
"Kereta cepat minggir " teriak orang yang ada di peron
aku yang tengah berada dibawah ditengah tengah rel kereta seketika panik
bingung mau jalan ke
depan sama saja nyamperin kereta yang lagi datang
jalan kebelakang kereta yang baru aku tumpangi hendak jalan menuju stasiun berikut dalam kepanikan aku bingung kemana aku harus keluar akhirnya aku mengikuti orang orang yang lari menuju peron sebelah kiri
aku sudah pasrah aku mencoba tuk naik keatas peron
"mati ,,dah mati , ,," batinku udah frustasi kereta 50 meter lagi aku berusaha menggapai peron tanganku mengulur keatas berusaha naik keatas orang yang berada di atas langsung menyambut uluran tanganku seketika tubuh ku seperti melayang
"wuuuuus"
terbang serasa badanku ringan sekali aku duduk terkulai lemas tak berdaya
"Toooooooooooooooooooooots gujes gujes "
__ADS_1
bersamaan kereta lewat pas banget melintas disampingnya
temanku yang sudah duluan di atas mengucap syukur selamat dari maut ku perhatikan seluruh tubuhku Alhamdulillah tak ada yang luka
" Alhamdulillah,,,,,,, Alhamdulillah terima kasih ya Allah engkau lindungi aku kau selamatkan aku ya Allah " batin Febri berlinang air mata
seorang ibu memberiku air minum aku pun langsung meminum air pemberian ibu tersebut tak lama temanku yang sebagian disebrang sebelah kanan langsung datang menghampiriku
" kamu nga papa feb tadi aku sempat khawatir mikirin kamu karena ini pertama kali kamu naik kereta" ucap Eni
"iya feb lagian kenapa kamu pisah dari rombongan ikut ikutan turun loncat kebawah bukanya turun di peron aja" kata Ijah
Febri cuma bisa mengangguk
"temanya di papah aja neng masih shock kayanya " ucap ibu yang memberi air
Ijah dan Eni memapah Febri keluar stasiun kereta
" Eni duduk situ dulu bentar dengkul masih lemes " Febri mengajak duduk depan taman bunga
__ADS_1
"kamu kenapa bisa bisanya ikutan loncat kesamping yang nga ada peron nya "ucap Ijah
" nga tau kaya ada yang nyuruh turun disitu aku langsung loncat aja" jawab Febri
" punya nyawa cadangan lu " canda Eni
"bisa aja lu en nga lah w cuma punya satu" ucap Febri
" udah sore yu udah kuat belum feb " tanya ijah
"udah mendingan yu jalan " jawab Febri
keluar dari stasiun kami naik angkot didalam sudah ada yg naik didepan laki laki di dalam ad perempuan dan laki laki kami duduk dalam bertiga satu bangku sementara didepan ku ada perempuan berhijab di pintu satu orang pria sudah melewati pasar terlihat jalanan sudah sepi tiba tiba laki laki yang duduk dipintu mengeluarkan pisau ditepuk tepuk pisau tersebut di telapak tangan kirinya
" serahkan barang berharga kalian"ucap lelaki tersebut
seketika perempuan yang memakai hijab melepas cincin ditangannya lalu melempar cincin tersebut dibawah kolong bangku angkot sementara Eni yang tengah memakai gelang emas mau nga mau harus merelakan gelangnya kulihat supir juga. diancam oleh teman si penjahat mengunakan pisau
"sial amat hari ini udah tadi hampir celaka di angkot kena todong kenapa mata ku nga bisa tembus kejahatan ni orang" batin Febri
__ADS_1
Eni gelang emasnya raib diambil penjahat sementara aku dan Ijah yang tidah memiliki barang berharga nyantai aja mau diambil diambil apanya duit kaga punya pulang aja nebeng dibayari Eni ya sudah kita bertiga pasrah