Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu

Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu
S15TMD BAB 66 - Keren


__ADS_3

Waktu berlalu, tanpa sepengetahuan Danu Elma diam-diam terus belajar dari sang suami. Tentang caranya mempromosikan ponsel yang mereka punya, mulai dari spesifikasi dan semua keunggulan ponsel itu. Danu tak pernah membandingkan satu merek ponsel dengan merek lainnya. Semua keunggulan dan kekurangannya dia jelaskan dengan baik.


Selama ini Danu memang tidak pernah meminta Elma untuk menjual, dia hanya ingin sang istri menemani. Bukan karena merasa Elma tak mampu, hanya saja Danu tak ingin Elma bertemu dengan pelanggan yang menyebalkan. Tak ingin sang istri sakit hati akan hal itu.


"Mas Danu."


"Hem, apa El." Danu yang sedang merapikan replika ponsel di dalam etalase tidak melihat Elma, hanya menyahuti panggilan sang istri.


"Opa dan Arkan akan datang kesini, sehabis Arkan pulang sekolah."


Mendengar itu Danu menyudahi pekerjaannya dan menatap Elma.


"Di toko tidak ada makanan apa-apa, aku beli gorengan dan minuman sebentar ya?" pamit Danu pula, rasanya tak enak hati saat sang mertua datang kesini namun tidak menyajikan apapun.


"Biar aku saja yang pergi Mas."


"Jangan, biar aku saja. Nanti aku beli Aqua 1 dus, jadi bisa kita buat simpanan juga di toko."


"Baiklah," jawab Elma seraya menganggukkan kepalanya kecil.

__ADS_1


Danu berjalan cepat keluar dari toko dan membeli semua yang dia butuhkan, dia sengaja buru-buru karena tidak ingin terlalu lama meninggalkan Elma sendirian di toko.


Sekitar 15 menit pergi, Danu pun kembali. Nafasnya cukup terengah karena dia nyaris seperti berlari.


Namun langkahnya yang cepat perlahan jadi pelan saat dia melihat Elma melayani beberapa pembeli di toko mereka, segerombolan pemuda duduk di depan meja etalase dan Elma dengan senyum cantiknya melayani semua pemuda itu.


"Benar Mas, garansi satu tahun, layar gorilla glass, baterai 6000, penyimpanan dan RAM nya juga besar 6/128. Biasanya sih yang ambil ponsel ini suka main game," terang Elma.


Danu yang sudah masuk ke dalam toko dan mendengar penjelasan itu pun dibuat menganga, tak menyangka Elma bisa menjelaskannya dengan sangat fasih, bahkan terkesan telah ahli menjadi seorang promotor.


"Mbak nya suka main game juga tidak?" tanya pemuda itu yang usianya jelas jauh di bawah Elma.


Danu diam-diam membuang nafasnya kasar, ternyata bertambah 1 lagi alasan kenapa dia tidak mengizinkan Elma ikut berjualan, karena pesona istrinya itu membuatnya cemburu.


"Oke deh Mbak, saya ambil ini."


"Siap Mas, mau di registrasikan langsung?"


"Boleh."

__ADS_1


Elma yang belum belajar caranya meregistrasikan ponsel menoleh ke belakang, menatap suaminya butuh bantuan.


Danu pun mendekat, tersenyum hangat dan menggantikan sang istri. Sementara Elma membuat kwitansi pembelian ponsel itu.


Dan setelah semua pemuda itu pergi, kini Danu menatap istrinya dengan tatapan yang cukup tajam, menusuk hingga tepat di jantung hati Elma.


"Ke-kenapa menatapku seperti itu?" tanya Elma gugup, di kedua tangannya masih memegang uang penjualan 1 unit ponsel tadi.


"Dari mana kamu belajar bicara seperti tadi?"


Elma yang paham kemana arah pertanyaan sang suami pun langsung menjawab dengan jujur.


"Tentu saja mas Danu, setiap hari kan aku lihat, jadi hapal," jawab Elma, seolah itu tanpa sengaja, padahal karena memang dia belajar.


"Kamu membuat jantungku seperti mau copot."


"Kenapa?" tanya Elma lagi.


"Keren."

__ADS_1


"Iiss!"


__ADS_2