
Siang menjelang sore saat itu, Danu dan Elma memutuskan untuk pulang. Arkan juga akan ikut bersama mereka tapi pulangnya bersama dengan Herman dan Lusi menggunakan mobil.
Sekitar jam 3 sore, mereka semua sampai di rumah. Herman dan Lusi hanya singgah sebentar kemudian kembali memutuskan untuk pulang.
Selepas itu Elma sibuk sendiri dengan pekerjaan rumahnya, sementara Danu menghampiri Arkan di dalam kamar, melihat sang anak yang sedang membereskan buku-bukunya di meja belajar.
Tatapannya kemudian tertuju pada jadwal belajar Arkan yang baru saja di tempelkan oleh sang anak di dinding.
Danu membaca catatan itu sekilas.
"Habis try out masih ada Les Ar?" tanya Danu, awalnya dia duduk di tepi ranjang sang anak, kemudian kini mendekati Arkan dan membaca lebih jelas tentang jadwal itu.
"Iya Pa, 2 bulan ini masih ada Les, tanggal 15 Juli baru ujian nasionalnya."
"Apa tidak capek belajar terus?"
"Belajarnya sedikit-sedikit kok Pa, tapi terus biar paham dan terekam di ingatan."
"Kamu tidak merasa lelah?"
__ADS_1
"Tidak, tapi teman-teman ku banyak juga yang mengeluh lelah Pa, padahal Les asik juga, daripada belajar sendirian di rumah. Kalau di sekolah kan banyak teman-teman jadi lebih semangat."
Danu tak menanggapi lagi, dia menatap sang anak yang bicara seolah tanpa beban. Dari sana Danu berpikir, bahwa mungkin saja Arkan memang menyukai belajar seperti ini, mungkin saja saat besar nanti Arkan ingin jadi guru, begitulah yang diyakini Danu.
Dan keyakinannya itu membuat Danu langsung memikirkan bagaimana caranya untuk selalu mendukung sang anak.
Cukup lama Danu di sana sampai akhirnya dia memutuskan untuk keluar. Indera penciumannya langsung menghirup aroma nikmat dari arah dapur.
Danu pun menghampiri dengan bibir yang tersenyum, dia tahu jika Elma sedang memasak makanan kesukaannya dan Arkan, sambel ikan tongkol.
"Masak apa El?" tanya Danu, pura-pura tidak tahu, tapi Elma tak langsung menjawab, apalagi saat dia melihat Danu yang mengukur senyum kecil, pastilah suaminya itu sudah tahu apa yang dia masak tanpa perlu mengatakannya langsung.
Dan senyum Danu makin mengembang saat sudah berdiri di samping sang istri dan melihat Elma yang memasak ikan kesukaannya itu.
"Yang manis ya?"
"Iya," balas Elma singkat.
Elma membeli ikan ini dengan uang hasil kerjanya beberapa hari kemarin, sengaja dia gunakan untuk masak enak menyambut kepulangan sang anak.
__ADS_1
Sementara sisanya yang lain dia gunakan untuk membeli keperluan dapur.
Meski uang yang dia hasilkan tak banyak, tapi cukup membantu. Jadi uang pemberian Danu masih bisa dia simpan untuk beberapa hari ke depan.
Dan karena itulah kini Elma jadi ingin kembali bekerja, jika dia dan Danu sama-sama mencari uang, mereka bisa memiliki tabungan. Tidak hanya habis untuk dimakan.
"Mas," panggil Elma, melihat suaminya yang ceria membuatnya berani bicara.
"Apa El?"
"Bagaimana kalau aku cari kerja lagi? kerja yang shift pagi, menyesuaikan jam sekolahnya Arkan, jadi Arkan pulang aku juga sudah di rumah," tanya Elma seraya menjelaskan maunya.
Dan mendengar itu senyum Danu sedikit pudar, namun dia mengelus puncak kepala Elma dengan sayang. Pasti akan sulit menemukan pekerjaan sesuai dengan yang kita inginkan. Yang ada kita harus selalu mematuhi aturan di tempat kerja.
Danu membuang nafasnya pelan, melihat kesungguhan Elma untuk membantu ekonomi keluarga membuatnya semakin membulatkan tekad untuk membuka usaha sendiri.
"Baiklah, kamu boleh bekerja. Tapi nanti di toko kita sendiri," jawab Danu.
Sebuah jawaban yang membuat Elma mendelik.
__ADS_1
"Ha? toko kita sendiri?"