
Pagi datang.
Tapi rencana tak selalu sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
Danu, Elma dan Arkan tertawa saat melihat diluar sana hujan turun. Pertama hanya gerimis lalu lama kelamaan berangsur jadi hujan yang cukup lebat.
Mereka berdiri tepat di depan jendela, menatap hujan diluar sana dengan kedua tangan yang sama-sama terlipat di depan dada.
Menahan dinginnya udara pagi ini.
Mereka urung ganti baju dan bersiap-siap untuk pergi ke taman kota, nyatanya hingga jam 7 kini mereka masih sama-sama menggunakan baju tidur.
"Ini bukan mau papa ya, papa sudah berniat untuk mengajak kalian pergi, tapi ternyata malah hujan," ucap Danu, dia tidak ingin disalahkan karena kali ini mereka gagal pergi bersama. Bukan mau dia hujan turun pagi ini.
"Iya Pa, aku tau. Setidaknya tadi malam aku sudah bermimpi kita sampai di taman kota," jawab Arkan, sebuah jawaban yang seolah penuh dengan sindiran. Bahkan Danu saat mendengar kalimat itu pun langsung melihat sang anak, dilihatnya Arkan yang terkekeh pelan.
"Sindiran mu sangat tajam," balas Danu pula.
Dan Elma yang berada di tengah-tengah perdebatan ini pun hanya mampu terus tertawa.
"Tidak jadi pergi hari ini, kita masih pergi di lain waktu," terang Elma pula dan diangguki oleh Danu dan Arkan.
Perhatian mereka semua yang sedang melihat ke arah luar teralihkan saat mendengar suara Lusi memanggil ...
__ADS_1
"Danu, Elma, Arkan, ayo sarapan dulu Nak!" panggil Lusi dari arah dapur.
"Iya Oma!" Elma yang menyahuti.
Saat itu Elma dan Arkan pergi lebih dulu menuju dapur sementara Danu masih berada di sini untuk menghubungi Bayu.
Bayu baru saja sampai di toko, masih beres-beres sebelum di buka untuk umum.
"Baiklah, nanti aku datang ke toko jam 10."
"Iya," balas Bayu, karena hujan kali ini turun merata di seluruh kota Bayu pun tahu jika Danu dan keluarganya tidak jadi pergi bersama.
Dan setelah menghubungi Bayu, Danu dengan segera bergabung bersama keluarganya.
Jam setengah 10 hujan masih turun, meski tidak selebat tadi pagi. Tapi hal itu tidak menghalangi niat Danu untuk pergi ke toko karena dia bisa pergi menggunakan mantel.
Kini mereka tengah berada di dalam kamar berdua. Elma sedang memperhatikan sang suami yang sedang bersiap untuk pergi.
Elma menatap Danu penuh harap, dia sungguh ingin ikut.
Sementara Danu sungguh tak tega jika Elma ikut pergi juga, apalagi di luar sana masih hujan.
Namun untuk melarang pun rasanya tak kuasa, tatapan Elma yang penuh harap membuat nya lemah.
__ADS_1
"Tapi di luar hujan Ma."
"Papa tidak ingin aku ikut?"
"Baiklah ayo pergi, pinjam jaket Oma ya? kamu kan kemarin tidak bawa jaket."
Mendengar itu Elma langsung tersenyum lebar, dia bahkan bangkit dari duduknya di tepi ranjang dan memeluk Danu erat.
Danu pun membalas pelukan itu, juga mengelus kepala sang istri dengan sayang.
Hujan-hujan mereka tetap memutuskan untuk pergi ke toko. Sama-sama menggunakan mantel mereka menembus jalanan kota.
Di belakang Elma pun memeluk suaminya erat, hujan ini sungguh tak membuatnya merasa kedinginan.
Bagi Elma ini semua terasa lebih menyenangkan dari pada hanya di rumah.
Sampai di toko, Danu membantu Elma untuk melepaskan mantelnya.
"Dingin?" tanya Danu dan Elma menggeleng.
Tapi Danu tidak percaya, dia mencium pipi istrinya dan merasakan pipi yang begitu dingin.
"Bohong." balas Danu, dan Elma langsung memukul dada suaminya pelan, seraya tertawa renyah.
__ADS_1
Bayu yang melihat kedatangan mereka, lengkap dengan adegan itu hanya mampu geleng-geleng kepala.
Jadi ingin menikah juga.