Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 39 Rasa cinta untuk Septin


__ADS_3

Setelah pertemuan antar keluarga besar yang terdiri dari, Ayah, Bunda Paman dan juga Bibi Rafael, Septin merasa sangat canggung di saat bertemu dengan Rafael sahabat nya.


Seperti pagi ini, dia sangat malu ketika di jemput Rafael ke rumah nya untuk berangkat ke sekolah bareng-bareng, sebenarnya ini bukan kali pertama Septin pergi berdua dengan Rafael, tapi kenapa malah sekarang Septin merasa malu kepada sahabat nya itu, Septin yang tidak bisa mengendarai sepeda motor hanya bisa menunggu jemputan yang selalu Rafael kasih, dan pulang sekolah seperti itu juga. Rafael selalu mengantar Septin sampai depan rumah nya, dan kalau Septin meminta bantuan untuk pergi kemana saja Rafael selalu siap dan selalu bisa mengantarkan sahabat nya.


Namun kali ini sudah berbeda, mereka bukan lagi sebagai sahabat melainkan akan menjadi pasangan suami istri dalam waktu kurang satu minggu ini.


''Sudah lama nunggu nya?'' tanya Septin dengan penampilan yang masih acak acakan, karena hijab sekolah nya belum ia pakai, dan lagi lagi rambut panjang nya yang berantakan membuat Septin semakin cantik di pagi ini, Rafael sengaja datang lebih pagi dari biasa nya? agar dia melihat gadis yang ia kangeni sejak semalam setelah pulang dari rumah Septin.


''Belum kok, aku juga baru sampai. Sini duduk dulu aku sisirin dulu rambut kamu sekarang?'' Ujar Rafael mengambil sisir yang selalu ada di dalam tas nya. ''Bunda ke mana kok rumah sepi banget pagi ini,'' tanya Rafael sambil menyisir rambut Septin calon istri nya.


''Bunda dan Ayah sudah berangkat ke sawah, mereka harus mengecek barang yang akan di kirim ke kota saat ini,'' sahut Septin yang terus mengunyah roti dengan selai coklat kesuka'an nya. ''Aku bisa Rafa?'' kata Septin yang mulai merasa tak enak hati kepada sahabat nya.


''Sudah, lebih baik kamu habiskan saja roti kamu itu, dan kenapa kamu sering telat seperti ini sich. Aku perhatikan beberapa hari ini kamu selalu berpenampilan seperti ini kalau sedang buru buru pergi ke sekolah, lihat saja rambut kamu yang sudah seperti landak, lagian kenapa rambut kamu harus sepanjang ini juga?'' kata Rafael dengan beberapa pertanyaan yang di tujukan kepada Septin.


''Mungkin aku selalu tidur malam jadi aku telat bangun dan juga aku terlalu lelah oleh pikiran juga,'' gumam Septin membalas perkataan Rafael.

__ADS_1


''Lelah pikiran, apa maksud kamu gara-gara kita di jodohkan dan kamu jadi seperti ini Tin? maafkan orang tuaku Tin yang tidak bertanya terlebih dulu kepada ku, tapi kita bisa bicarakan ini nanti kalau semisal nya kamu memang tidak menginginkan pernikahan ini terjadi? aku akan mengatakan semua nya kepada orang tua kita,'' balas Rafael menghentikan tangan nya sejenak, lalu melanjutkan kembali mengikat rambut panjang calon istri nya.


''Sudah selesai, kamu pakai hijab kamu sekarang, apa? mau aku juga yang pakein,'' goda Rafael membuat pipi Septin menjadi merah merona.


''Jangan! aku bisa sendiri kok?'' jawab nya menjauhkan tubuh nya dari tubuh Rafael. Entah kenapa ada desiran aneh di dalam dada Septin saat ini, rasa yang belum pernah biarkan rasakan selama ini, walaupun kemana saja selalu pergi bersama. Namun baru kali ini ia merasakan degup jantung nya berpacu lebih cepat dari biasa nya.


''Sudah selesai, kita berangkat sekarang?'' ajak nya malu malu, Septin seperti gadis yang tengah keciduk bermesra'an dengan orang lain, makanya dia merasa malu untuk bertatap langsung dengan Rafael.


''Rafael, maksud yang aku bilang tadi dengan lelah pikiran bukan nya aku nggak mau dengan perjodohan ini, namun aku masih belum siap menjadi seorang istri, aku juga belum bisa ngapa ngapain di dapur, mana bisa aku di sebut dengan panggilan seperti itu Fa, aku juga masih selalu bermanja dengan Bunda dan juga Ayah selama ini, apa aku pantas di sebut sebagai istri dengan aku yang tak bisa memasak untuk ku sendiri aku belum bisa, apalagi ini untuk suami ku?'' Ucap Septin panjang lebar ketika dia melangkah kan kakinya menuju motor sport yang terparkir di halaman rumah nya.


Kini Rafael lebih berani dari kemarin sebelum dia tau, kalau Septin yang akan menjadi calon nya, Septin yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya terdiam, mengingat dia adalah calon dan sebentar lagi bakalan menjadi pasangan sah di mata Agama, tapi tidak dengan hukum karena kurang umur dan mereka juga masih belum lulus sekolah menengah atas.


Rafael mengendarai motor nya dengan pelan, sesekali Rafael mengulas senyum nya menatap wajah cantik calon istri yang tak lain adalah sahabat nya sendiri.


''Tin, nanti ada acara nggak?'' tanya Rafael dengan sangat hati hati, takut nya Septin merasa tidak enak atau ada kegiatan lain nya. Mengingat Rafael akan mengajak dia untuk pergi ke Mall untuk membeli perlengkapy acara lamaran nya, Bunda dan juga Ayah nya sudah memberikan tanggung jawab ini kepada Rafael, karena orang tua nya tidak tau persis selera calon menantu nya itu.

__ADS_1


''Sepertinya ada acara, memang nya kenapa Fa,'' jawab Septin jail.


''Och kalau kamu ada acara, mungkin lain kali saja aku akan mengajak kamu pergi,'' Ucap Rafael sedih, dia sudah mengira kalau Septin tidak memiliki acara malam ini, mengingat sahabat nya tidak mengajak dia untuk pergi keluar malam ini. 'Pergi dengan siapa kamu Tin,' gumam Rafael dalam hati.


''Kamu nggak penasaran aku mau pergi kemana?'' tanya Septin melihat sahabat nya tidak menanyakan acara nya yang tadi ia bilang.


Rafael menggeleng pelan, dia tidak ingin mengekang Septin yang akan membuat kerenggangan hubungan nya ke depan nya. Rafael tidak mau terlalu mencampuri urusan calon istri nya.


''Tanya dong Fa, namun tidak seperti biasa nya yang selalu antusias dalam bertanya mengenai aku pergi sama siapa, sedang apa dan melakukan apa seperti kemarin kemarin nya lagi, jangan membuat perjodohan ini sebagai ajang yang akan merusak persahabatan kita yang sudah tetjalin dengan sangat baik, aku mau kamu bersikap seperti dulu tanpa ada yang perlu kita tutup tutupi, aku ingin keterbukaan itu selalu ada sampai kita menjadi suami istri, jangan sampai ada hal yang membuat kamu tak nyaman dengan ku Fa, aku tak suka itu sungguh sang tak menyukai sikap kamu yang sekarang,'' sela Septin melepaskan pegangan di pinggang Rafael.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2