Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu

Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu
S15TMD BAB 43 - Berani Melawan


__ADS_3

Setelah banyak mengucapkan kata terima kasih kepada Diaz akhirnya Elma keluar dari ruangan itu.


Dia keluar dengan bibir yang terus mengukir kan senyumnya, membuat Puspa dan Lena yang melihat jadi menatap curiga. Apalagi saat melihat Elma memegang sebuah amplop coklat di salah satu tangan.


Tidak mungkin kan Elma mendapatkan pesangon? sementara wanita tua itu baru beberapa hari bekerja di sini, itulah yang ada di benak Puspa dan Lena.


Dan Lena yang memiliki rasa penasaran lebih besar pun akhirnya memutuskan untuk bertanya.


"Itu apa mbak? pesangon?" tanya Lena, bertanya seperti biasanya, meski tidak ketus namun suaranya terdengar tidak ramah.


"Iya Len, ini upahku beberapa hari bekerja disini," jawab Elma apa adanya, kata Diaz setelah Elma keluar dari ruangan ini maka dia bukan lagi karyawan di toko Glory Aksesoris. Bahkan Elma dipersilakan untuk pulang lebih dulu jika mau.


Tapi Elma yang merasa tak enak hati memutuskan untuk tetap kerja sampai jam toko tutup. Sekaligus menunggu jam pulang kerja Danu.


Dan bukan lagi menjadi bagian dari karyawan, membuat Elma punya keberanian untuk menjawab Lena dan Puspa. Bahkan kini dia mengangkat wajahnya lebih tinggi dari biasanya.


"Kok mbak Elma bisa dapat pesangon? kan kerja di sini belum ada 1 bulan? harusnya mbak Elma tidak mendapatkan apa-apa," tanya Lena lagi dengan nada tak terima, saudaranya bahkan terdengar menggebu.

__ADS_1


Puspa juga menatap tak suka, merasa Elma telah dianak emaskan di toko ini.


"Kenapa jadi kamu yang keberatan? ini kan bukan uang mu, lagipula kalau kamu mau protes katakan langsung pada mbak Diaz, jangan padaku," jawab Elma tak kalah keras.


Kemarin dia memang hanyalah seorang junior yang harus menghormati dan mematuhi seniornya. Namun hal itu tidak lagi berlaku saat ini.


Elma berani melawan, karena selama ini pun Puspa dan Lena sudah memperlakukannya secara keterlaluan. Sangat berbeda saat dia berada di shift siang. Semua orang mengajarinya dengan cara yang lebih baik, tetap sopan meski menjadi senior.


Dan mendengar jawaban Elma membuat Lena dan Puspa terdiam, mana berani mereka menyatakan langsung keluhan pada Diaz. Kedua wanita ini hanya berdecak kesal, kemudian pergi dengan tatapan sinis.


Jam 11 malam Danu datang menjemput Elma. Saat itu Elma langsung berlari menghampiri, keluar lebih dulu ketimbang Puspa dan Lena.


"Seperti nya kamu bahagia sekali?" tanya Danu, saat bertanya itu bibirnya tersenyum, mengikuti gerak bibir sang istri yang juga tersenyum lebar.


Elma tanpa canggung langsung memeluk lengan sang suami, tidak seperti selama ini yang seperti menjaga jarak ketika di dekat toko.


"Iya, sangat bahagia."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Di rumah saja bicara nya."


Mereka berdua pergi dengan Elma yang terus memeluk lengan Danu.


Pandangan itu tentu terlihat jelas di mata Lena dan Puspa, juga teman-teman Danu di seberang sana.


Tapi keduanya tak peduli, hanya ingin menunjukkan rasa sayang satu sama lain. Danu juga tak melarang saat Elma memeluknya erat.


"Lihatlah, kalau janda memang harus seperti itu untuk bisa bertahan hidup, menjijikkan," gerutu Lena.


"Iya, padahal mas Danu itu tampan. Mau-maunya dia dekat dengan janda."


"Jandanya main dukun!" kesal Lena.


Kedua wanita ini saling bersahut, terus membicarakan hal buruk tentang Elma. Seolah semua yang mereka ucapkan adalah benar.

__ADS_1


__ADS_2