Septin Sang Pemberani

Septin Sang Pemberani
Episode 36 Meminta bantuan


__ADS_3

Kini malam sudah datang dengan sinar Rembulan yang begitu indah ketika di pandang oleh mata semua insan. Sungguh indah maha karya Allah SWT karena menciptakan semua nya dengan berpasang pasangan, mungkin kali ini Septin akan menemukan pasangan hidup nya juga, karena orang tua Rafael sudah bersiap pergi ke rumah Septin untuk melamar nya buat putera bungsu nya mereka.


Sedangkan Rafael sendiri sudah ada di rumah Septin untuk menjemput gadis nya, karena sang gadis meminta tolong untuk di antarkan ke tempat yang bahkan Rafael belum tau tempat nya di mana, tapi dia tetap saja berangkat menemui sahabat nyanyang sudah ia kangeni karena setengah hari tidak bertemu dengan nya, apalagi tadi dia memilih pulang lebih dulu bersama kedua orang tua nya yang datang ke sekolah karena undangan dari kepala sekolah nya.


''Sudah siap?'' tanya Rafael yang melihat Septin dengan jaket di tubuh nya saat ini, tadi Rafael sempat mengomentari penampilan Septin yang hanya memakai kaos lengan panjang dan juga jeans, padahal malam ini udara nya sangat dingin, mengingat tadi habis hujan.


''Iya sudah Fa,'' jawab Septin menatap wajah Rafael yang terlihat sangat tampan dari biasanya. Septin buru buru mengelengkan kepalanya pelan, agar rasa itu juga ikut segera ilang.


''Apa kita berangkat sekarang?'' tanya Rafael sedikit memicing kan matanya melihat perubahan sikap sahabat yang ada di depan nya.


''Kamu habiskan dulu minuman nya dan camilan nya juga belum di makan?'' kata Septin yang melihat minuman nya hanya di minum sedikit oleh sahabat nya itu. Rafael mengangguk dan segera menghabiskan minuman yang sempat di buatkan oleh Bunda Septin tadi.


Selepas mereka berpamitan dengan Ayah dan juga Bunda nya, Septin dan Rafael segera melajukan motor sport nya ke daerah yang di minta Septin, memang benar apa yang di katakan sahabat laki laki nya, kalau malam ini cuaca nya sangat dingin, pantas saja dia meminta Septin untuk mengenakan jaket.


''Masih jauh nggak tempat nya Tin?'' tanya Rafael menatap wajah Septin dari kaca spion motor nya.


''Mungkin di depan itu Fa, entar ya aku ingat ingat dulu tempat nya,'' jawab Septin seraya mengingat ngingat.

__ADS_1


Rafael masih dengan santai nya mengendarai motor sport nya, tapi tiba-tiba Septin menepuk punggung Rafael, ''Rafael kelewatan?'' ujar nya membuat Rafael meminggirkan motor nya.


''Kita kelewatan, seharusnya di belakang itu,'' tambah Septin menunjuk pohon besar yang ada di pinggir jalan raya tersebut.


''Kamu yakin di sana tempat nya?'' tanya Rafael memastikan kalau sahabat nya tidak salah tempat. Tempat yang di tunjuk Septin adalah tempat kejadian 3 minggu lalu, dan pengendara nya tewas di tempat, apa mungkin wanita yang meminta tolong kepada nya adalah wanita yang mengalami kecela'an 3 minggu lalu, pikir Rafael sembari mengerutkan kening nya.


''Iya Fa, aku yakin di sana tempat nya, mungkin aku akan bertemu dengan dia sekarang di sana juga,'' jawab Septin meyakinkan Rafael, sedangkan Rafael sendiri sudah merinding entah kenapa dia merasa sangat takut malam ini.


''Kamu tau nggak Tin tempat itu?'' tanya Rafael tidak meneruskan ucapan nya.


''Kenapa Fa,'' tanya Septin penasaran.


''Memang nya kamu bercerita apa tentang itu ke aku Fa?'' tanya Septin lagi.


''Yang meninggal arwah nya gentayangan dan juga sering nangis di pinggir jalan raya,'' terang Rafael mengingat kan sahabat nya.


Septin mengangguk dan berfikir sejenak, ''Kalau kamu nggak mau ikut aku ke sana, kamu tunggu di sini saja ya, aku bisa menangani nya sendiri,'' gumam Septin menepuk pelan punggung Rafael, dan segera melangkah pergi setelah turun dari motor Rafael.

__ADS_1


Septin memejamkan mata nya sejenak untuk meminimalisir rasa takut nya, walaupun Septin selalu di sebut dengan wanita pemberani, tapi nyatanya dia masih bisa merasakan takut. Takut sangat wanita malah nggak memiliki wajah karena kecela'an kemarin, dan dia juga takut ada yang kurang dari tubuh wanita itu dan malah menyuruh Septin untuk mencari sebagian tubuh nya yang tidak di temukan oleh keluarga nya, rasa takut semacam itu tiba-tiba ada di otak Septin.


''Assalamu'alaikum,'' Septin mengucapkan salam ketika melihat seorang duduk membelakangi pohon yang ada di pinggir jalan itu.


Pohon itu memang sedikit lecet bahkan ada lubang di tengah mungkin terkena hantaman saat terjadi kecela'an minggu lalu.


Seorang yang di panggil Septin hanya menggeaer sedikit tanpa menoleh ke arah nya, Septin yang mengerti maksud dari sosok itupun memilih untuk menghampiri dan juga duduk di sebelah nya, di sisi jalan Rafael hanya menatap punggung Septin yang sudah duduk sendirian di dekat pohon.


''Terima kasih kamu sudah mau datang ke sini, tapi aku takut kamu malah nggak mau untuk membantu ku sekarang,'' jawab nya datar dan posisi dia masih saja memunggungi Septin, membuat Septin mengerutkan kening nya. Septin memberanikan diri untuk bertanya bantuan apa yang ia maksud.


''Kalau boleh tau? bantuan seperti apa yang kamu maksud, tapi aku akan bilang terlebih dahulu sama kamu, kalau kamu ingin meminta bantuan untuk mencarikan organ kamu yang hilang aku nggak bisa, aku angkat tangan.Lebih baik kamu meminta tolong sama keluarga kamu saja,'' kaya Septin menjelaskan terlebih dulu, takut nya apa yang di katakan dia sebelum Septin berkata jujur malah dia menyuruh nya seperti itu.


''Aku hanya ingin bantuan kamu untuk menemui tunangan aku saja, organ aku tidak ada yang hilang sama sekali, walau tubuhku sempat hancur di gilas truk besar, namun Ibu ku sudah membersihkan semua nya dari jalanan ini, kemarin yang kamu temui itu adalah Ibu ku, dia datang jauh jauh hanya untuk membersihkan semua yang ada di sini,'' jawab nya membuat Septin mengangkat satu alis nya ke atas.


''Kalau memang sudah di bersihkan? kenapa kamu masih ada di sini sekarang, dan kenapa juga kamu malah meminta tolong ke aku bukan kepada Ibu kamu kemarin,'' sela Septin yang terlihat berbicara sendirian.


Sempat ada beberapa pengendara motor dan juga mobil yang berhenti di tempat itu, tapi Rafael buru buru menyuruh mereka untuk segera pergi dari sana, Rafael tidak mau obrolan Seotin jadi terganggu dengan kedatangan orang orang yang akan menyapa Septin, karena Septin seperti orang gila yang sedang berbicara sendiri, dan di bawah pohon pula, apalagi malam dan juga gelap membuat Rafael merasa khawatir kepada sahabat nya tersebut.

__ADS_1


''Cantik cantik gila!'' tukas seseorang yang menghentikan kendara'an nya tepat di samping Rafael.


''Maaf Pak, Bu, teman saya tidak gila kok, dia hanya sedang mengobrol dengan seorang wanita yang 3 minggu lalu mengalami kecelaka'an di sini, apa Ibu dan Bapak tau, kalau kalian berdua tau pasti sudah mendengar rumor yang sedang beredar sekarang ini,'' bela Rafael dan menjelaskan kepada kedua orang yang sudah mengira Septin gila, otomatis Rafael tidak terima dong? kalau sahabat nya di katakan gila oleh seseorang, apalagi orang itu tidak mengenal sahabat nya dengan baik


__ADS_2