
Pagi datang, ini adalah hari Sabtu dan Elma masih belum menemukan titik terang dalam pekerjaan nya. Dia tidak bisa pindah shift siang dan belum bisa keluar karena penggantinya belum ada. Sementara besok dia dan Danu sudah berniat untuk menjemput sang anak, Arkan.
Hal itu tentu menyita pikiran Elma, membuat wanita cantik ini jadi sering melamun.
Dia termenung, tak peduli jika sedari tadi air di westafel cuci piringnya terus menyala, sementara semua cucian kotor sudah selesai ia kerjakan.
Danu yang baru selesai mandi pun menghampiri sang istri di dapur, melihat Elma yang seperti itu tentu membuatnya bersedih.
Bahkan Elma sampai tak menyadari kedatangannya.
Danu pun mendekat, memeluk erat tubuhn Elma dari arah belakang. Sebuah gerakan yang akhirnya membuat Elma sadar.
Buru-buru Elma memutar kran air di westafel hingga mati.
"Mas," ucap Elma, dia sedikit terkejut.
"Hem, kenap melamun?" tanya Danu, sementara Elma malah membuang nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Katakan," ucap Danu lagi, dia ingin kini sang istri selalu mengutarakan apa isi hatinya, bukan hanya diam dan meminta dia untuk menebak. Karena jujur saja, Danu tidak akan bisa melakukan hal itu.
"Besok sudah hari minggu Mas, tapi aku belum tau bagaimana di toko," jelas Elma lirih, bingung sekali.
"Tenang saja, doakan saja hari ini sudah ada pengganti mu," jawab Danu, dia semakin memeluk Elma bahkan mencium pipi sang istri dari arah samping.
Pelukan hangat namun masih tetap saja tak mampu membuatnya tenang. Andai belum mendapatkan pengganti, rencananya Elma akan kembali menghadap Diaz. Dia akan tetap keluar dan tidak akan kembali lagi, karena Arkan sudah kembali.
Elma yang kembali melamun sontak tersadar lagi saat merasakan salah satu tangan suaminya menelusup masuk ke dalam baju yang dia kenakan. Tiba-tiba sudah bersarang di salah satu dada dan memainkannya dengan lembut.
"Mas."
"Kalau pagi kan Arkan sekolah Mas, kita masih banyak waktu berdua," jawab Elma, karena memang begitulah adanya kan?
Tapi Danu tak lagi menanggapi, malah menyeringai dan mulai memposisikan diri. Danu bahkan kembali menyalakan air kran di westafel, membuat suara desaah Elma berbaur dengan suara air itu.
Saat sore Elma dan Danu kembali bekerja.
__ADS_1
Elma tetap merias dirinya cantik, tetap melayani pelanggan dengan sangat baik, meski tahu jika pekerjannya ini hanyalah sia-sia karena dia tidak akan mendapatkan upah.
Tapi lama berpikir membuat Elma sadar satu hal, ini memang bukan rejekinya. Namun berkat bekerja disini hubungannya dengan sang suami jadi membaik, itu adalah hal yang sangat dia syukuri.
Jam 9 malam saat ada waktu luang, Elma kembali menghadap Diaz di ruangannya.
Elma duduk dan langsung mengatakan niatnya jika besok dia tidak akan lagi datang ke toko ini.
Diaz tentu kecewa, namun dia cukup bangga karena Elma berani menghadapi semuanya. Lain dengan karyawan lama yang langsung pergi-pergi saja tanpa pamit, tanpa kejelasan.
"Baiklah Mbak, tidak apa jika besok mbak Elma tidak masuk," jawab Diaz.
"Ini ada sedikit uang untuk upah mbak Elma selama bekerja disini, hanya sedikit memang, tapi saya sangat berharap mbak Elma menerimanya," jelas Diaz lagi, dia bukanlah pemilik toko, hanya kepala toko saja. Upah ini pun dia dapat setelah meminta izin dari owner-nya langsung.
Elma terpaku, tak menyangka akan mendapatkan uang itu.
"Nanti kalau ada lowongan kerja di shift siang, saya akan hubungi mbak Elma," ucap Diaz dengan bibir yang mulai tersenyum. Dalam pekerjaan Elma memang sangat baik.
__ADS_1
Membuat Elma sangat bersyukur. Juga bahagia sekali, meski sedikit namun dia berhasil mendapatkan uang.
Semuanya tak seburuk yang selama ini dia pikirkan.