
Semalaman Septin tidak bisa memejamkan matanya, memikirkan hati esok yang akan ia lewatkan sebagai seorang istri, dan Sepy sendiri sudah berpikir yang macam macam tentang Rafael yang akan meminta haknya besok sebagai seorang suami.
''Bagaimana kalau Rafael meminta gak nya kepada ku ya,'' gumam nya pelan, sehingga hanya dia dan beberapa nyamuk yang nada di dalam kamar nya yang mendengar gumama nya.
-''Haduch Septin? kamu jangan memikirkan tentang itu dulu dech, belum tentu juga Rafael mau menyentuh kamu saat ini, soal nya yang aku tau Rafael begitu sayang sama kamu Septin, mungkin dia akan menunggu kamu sampai selesai sekolah nya dulu, baru setelah itu dia akan meminta hak nya kepada kamu,'' Ucap Lela yang tiba-tiba nongol di depan Septin yang tengah duduk di atas tempat tidur nya.
''Kamu jadi hantu nyebelin banget sich jadi orang, resek lho ya,'' Septin memukul Lela yang ada di samping nya, namun bantal yang di buat memukul Lela hanya lewat begitu saja, tembus seperti melewati air.
''Kenapa kamu nggak bisa di pukul sich hantu muka datar,'' ujar nya dengan kesal, Septin mencebikkan bibir nya menatap wajah Lela yang nampak berseri seri.
-''Memang ya kalau akan menjadi seorang pengantin wajah nya terlihat sangat cantik dan berseri seri,'' ledek nya di susul dengan kekehan oleh Lela.
''Kamu berani berani nya ledekin aku, awas saja kamu? atau kamu ingin mati dua kali,'' Ujar Septin masih dengan rasa kesal nya.
Lela mengerutkan kening nya mendengar kata ingin meninggal lagi, ''Emang nya ada ya yang meninggal sampai dua kali, bukan nya kalau orang meninggal hanya cukup satu kali tidak ada yang kedua bahkan yang ketiga kali nya,'' balas nya dengan kekehan yang seperti Nini kunti.
''Jangan tertawa seperti itu, bikin orang takut saja yang denger nya.'' gumam Septin yang kini sudah membaringkan tubuh lelah nya di atas tempat tidur nya.
''Sekarang lebih baik kamu pulang saja, aku mau tidur dan tidak mau di ganggu oleh hantu yang hanya akan mengganggu waktu tidur ku saja,'' tambah nya lagi membuat Lela segera pergi sebelum Septin memanggil pawang nya untuk mengusir Lela dari kamar Septin
-''Aku kan hanya ingin menemani nya saja, padahal yang tidak bisa tidur kan dia, aku hanya datang dan bilang yang sesungguhnya kok sama dia, kenapa dia marah gitu sama aku sich, bikin kesal saja dech Septin tuh,'' gerutu Lela yang kini sudah kembali ke tempat yang semula, di bawah pohon yang besar dan di dekat jalan raya juga, seperti kemarin kemarin nya dia berada.
''Dasar hantu resek,'' gumam Septin dalam hati nya, dia sengaja memejamkan matanya agar Lela si hantu datar pergi dari hadapan nya, dan dia juga bisa bebas dari si hantu kepo itu.
Malam semakin larut dan Septin yang sudah sangat mengantuk segera menenggelamkan wajah nya di bantal yang empuk, sehingga tak butuh waktu lama dia sudah terbang di atas awan mengelilingi indah nya pemandangan dan juga indah nya alam mimpi.
...****************...
__ADS_1
Pagi pagi sekali dua orang MUA sudah datang ke rumah Septin dengan membawa peralatan rias dan juga baju yang akan di pakek Septin di acara tersebut, Septin yang baru saja selesai mandi pun segera di rias oleh kedua wanita paruh baya dan juga seorang remaja cantik yang membantu nya,
Septin yang terkejut dengan seorang wanita remaja yang membuka baju Septin pun segera mencegah nya.
''Maaf Mbak, apa harus di buka sekarang?'' tanya Septin polos, dia sendiri tidak paham dengan menjadi seorang pengantin, baru juga di rias setengah nya saja Septin sudah mengeluh capek.
''Baju Mbak Septin tidak ada kancing nya, jadi harus di buka dari sekarang agar nanti make up nya tidak terhapus saat baju nya di buka, mbak Septin boleh memakai teng top saja, agar lebih mudah nanti nya,'' jawab wanita paruh baya di samping nya.
''Baiklah, aku akan buka sendiri,'' gumam Septin berjalan menuju ke arah lemari dan mengambil baju teng top nya di sana, setelah itu dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju nya itu.
Kini Septin keluar dengan baju seksi nya, namun Septin menutupi bagian depan nya dengan bajunyangnia buka barusan di kamar mandi.
''Kalau seperti ini kan lebih enak dan gampang nanti pakek bajunya,'' Ucap nya mendudukkan Septin kembali ke tempat nya seperti tadi.
Sedangkan di rumah Rafael sedang ada drama pagi yang di lakukan oleh Rafael dengan kakak nya, Rafael ternyata belum terlalu hafal dengan ucapan yang akan ia ucapkan di depan pak Kyai nanti.
''Ijab kabul bisa lupa, sedangkan mau bikin adik bayi saja tidak lupa tempat nya di mana,'' Ucap nya dengan kekehan, beberapa saudara yang ikut mengantarkan Rafael ke rumah Septin juga ikut tertawa mendengar celotehan dari kakak nya Rafael.
''Sudah lah, mending kita siap siap dan berangkat saja ke rumah Septin sekarang, nanti calon pengganti nya malah ada yang bawa kabur lagi,'' celetuk salah satu saudara Rafael yang perempuan.
''Siapa juga yang akan bawa kabur Septin, tapi kalau di ajak nikah saman yang lain nya mungkin iya juga sich,'' sambung nya dengan helak rawan yang begitu menggelegar di rumah besar Rafael.
Ada delapan mobil mewah yang sudah berbaris dengan rapi di halaman rumah Rafael yang sudah siap untuk mengantarkan Rafael ke rumah calon istri Rafael. Beberapa barang seserahan juga sudah di masukin ke dalam mobil mobil yang sudah berjejer dengan rapi.
''Semua nya sudah di masukin ke dalam mobil,'' tanya Bunda Rafael yang sudah siap dan juga sudah rapi dengan kebaya warna pink dengan tas jinjing yang baru ia beli beberapa hati kemarin, Bunda Rafael memang menyiapkan semua nya dengan matang, agar terlihat sangu sempurna seperti mendapatkan calon menantu yang sempurna juga.
''Kalau gitu kita harus masuk ke mobil masing-masing, aku takut semua orang yang ada di rumah Septin sedang menunggu kedatangan kita,'' seru Bunda Rafael dengan menggandeng lengan outera nya yang tengah di landa kekhawatiran, khawatir tidak bisa mengucapkan ijab, dan khawatir terlihat jelek di mata orang dan juga semua saudara Septin yang ikut hadir di acara hari ini.
__ADS_1
''Kamu yang santai, jangan tegang seperti ini, dan jangan bikin malu Bunda mengerti,'' pesan sang Bunda membisiki Rafael yang akan masuk ke dalam mobil.
''Bunda, bagaimana penampilan Rafael? ganteng kan dan tidak ada yang salah juga kan dengan penampilan Rafael sekarang,'' tanya Rafael membenarkan peci yang ada di atas kepala nya.
''Hari ini kamu sangat tampan dan juga keren, jadi kamu harus percaya diri kalau Septin akan semakin klepek-klepek dengan kamu,'' jawab sang Bunda yang malah menggoda Rafael.
Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di rumah Septin, keluarga Rafael sudah berbaris dengan rapi untuk bisa masuk ke dalam rumah yang sudah di pasang tenda di halaman rumah Septin, semua keluarga Rafael di sambut dengan ramah dan hangat oleh keluarga Septin.
Barang barang yang tadi mereka bawa kini sudah berpindah tangan kepada keluarga Septin untuk di taruh di kamar Septin, hanya cincin dan mahar saja yang masih ada pada mereka.
Rafael di giring menuju kursi yang di sana sudah ada sang kyai yang akan menikahkan mereka berdua, kenapa tidak penghulu sekalian? karena Septin dan Rafael masih sekolah dan itu akan berimbas dengan sekolah nya, maka semua keluarga nya memutuskan untuk menikahkan mereka berdua secara siri dulu dan nanti setelah mereka lukis sekolah mereka bisa melanjutkan ke kantor urusan agama.
''Kamu sudah siap dengan acara ini, tanya sangat kyai dengan lantang,''
''Insya Allah siap,'' jawab Rafael dengan tenang, seperti yang di katakan oleh Bunda nya tadi sewaktu di perjalanan menuju ke rumah Septin.
''Baik, kalau gitu saya akan mulai,'' kata sangat kyai memastikan kembali.
Rafael mengangguk dengan pasti, dia sesekali menarik nafas nya dalam dalam, agar tidak terlalu grogi dengan acara ijab kabul yang akan di mulai sebentar lagi.
''Saya nikahkan dan saya kawinkan Ananda Rafael Pratama bin Pak Toni Pratama, dengan Adinda Septin Anggia binti Pak Alim Hakim dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 10 juta rupiah di bayar tu-nai,'' Ucap sang Kyai dengan lantang.
''Saya terima nikah dan kawin nya Septin Anggia binti Bapak Alim Hakim dengan mas kawin tersebut di bayar tu-nai,'' sambung Rafael dengan satu tarikan nafas.
''Bagaimana para saksi sah?''
''Sah....'' jawab nya serempak dan di lanjutkan dengan berdo'a, sedangkan Septin sudah dibawa keluar dari rumah nya, dia terlihat sangat cantik dan juga anggun dengan kebaya putih nya, senyuman manis menghiasi di bibir merah nya.
__ADS_1
Septin berjalan dengan sangat perlahan karena dia tidak pernah memakai kain jarek sebelum nya. Rafael mengulas senyum melihat Septin berjalan ke arah nya dengan senyuman yang begitu manis.