
Selepas sholat isya sebelum melakukan pengobatan keluarga melakukan sholat berjamaah diruang tamu
Diawali sholat magrib terlebih dahulu selepas magrib keluarga mengadakan dzikir bersama Hinga menjelang sholat isya
Utari yang ada diruang tengah ditemani Febri dan Tanti sudah dipakaikan mukena ruangan tempat Utari berobat juga sudah di benahi tak ada perabotan yang akan menggangu nanti ketika Utari akan diobatin
" boleh saya minta air pake baskom "
"air mentah apa matang tadz"
" air mentah baskom nya kalau bisa agak lebar
yah isi setengah saja"
Andi begegas kebelakang mengambil air di dalam baskom
" ini tadz mau taruh dimana"
"taruh diatas kepala Utari agak sedikit jangan dekat dekat"
ustadz Ramdhan mulai melakukan pengobatan
mengambil batu yang berbentuk telur di masukannya kedalam baskom sambil memegang tasbih mulut ustadz ramadhan komat Kamit membaca doa memutar mutar tasbih dengan satu telunjuk yang ada ditangan kanannya matanya masih terpejam membaca doa
tasbih berputar semakin kencang sampai akhirnya tasbih terlepas dari tangan ustad ramadhan dan terbang berputar putar diatas tubuh Utari tepatnya ada diatas Perut
sementara empat lelaki yang duduk di samping kanan dan kiri Utari juga masih khusyu duduk bersila tak ada yang membuka mata membaca doa yang diajarkan ustadz ramadhan
Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul
Qoyyum, laa ta' khudzuhu sinatuw
Walla nauum,lahu maa fis sawaati
__ADS_1
wa maa fil ardhi, Mann dzalladzii yasyfa u'
Inda huu ,Illa bi idznih, ya' Lamu maa
bayna aidiihim wa maa kholfahum,wa laa
yuhiituuna bisyayim min Ilmi hi illaa Bi
maa syaa wa si' a kursiyyuhus
samaawaati walardh, wa laayauudu huu
khifdhuma wahuwal alliyyul adzim
Tepat pukul 12:: 00 malam dimana orang lagi nikmat nikmatnya tidur menuju alam mimpi
Utari terjaga merasakan panas di sekujur tubuhnya kali ini Utari tidak menjerit kesakitan seperti yang sudah sudah karena penyakit ditubuh tari sudah keluar tinggal pemulihan mengeluarkan setan yang bersarang ditubuh Utari
suaranya serak menahan rasa panas yang luar biasa tangan Utari terangkat menutupi telinganya
" PANAS,,, TOLONG,,,,, HENTIKAN,,,,!!! "
keempat lelaki yang duduk di samping kanan kiri Utari terus membaca ayat kursi yang Ter akhir
"Walla yahudihu khifduhuma wahuwal aliyyul adzim"
"Walla yahudihu khifduhuma wahuwal aliyul adzim"
" Walla yahuduhu khifduhuma wahuwal aliyyul adzim"
baca an itu terus menggema diruang tengah
tubuhnya terus menggeliat kepanasan mukenah yang dipakai hampir terbuka biru buru kakeknya menjaga agar Utari tetap tenang
__ADS_1
" Mau Keluar ngga kalau ngga mau keluar saya cambuk mau keluar" ucap ustadz
Kepala Utari mengangguk
" iya saya keluar,,,"
"ikutin saya ASTAGFIRULLAH AL ADZIM" bisik bisik ustad ramadhan ditelinga Utari
"AS,,,,,,,,,AS,,,,,,,,,,AS,,,,,,,,,,"
" ikutin bapa ASTAGFIRULLAHAL ADZIM"
"AS ,,,,,,,, AS ,,,,,, AS ,,,,,ASSST" begitu berat Utari mengucap istighfar
"ASTAGFIRULLAHAL ADZIM " bisik ustadz
"AS ,,,,, ASSSTTT, ,,,,,,,,,AASSSTTT ,,,,,,,"
" ASTAGFIRULLAHAL ADZIM ayo ikutin bapa"
" ASSTTAAG" begitu sulit Utari memnyrbut istighfar
"ASTAGFIRULLAHAL ADZIM" ustadz dengan sabar membimbing Utari membaca istigfar
"***,,,TTAG,,,ASSTTAGFi,,,,,RULLAH"
"AS,,,,TAG,,,FI,,RULLAH ,,,,,,,ASTAGFIRULLAH"
terbata bata Utari mengucap istighfar dengan sekuat tenaga berusaha mengucap istighfar akhirnya Utari bisa mengucap kalimat istighfar
"boleh saya minta gabah tujuh butir sama segelas air putih
like komen vote
__ADS_1