Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Bab 21 Obrolan Septin


__ADS_3

Sepulang sekolah, Septin sudah di tunggu oleh sang Guru di parkiran sekolah nya, Septin bersama Rafael menghampiri Bu Maya yang tengah menunggu nya dari tadi.


''Maaf Bu lama?'' Ucap Septin dengan rasa bersalah nya, karena sudah membuat sang Guru menunggu nya di parkiran sekolah nya.


''Sudah nggak apa apa, jangan di fikirin. Sekarang kita ayo berangkat ke rumah ponakan Ibu,'' sahut Bu Maya mengembangkan senyum nya kepada dia murid nya.


Rafael dan Septin mengikuti Bu Maya dari belakang, karena maupun Septin ataupun Rafael tidak tau persis di mana rumah ponakan Bu Maya berada.


Bu Maya melajukan kendara'an nya dengan lumayan kencang, mungkin Bu Maya sudah khawatir dengan ponakan nya itu, soalnya sudah sejak kemarin sang ponakan tersayang nya di rasuki roh halus yang tengah mengganggu tubuh nya.


''Septin? emang kamu nggak tau rumah ponakan nya Bu Maya berada?'' tanya Rafael agak kencang, karena mereka berdua masih berada di jalan dengan kecepatan motor nya, dan memakai helm. Serta dengan hembusan angin yang lumayan kencang dengan kebisingan suara suara dari kendara'an lain nya juga.


''Aku nggak tau Fa, emang nya kenapa?'' tanya Septin memiringkan wajah nya menatap wajah tampan Rafael dari samping.


''Ya nggak apa apa sich, aku kan cuma nanya?'' tukas nya dengan kekehan di bibir tebal nya menambah kesan ganteng nya saja, namun Septin tak merasakan hal yang aneh di dalam hatinya, bagi Septin saat ini Rafael adalah teman, sahabat yang baik dan juga suka banget sama si do'i karena dengan kepiawaian nya memainkan bola voli, Rafael sampai di bayar untuk ikut serta dengan tim tim baru yang suka mengontrak Rafael di kala kesenggangan nya.


''Ayo Rafael cepat, nggak usah banyak ngomong? entar malah di tinggal lagi oleh Bu Maya,'' seru Septin dengan bibir yang di manyun kan ke depan.


Tak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di depan rumah ponakan Bu Maya, setelah memasuki gang kecil.


''Akhirnya sampai juga Tin,'' keluh Rafael yang merasa perjalanan menuju ke rumah ponakan Guru nya terbilang cukup jauh, ''Kenapa harus buat rumah sejauh ini sich?'' gerutu Rafael pelan, sembari membuka helm dan menaruh di atas motor sport nya.

__ADS_1


''Apa'an sich lho Fa,'' kata Septin seraya menepuk pelan lengan Rafael yang tengah mengeluh.


''Rumah nya jauh banget? apa nanti ada uang bensin ya?'' bisik Rafael tepat di telinga Septin, Septin yang merasa geli pun hanya menggedik kan bahu dan lari menghampiri Bu Maya yang kini sudah berada di teras rumah ponakan nya.


Tadinya Septin kira ponakan Bu Maya sudah remaja atau dewasa, nggak tau nya ponakan Bu Maya masih berusia 10 tahun, pantas saja Bu Maya terlihat khawatir saat menceritakan semua nya kepada Septin.


''Assalamu'alaikum,'' Ucap Septin setelah membuka sepatu nya di depan.


''Waalaikum salam, ayo masuk?'' jawab sang pemilik rumah yang tak lain adalah kakak dari Bu Maya sendiri.


Septin menyalami semua orang yang tengah berada di sana, ada juga yang tengah membaca Al-Qur'an, ada juga yang membaca Burdah dan ada juga yang membacakan sholawat tepat di pinggir sang adik yang tengah kerasukan makhluk nakal yang selalu mengganggu ketenangan manusia.


''Kenapa?'' tanya Septin ramah dan juga sopan, ketika melihat banyak orang di dalam rumah nya.


''Terus bagaimana hasil nya Bu? setelah di bacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan lain nya juga,'' tanya Septin yang masih bediru di dekat adek nya yang masih mengamuk. Tangan dan juga kakinya ada yang memegang.


''Masih sama seperti tadi, dia masih berteriak teriak nggak jelas, dan selalu menyakiti tubuh nya,'' jelas sang Ibu yang kininmulai menangis lagi.


''Septin berharap Ibu bisa sabar dan juga ikhlas menerima coba'an ini semua, dan Septin mohon bantu do'a, karena do'a seorang Ibu lebih dulu di ijabah oleh Allah SWT, dari pada do'a do'a orang lain nya,'' Ucap Septin lembut, namun sebelum mengatakan itu Septin lebih dulu meminta maaf kepada semua orang yang ada di dalam rumah adik kecil ini.


Septin menghampiri adik yang tengah kerasukan makhluk tak kasat mata, dan dia memilih duduk di samping nya. Septin terlihat memegang tangan adik kecil itu dengan tangan kanan nya, Septin juga mengembangkan senyuman manis nya sebelum mengajak mahkluk halus sebelum mengajak berbicara.

__ADS_1


''Assalamu'alaikum,'' Ucap Septin terus mengembangkan senyuman nya kepada adik kecil yang biasa pegang tangan nya.


Tak ada jawaban dari adik kecil itu, adik kecil hanya menatap Septin dengan tatapan penuh tanda tanya. Septin yang tak kunjung mendapatkan jawaban kembali mengucapkan salam nya.


''Assalamu'alaikum,'' Ucap Septin sekali lagi.


''Waalaikum salam!'' jawab nya dengan nada kasar nya, Septin masih tersenyum menghadapi makhluk yang tengah bersemayam di tubuh adik kecil tersebut.


''Maaf sebelum nya, perkenalkan nama Septin Anggia, Septin sebenarnya tak mau ikut campur dalam hal ini, namun Septin merasa harus ikut camy karena anda sudah membuat anak kecil ini merasakan sakit karena ulah kamu saat ini, kalau anda tidak percaya? coba lihat sendiri yang di lakukan orang orang lain nya,'' kata Septin dengan sangat hati hati sekali.


''Boleh Septin mengobrol dengan anda sebentar saja,'' lanjut nya pelan namun tegas. Adik kecil itupun mengangguk pelan.


Septin berkata lagi, ''Anda bisa berjanji kalau anda tidak akan mengamuk di saat Septin mengajak anda untuk mengobrol,'' anak kecil itu juga mengangguk untuk yang kedua kalinya.


Septin menatap ke arah semua orang orang yang tengah memegangi adik kecil itu. ''Bagaimana kalau dia mengamuk lagi,'' kata salah satu tetangga yang tadi ikut memegang kaki adik kecil itu.


''Insya Allah tidak akan Pak, kalau sampai dia melakukan nya Septin tak akan segan lagi untuk memberi nya pelajaran?'' tutur Septin meyakinkan semua orang yang berada di sana.


''Anda sudah janji kepada Septin tidak akan berbuat macam macam kan,'' kata Septin menatap wajah adik kecil itu, adik kecil itu juga menatap wajah Septin dengan penasaran, karena menurut nya gadis ini bisa mengajak untuk mengobrol bukan mengomeli seperti semua orang yang mereka lakukan sejak kemarin kemarin dia berada di dalam tubuh adik kecil tersebut.


Terima kasih yang selalu dukung karya receh Al-mahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like komen nya ya kakak, terimakasih 🙏🙏💕💕💕💕


__ADS_2