Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 49 Berbelanja


__ADS_3

Rafael pulang ke rumah nya setelah tadi berpamitan kepada Selain dan juga sang mertua.


Hanya butuh waktu 15 menit Rafael sampai ke rumah besar nya, ya karena Rafael ketika hanya mengendarai motor sport nua sendirian, kecepatan nya di atas rata rata sehingga cepat sampai di rumah nya.


''Kamu sudah pulang Nak?'' tanya sang nenek yang kebetulan beberapa hari ini sudah menginap di rumah nya.


''Sudah Nek, nenek mau kemana?'' balas Rafael ramah dan juga lembut pada sang nenek.


''Nenek hanya duduk di sini saja, sekalian menunggu kamu pulang juga,'' jawab nya mengelus punggung Rafael sang cucu.


''Sekarang Rafael sudah pulang, ayo masuk?'' ajak Rafael menuntun tangan sang nenek. Nenek Rafael belum terlalu sepuh? dia masih sehat dan juga bugar di usia tuanya.


Nenek senang melihat cucu kecil nya sudah akan menikah di usia yang masih terbilang sangat muda, namun sang nenek sempat berpikir kalau cucu nya tidak akan bisa membahagiakan istri nya nanti, namun orang tua Rafael meyakinkan Mama nya untuk percaya sama mereka berdua, kalau Rafael pasti bisa membahagiakan istri nya.


''Kamu sudah yakin dengan pilihan Bunda sama Ayah kamu Rafa,'' tanya sang Nenek ketika sudah di duduk kan di sofa ruang keluarga nya.


''Memang nya kenapa Nek? kok Nenek kayak nya nggak yakin dengan Rafa,'' bukan nya menjawab pertanya'an nenek nya, Rafael malah berbalik tanya sama sang nenek.


''Kalian berdua menikah karena keinginan Bunda dan juga Ayah kamu, wanita itu pilihan mereka berdua? Nenek hanya takut kalau kamu akan menyesal di kemudian hari setelah menikah nanti Nak, Nenek takut itu sampai terjadi. Karena Nenek tidak mau cucu Nenek mengalami kegagalan dalam berumah tangga,'' jawab nya panjang lebar.


''Nenek tenang ya, percaya sama Rafael sekarang, Rafael dan calon istri ku itu adalah teman sekaligus sahabat di sekolah Nek, dan kami bahkan setiap hari bersama berangkat sekolah dan bahkan pulang sekolah juga bersama Nek? mungkin karena kami sering bersama Bunda dan juga Ayah mempunyai ide seperti itu untuk menjodohkan kami berdua,'' jelas nya sembari memegang tangan sang nenek, takutnya sang nenek masih berpikiran yang macam macam lagi.


''Kamu yakin dia tidak punya laki-laki lain,'' tanya nya lagi membuat Rafael menepuk jidad nya karena pertanya'an sang nenek yang semakin menguras otak nya untuk berpikir dan menjelaskan pada beliau lagi.


''Rafa, lebih baik kamu bersih bersih dulu, dan istirahat lah di kamar? biar Bunda yang menjelaskan ini semua kepada nenek kamu,'' kata sang Bunda yang tiba-tiba menghampiri mereka berdua di ruang keluarga nya.

__ADS_1


'Terima kasih ya Allah, aku sudah tidak tau lagi harus menjawab apa kepada nenek,' Ucap Rafael dalam hatinya yang terpalang senang, karena kehadiran Bunda nya yang akan membantu dia menjauhi pertanya'an dari nenek nya.


''Kalau gitu Rafa ke kamar dulu nek, sekalian Rafael juga mau istirahat so capek banget,'' Ujar nya dan segera kabur dari ruang keluarga.


Rafael berlari menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar nya yang nada di lantai atas, Rafael sesekali mengusap dada nya dan bernafas lega karena sudah terbebas dari nenek nya yang super cerewet itu.


Sesampainya di dalam kamar, Rafael segera menyambar handuk dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar nya, dia segera mengguyur tubuh nya yang terasa ngantuk dan juga terasa sangat lelah, tapi aneh nya dia mengulas senyum nya ketika mengingat Septin tadi yang mengusir dari rumah nya.


''Ternyata calon istri ku sangat lucu sekali, bahkan kamu rela mengusir aku hanya untuk beristirahat dengan tenang, agar tidak ada yang mengganggu kamu, dasar aneh?'' gumam nya pelan, Rafael masih dengan senyuman nya.


Di rasa sudah cukup, dia segera keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang di lilitkan ke tubuh nya saja, karena menurut dia di dalam kamar hanya ada dia seorang.


Rafael mengambil celana pendek selutut dengan kaos pendek yang berwarna hitam, dia segera membaringkan tubuh lelah nya untuk segera menyusul calon istri nya, yang sudah terlebih dulu pergi ke alam mimpi.


Malam tiba dan kini Rafael sudah ada di rumah Septin, Rafael sedang menunggu Septin di dalam rumah nya. Karena mereka berdua sudah berjanji akan pergi malam ini untuk membeli perlengkapan acara yang akan di selenggarakan lusa, Rafael sengaja membawa mobil nya? karena dia akan membeli banyak barang malam ini, dan sang Bunda sudah memberikan catatan beserta kartu black card nya kepada Rafael.


Sebenarnya Rafael juga memegang kartu tersebut, tapi karena itu Bunda nya yang menyuruh dia untuk mengajak Septin ke Mall, jadi sang Bunda lah yang akan membayar semua belanja'an mereka.


''Tumben bawa mobil?'' tanya Septin ketika keluar dari dalam rumah nya.


''Iya, Bunda menyuruh bawa mobil saja, agar nanti bawa nya juga nggak ribet,'' jawab nya membukakan pintu mobil untuk Septin.


''Sebanyak apa sich yang akan di beli kita ke Mall Fa,'' tanya nya lagi, setelah melihat Rafael duduk manis di belakang kemudian mobil nya.


Rafael merogoh saku celana nya dan memberikan catatan kepada Septin, Septin terkejut bukan main? karena yang dia beli sebanyak itu.

__ADS_1


''Apa Bunda tidak salah tulis ini semua Fa?'' tanya nya menunjukkan catatan nya kepada Rafael.


''Tidaklah, kan Bunda sendiri yang mencatat itu semua, kita tinggal beli sesuai yang ada di catatan itu saja, dan satu dari ku juga,'' jawab Rafael sambil terus menatap jalanan yang mulai di padati oleh orang orang yang baru pulang kerja nya.


''Masih ada satu barang lagi, maksud kamu apa Fa?'' Septin mengernyit menatap Rafael yang fokus menatap jalanan.


''Itu aku yang akan belikan untuk kamu Septin, kalau yang ada di catatan itu Bunda yang belikan. Tapi ini aku yang akan beli dari hasil kemarin main bola voli,'' terang nya membuat Septin tak enak hati.


''Nggak usah dech Fa, kalau kamu ingin membelikan aku sesuatu lagi, ini saja sudah banya? dan bakalan habis berapa nanti?'' gumam nya pelan, Septin kembali menatap catatan yang masih ia pegang, dia dengan jeli menatap nama nama barang yang tertulis rapi di selembar kertas.


'Ternyata Bunda nya Rafael pintar juga nulis nya, tulisan nya sangat bagus?' gumam Septin mengagumi tulisan mertua nya yang sangat rapi dan juga sangat bagus tersebut. Septin tak lagi berucap mengingat kini sudah sampai di Mall yang mereka tuju. Rafael membuka seatbelt nya dan turun dari mobil, Septin terkejut karena Rafael meninggalkan dia di dalam mobil. Namun ternyata Rafael berlari ke samping mobil nya hanya untuk membuka pintu mobil Septin saja.


''Ayo,'' ajak Rafael mengulurkan tangan nya kepada Septin. Septin yang melamun hanya mengerjapkan matanya dan mengulas senyum seperti orang bodoh, karena dia tidak bisa membuka seatbelt nya.


''Kenapa?'' tanya Rafa yang melihat Septin tidak mau turun dari mobil nya.


''Rafa, aku nggak bisa membuka seatbelt nya?'' ucap nya dengan perasa'an yang sangat malu ketika mengucap itu kepada Rafael, memang benar sich? Rafael akan menjadi suami nya lusa, tapi kekonyolan malam ini membuat Septin merasa malu karena tak bisa membuka tali pengaman yang mengikat tubuh nya dengan jok mobil.


''Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?'' sahut nya dan segera membantu Septin membuka seatbelt nya.


Septin yang mendapatkan perlakuan seperti itu terkejut bukan main, dia menahan nafas nya ketika Rafael tengah membuka seatbelt nya.


''Nggak usah nahan gitu Septin? enatar yang ada kamu malah nggak bisa nafas beneran bagaimana?'' sela Rafael yang sadar kalau Septin menahan nafas nya.


Septin tidak menjawab nya, tapi dia hanya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, sembari mengulas senyum bodoh nya.

__ADS_1


__ADS_2