Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 55 Keluarga baru Septin


__ADS_3

Septin di arahkan ke hadapan Rafael yang sedari tadi sudah berdiri di depan nya, sang Bunda menyuruh Septin untuk mencium oungy tangan Rafael yang kini sudah sahabat menjadi suami nya. Dengan gugup setting mengikuti arahan dari Bunda nya, meski di dalam hati nya dia merutuki kesalahan nya. Karena dia tidak peka dan tidak tau harus berbuat apa setelah ijab kabul.


Rafael mencium kening Septin yang kini sudah sah menjadi istri nya, ''Nggak usah malu malu seperti itu, anggap saja aku masih sahabat kamu,'' bisik Rafael yang melihat gelagat istri nya.


''Apa'an sich nggak ngerti,'' jawab Septin dengan kembali berbisik ke arah Rafael suami nya.


Semua para tamu dan para saudara yang ikut hadir memberikan selamat kepada Rafael dan juga Septin, Septin terus saja mengembangkan senyuman nya walaupun pipi nya sudah mulai terasa kebas, karena di tarik ke atas terus menerus.


''Kapan berakhir ini semua,'' bisik Septin yang semakin lama tamu nya semakin banyak yangndatanhndan memberi nya selamat kepada mereka berdua.


''Memang nya kenapa? kamu sudah tidak sabar ingin cepat masuk kamar ya,'' goda Rafael yang langsung mendapatkan cubitan kecil di perut nya.


Rafael mengusap perut nya yang habis di cubit oleh Septin, ''Rasakan, kalau sampai punya pikiran yang jelek lagi, tunggu saja hukuman selanjutnya nya,'' gumam nya pelan, sehingga cuma mereka berdua saja yang mendengar gumaman Septin.


''Kayak nya pengantin baru sudah tidak sabaran pergi ke kamar nich kayak nya,'' ledek salah satu saudara Septin yang datang dari jauh.


''Apa sich kak bisa saja, aku cuma sedikit capek dan kepala ku sangat sakit karena sanggul yang aku pakai rasanya sangat berat,'' jawab Septin memanyunkan bibir nya.


''Sudah lah, kalau kaya gitu aku langsung pulang sekarang, karena besok aku harus mulai bekerja kembali,'' kata nya dengan nada suara sesedih mungkin.


''Kok gitu sich, kenapa nggak pulang lusa saja sich kak, Septin kan kesepian lagi,'' sahut jua dengan lirih, Septin memang lengket seperti perangko dengan saudara yang satu ini.


''Kakak harus bekerja dek, Abang kamu saja tidak datang dengan alasan tidak punya uang,'' ledek nya membuat Septin terkekeh kecil.


''Itu karena uang nya sudah dia kirimkan ke aku sebelum nya kak.'' Septin tertawa seraya menutup mulut nya agar tidak terdengar yang lain nya.

__ADS_1


''Ya sudah semoga n menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah ya,'' do'a nya kemudian memeluk tubuh Septin. Kini adik kecil dia sudah mempunyai kehidupan nya sendiri. ''Jangan lupa ajak suami kamu ke rumah kalau sekolah nya sedang libur, atau kalian tengah liburan, nanti gara-gara sudah punya suami tidak mau lagi main ke rumah kakak,'' tambah nya sembari mencubit hidung Septin.


''Insya Allah kak?'' jawab Septin. dengan senyuman nya.


Di barisan tamu yang sedang menunggu giliran untuk bersalaman dengan mempelai berdua, ada orang tua Lela si hantu muka rata.


''Ibu dan Bapak datang juga,'' seru Septin bahagia.


''Iya, kami pasti datang? walaupun tidak di undang,'' balas nya dengan mengulas senyum di bibir tuanya.


''Maaf Bu, Septin memang tidak menyebar undangan sama sekali, hanya saudara saja yang datang ke pernikahan Septin,'' Ucap Septin merasa tak enak hati dengan kedua orang tua Lela.


''Sudah nggak apa apa kok, lagian Ibu juga tau dari seseorang yang emang Ibu tanya kemarin,'' jawab nya memeluk Ibu nya Lela.


''Kok malah nggak mampir ke rumah Septin sich?'' kaya Septin dengan lirih.


''Lho kok nangis gitu sich, Ibu ada salah kata ya,'' tanya Ibu Lela khawatir ada ucapan nya yang salah atau sudah menyinggung Septin.


''Nggak Bu, Septin hanya terharu saja melihat kalian berdua datang ke acara Septin dan kak Rafael,'' jawab Septin menghapus air mata bahagia nya.


''Kata siapa hanya berdua saja,'' Ucap seseorang yang baru saja menghampiri Septin dan Rafael.


''Kakak juga datang?'' seru Septin bertambah bahagia, dia menutup mulut nya dan menghambur ke pelukan kakak ipar Lela.


''Iyalah, masak iya adek ku sendiri nikah kakak nya nggak mau datang sich, aku bukan ratu tega sama adik sendiri,'' balas nya dengan senyuman dan mengusap air mata Septin yang mulai menetes lagi.

__ADS_1


''Kalian sudah makan?'' tanya Septin mengingat mereka berdua empat adalah tamu yang terakhir yang akan bersalaman dengan nya.


''Iya entar saja, memang nya kalian mau ke kamar nya,'' tanya kakak laki-laki Lela.


''Nggak lah kak, masak iya ada kalian kami tinggal di sini sich, nggak sopan dong namanya,'' balas nya dengan kekehan yang seperti biasa nya.


''Ayo kak duduk di bawah saja, Septin juga sudah capek terus berdiri di sini,'' ajak Septin menggandeng tangan kakak ipar dan juga Ibu Lela.


Septin begitu bahagia melihat mereka datang, walaupun dia tidak di undang tapi mereka datang hanya untuk mengucapkan selamat dan menemui Septin, yang hanya bertemu hanya satu kali kemarin, keluarga Lela sangat bahagia bisa bertemu dengan Septin dan juga Rafael dan sekarang malah bersanding sebagai pasangan pengantin.


''Lela masih datangi kamu nggak,'' tanya Ibu Lela yang sudah duduk di samping Septin.


''Mbak Lela masih suka nyebelin tau nggak Bu, dia semalaman gangguin Septin, di suruh pergi malah masih diam terus di dalam kamar, Septin kan mau istirahat tapi dia malah acuh tak dengan perkata'an Septin, kesal kan?'' jawab Septin menceritakan Lela yang semalam sudah datang kepada nya.


''Sebenarnya dia sangat baik ketika masih hidup, tapi dia tidak seberuntung kamu nak, mungkin ini semua sudah takdir yang Allah berikan kepada dia, Allah lebih sayang dengan Lela, makanya dia mengambil Lela dari kami,'' Ucap Ibu Lela lirih, Septin segera memeluk Ibu Lela agar tidak merasakan sedih lagi.


''Sudah Bu, kan sekarang ada Septin di sini, Insya Allah Septin akan main ke sana kalau ada waktu senggang,'' bujuk Septin agar keluarga Lela tidak merasakan sedih dengan meninggal nya Lela. ''Ibu ikhlasin Mbak Lela ya, dia sekarang lebih banyak tersenyum, dan wajah nya sudah tidak seseram seperti kemarin lagi, mungkin karena dia banyak senyum makanya wajah mbak Lela bisa secerah itu semalam. Septin harap Ibu dan keluarga yang lain nya bisa mengikhlaskan kepergian kak Lela,dan mungkin dia akan kembali ke alam lain setelah 40 hari, kalau keluarga nya sudah mengikhlaskan kepergian nya,'' tambah Septin dengan mata yang sudah berkaca kaca.


''Iya, yang digunakan katakan nak Septin ada benar nya, kita harus benar-benar mengikhlaskan kepergian Lela demi kehidupan yang lebih baik lagi di alam nya, walaupun kita berbeda alam kita bisa bertemu lagi dengan Lela Septin,'' sambung Ayah Lela.


''Alhamdulillah kalau kalian sudah ridho dan ikhlas dengan kepergian Lela,'' Ucap Septin merasa bersyukur sekali.


''Sayang? jangan di ajak ngobrol terus dingin Ibu Mbak Lela nya, biarkan mereka makan dulu,'' kata sang Bunda yang menghampiri Septin yang dari tadi dia hanya mengajak ngobrol terus keluarga Lela.


''Maaf Bunda, Septin lupa,'' jawab Septin yang sudah meneouk jidad nya pelan. ''Kalau gitu kalian makan saja dulu, Septin mau ganti baju dulu kak, Bu, dan semua nya, kepala Septin terasa ketarik ke belakang karena sanggul ini,'' pamit Septin dengan mengembangkan senyuman nya, tak lupa juga dia berpesan kepada sang suami agar dia menemani keluarga Lela selama dia mengganti baju nya.

__ADS_1


''Kak Rafa temani keluarga kak Lela dulu, Septin ganti baju dulu sebentar?'' pesan nya dan beranjak pergi menuju kamar nya untuk membuka baju kebaya nya dengan mengganti baju kaos saja.


__ADS_2