mulai memasuki mobil nya.


Sifa dan ibu mertua nya melambaikan tangan nya kepada Selain yang masih terus berdiri di pinggir jalan, Septin menatap mobil yang di kendarai oleh keluarga Lela.


''Sekarang keluarga kamu sudah mulai menerima kepergian kamu kak Lela,'' gumam Septin pelan, sedangkan di samping nya sudah ada suami nya yang dengan sangat lembut menunggu istri nya untuk masuk ke dalam rumah nya.


''Sudah, mobil nya juga sudah tidak terlihat lagi kan? lebih baik kita masuk,'' ajak Rafael kepada istri yang baru kemarin ia nikahi.

__ADS_1


Septin hanya pasrah di gandeng oleh suami nya seraya berkata, ''Kak, apa tidak bakalan apa apa kita masuk sekolah lagi,'' tanya Septin dengan ragu, karena dia juga tau kalau orang yang sudah menikah tidak boleh bersekolah, dan kalau sampai kepala sekolah nya tau mereka berdua bisa di keluarkan begitu saja oleh pihak sekolah nya.


''Nggak akan kok sayang? pernikahan kita kan hanya secara agama saja kan, masih belum tercatat secara hukum, jadi kita masih bisa aman. Tapi aku mau setelah lulus nanti aku akan segera membawa kamu ke kantor Urusan agama untuk mengurus surat surat nikah kita,'' jawab Rafael dengan panjang lebar.


''Kak, apa kamu berpikiran kalau kita akan tidur seranjang?'' tanya Septin dengan rasa yang bercampur aduk di dalam hati nya, ada perasa'an belum siap untuk melayani kewajiban sebagai seorang istri, dan ada rasa takut jika dia hamil sebelum lulus sekolah.


''Kenapa kamu bertanya seperti itu?'' tanya Rafael yang mengerti apa yang di maksud oleh istri nya.


''Ya, aku kan belum siap tidur bareng kamu,'' jawab nya singkat.


''Sudah, kamu jangan terlalu mikirin itu dulu dech, kita jalani semuanya dengan santai dan ingat, kamu jangan terlalu banyak pikiran lagi oke, karena aku tidak mau melihat wanita ku ini sakit,'' tambah nya lagi dan membawa Septin ke meja makan, karena dia belum sarapan tadi tapi langsung mengobrol dengan keluarga Lela di luar.


''Duduklah, aku akan mengambilkan piring untuk kamu sarapan,'' kata Rafael mendudukkan istri tercinta nya ke kursi yang sudah ia tarik sebelum nya.


Rafael bergegas menuju dapur ui mengambilkan piring dan menemani sangat istri di meja makan, sedangkan orang tua dari Septin sudah pergi ketika keluarga Lela berpamitan tadi.


''Kak? aku bisa melakukan ini sendiri, dan juga aku bukan anak kecil yang harus di atur pola makan nya, aku sudah dewasa,'' rajuk nya karena melihat piring yang di ambil Rafael tadi sudah penuh dengan nasi.


''Kamu memang sudah dewasa, tapi kelakuan kamu masih seperti anak kecil kan,'' balas Rafael yang membuat Septin mengerucutkan bibir nya karena sikap Septin yang memang seperti anak kecil.


Selama ini Septin memang selalu menempel kepada Rafael, mulai dari berangkat sekolah, selama di sekolah dan juga setelah pulang dari sekolah. hampir seharian Rafael menemani Septin, makanya dia tau betul kelakuan Septin selama ini, dan bahkan sekarang dia sudah menjadi istri nya dan tidak ada yang menyangka juga kan, kalau mereka akan di persatukan seperti sekarang ini.


Siapa yang pernah bilang kalau takdir itu sangat kejam, sesungguhnya kita bisa merubah takdir yang sudah tercatat sebelum nya di lauful makhfud. Hanya dengan berdo'a kepada Allah dan memohon jodoh yang terbaik untuk nya, maka insya Allah, Allah akan mengabulkan semua yang kalian minta. Dan jangan lupa juga itu semua harus di dasari dengan kesabaran dan juga keikhlasan.


Kadang kala seseorang membaca sholawat (Burdah).

__ADS_1


Maula yashol li wasal Limda iman abada.


Alal Habi Bikhahoi Lilkhol kikul lihimi.


khuwal khabi Bulla di turja shafa atuhu.


Li kullihau Lim minal Akhwa Limuk Tahimi.


Amin Tadhak Kuriji Ronim bidhi salami.


Mazajta dam antara mim muklatim bidami.


Amhabbatir Rihhumirihumin Tilkho'i Kadhimati.


Waaumadhol Barkufid Dholma'i Min Idomi.


Septin selalu membaca itu selepas sholat nya, kadang kala Septin selalu membaca ketika dia sedang ada di jalan mengisi kebosanan nya karena melihat kendara'an yang berlalu lalang di pinggir dan di depan nya, ya hitung hitung dari pada nyanyi nyanyi nggak jelas kan, mending kita bersholawat ria saja, sekalian mencari pahala sembari mencari ilmu juga.


Septin tidak menyangka juga kalau jodoh yang akan di kirim kan oleh Tuhan adalah sahabat nya sendiri, sahabat yang selalu menemani dirinya di kala sedang sedih ataupun sedang bahagia.


'Ya Allah, aku sungguh sangat beruntung memiliki suami seperti Rafael, tadinya aku belum terlalu percaya kalau yang akan menikah dengan ku adalah Rafael, di mana dia yang selalu ada di setiap waktuku. Aku sungguh sangat berterima kasih kepadamu ya Allah,' gumam Septin di dalam hati nya, Septin mengulas senyum melihat suami nya yang sedang mengambilkan makanan dan mengisi nya dengan sangat banyak, suami nya juga menuangkan air ke dalam gelas Septin dengan rasa cinta.


Mungkin inilah yang di katakan cinta, Rafael dengan senyuman di bibir manis nya memikat hati Septin begitu saja. Rafael sebenarnya tau kalau dia sedang di tatap oleh istri nya tapi dia sengaja membiarkan istri nya menatap sepuas hati nya.


Kini lengkaplah sudah kebahagia'an Rafael dan juga Septin, memiliki pasangan yang saling mengerti dan juga sudah saling tau sifat dan sikap pasangan nya masing-masing.

__ADS_1


Terima kasih yang selalu dukung karya receh ku ya kak?


Terima kasih🙏😘💕🙏😘💕🙏😘💕


__ADS_2