
Danu mendorong motornya hingga sampai di pinggiran gedung CSM, keluar dari area parkiran dan berteduh di sana. Elma pun mengikuti di belakang.
Saat itu susana temaram, tak begitu terang untuk penglihatan Danu yang ingin memeriksa motornya.
"Bagaimana Mas?"
"Tolong kamu senteri ya, pakai ponsel ku," jawab Danu, Elma pun mengangguk setuju.
Di dalam jok motor Danu ada beberapa kunci peralatannya sendiri untuk peralatan motor. Bukan kali ini saja motornya mogok jadi dia sudah punya persiapan.
Danu membongkar ini dan itu hingga tangannya menghitam kotor, lalu saat dirasa cukup dia coba menghidupkan motor dengan mengengkolnya.
Satu kali nyaris berhasil, namun motor kembali mati.
Elma menunggu dengan was-was, takut motor itu rusak dan mereka tidak bisa pulang. Apa lagi saat ini sedang hujan deras, pasti akan semakin mempersulit semuanya.
Danu kembali mencoba mengengkol dan untunglah dikesempatan kedua motor itu menyala.
Elma tersenyum lebar, dia lantas memeluk erat tubuh Danu dari arah belakang. Entah kenapa rasanya bahagia sekali, sangat bersyukur.
"Ya ampun Mas, untung motornya bisa hidup," pekik Elma antusias, tubuhnya bahkan sedikit berjingkrak kegirangan.
Dan Danu yang melihat reaksi Elma jadi gemas sendiri, entah ada dorongan apa tiba-tiba mengecup sekilas bibir sang istri.
Tentu saja Elma terkejut, namun dia malah semakin memperdalam ciuman mereka saat Danu ingin menyudahinya.
Ciuman singkat itu akhirnya berubah jadi ciuman panjang, jadi ciuman menggebu yang penuh gairah.
"El."
"Ayo Mas kita cepat pulang," jawab Elma dengan terkekeh, dia hapus sendiri sisa Saliva Danu yang tertinggal di bibirnya.
__ADS_1
Pria yang biasanya selalu bersikap dingin ini pun terkekeh, dia menarik gemas dagu Elma dan kemudian mulai naik ke atas motor.
Jam setengah 12 malam mereka menerobos hujan, sama-sama mengunakan mantel berwarna biru. Elma memeluk Danu erat, pelukan yang terus terjaga hingga akhirnya mereka sampai di rumah.
Elma buru-buru turun, buru-buru melepas mantelnya sendiri kemudian membantu Danu.
Disaat Danu menjemur mantel mereka di teras, Elma membuka pintu rumah.
"Mas, kita makan mie rebus saja ya?" tawar Elma dan Danu mengangguk. Rasanya juga hangat sekali menyeduh kuah hangat itu.
Nyaris jam 12 malam mereka berdua duduk di meja makan dan menikmati mie rebus. Elma dan Danu sama-sama sudah membersihkan tubuh mereka dan kini menggunakan baju untuk tidur.
"Ada cabai tidak El?"
"Ada Mas, tunggu aku ambilkan." Elma menuju lemari pendingin, mengambil cabai kecil beberapa buah dan mencucinya lebih dulu. Danu suka menggigitnya langsung saat sedang makan mie kuah seperti ini.
"Ini Mas."
"Hem."
"Tidak juga Mas, sama seperti kemarin. Kenapa memangnya?"
"Tadi saat pertama keluar dari toko sepertinya wajahmu lelah sekali."
"Oh, itu bukan karena banyak perkerjaan."
"Lalu?"
"Banyak cemburunya."
Danu mengerutkan dahi, tapi tetap dengan mulutnya yang mengunyah mie instan.
__ADS_1
"Cemburu?"
"Iya," jawab Elma singkat.
"Cemburu sama siapa?"
"Ya Mas Danu lah."
"Memangnya aku kenapa?" Sungguh Danu tak tahu apa-apa, dia bahkan bingung dimana letak kesalahannya hingga membuat Elma cemburu.
Dan mendapati respon Danu yang seolah tak peduli membuat Elma jadi kesal sendiri. Bibirnya mengerucut, kesal.
"Loh, kok jadi marah?"
"Tau ah," kesal Elma."
Selesai makan mereka memutuskan menuju kamar dan tidur, Elma yang masih kesal berharap suaminya akan membujuk. Lalu berakhir dengan tidur saling memeluk.
Elma sengaja tidur memunggungi Danu, menunggu pelukan hangat yang tiba-tiba merayap.
Tapi yang Elma dapatkan malah bukan pelukan, melainkan suara dengkuran halus sang suami.
Elma berbalik dan melihat Danu yang tertidur pulas.
"Mas Danuuu!!" kesal Elma.
Niatnya ingin dirayu kini malah dia yang merayu, Elma mengguncang tubuh Danu dan memaksa suaminya untuk bangun.
"Apa sih El?" gumam Danu dengan mata terpejam.
"Peluk!"
__ADS_1
"Ya sudah sini."
Akhirnya malam panjang berakhir, mereka tidur dengan saling memeluk erat.