Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu

Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu
S15TMD BAB 44 - Telah Banyak Waktu Yang Hilang


__ADS_3

Semalam Elma dan Danu sama-sama merasa lelah, mereka tak sempat saling bicara sebelum tidur. Yang ada keduanya langsung terlelap, tidur dengan posisinya masing-masing yang membuat nyaman.


Danu tidur dengan posisi terlentang sementara Elma memeluk guling menghadap sang suami.


Pagi datang, gerimis sedikit turun pagi ini. Elma yang biasanya langsung bangun dan berkutat di dapur pagi ini malah merasa enggan untuk turun dari atas ranjang.


Dia justru menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


"El?" panggil Danu, dia juga sudah bangun tapi masih betah tidur disini.


"Hem."


"Kenapa?"


"Dingin," jawab Elma singkat. Danu lalu mengikis jarak dan memeluk istrinya erat.


Elma pun menyambut itu, dia membalas tak kalah erat pelukan sang suami.


"Mas."


"Apa?"


"kemarin aku kembali menemui mbak Diaz."


"Lalu apa katanya?"

__ADS_1


"Katanya aku boleh berhenti bahkan sebelum ada pengganti, dia juga memberi ku upah untuk beberapa hari bekerja di sana," jelas Elma apa adanya, saat menjelaskan itu dia masih menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Danu.


Dan mendengar cerita itu, membuat Danu mengukir kan senyum.


"Wajar saja semalam kamu terlihat bahagia," balas Danu dan Elma mengangguk.


"Kata mbak Diaz, kalau ada lowongan shift siang juga dia akan menghubungi aku."


Danu mengangguk.


Elma lalu melepaskan pelukan mereka dan bangun lebih dulu, tapi dia tidak keluar dari kamar melainkan mengambil sesuatu di dalam tas kecilnya.


Mengambil amplop coklat berisi gaji yang dia dapatkan.


Ini adalah gaji pertama yang Elma dapatkan, meski jumlahnya tak banyak namun rasanya sangat bahagia sekali.


Elma membuka amplop itu dan menunjukan isinya pada Danu.


"Ini Mas, bahkan tidak ada seperempatnya dari gaji kamu," jelas Elma, bibirnya tersenyum namun sorot matanya terlihat sendu. Jadi ingat dia yang dulu selalu murung saat Danu pulang hanya membawa sedikit uang.


"Bersyukur El, berapapun jumlahnya ini adalah hasil kerja keras mu," ucap Danu, dia sedikit bangkit dan mengecup sekilas bibir sang istri.


Sebuah kecupan yang membuat Elma jadi tersenyum, dia lalu memeluk Danu erat dan menindih sang suami.


"Terima kasih Mas."

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih karena kamu sudah mau jadi suamiku."


Danu terkekeh. Mereka saling memeluk erat dan sama-sama tertawa pelan pagi itu.


Selesai sarapan dan membereskan rumah, Danu dan Elma segera menuju rumah Herman. Pagi ini juga dia akan langsung menjemput Arkan untuk pulang.


Namun sebelumnya mereka berdua juga sudah bersepakat, untuk lebih dulu menanyakan pada Arkan bagiamana maunya. Apa Arkan ingin pulang atau tetap tinggal di rumah kakek dan neneknya.


Jam 9 pagi mereka sampai, saat itu Arkan sedang bermain bola di halaman depan bersama Herman.


Danu yang melihat itu tersenyum kecut. Menyadari telah banyak waktu yang hilang diantara dia dan Arkan. Hingga kini sang anak berusia 14 tahun dan dia tak pernah memiliki waktu bersama seperti ini.


Bahkan hanya sekedar untuk mengajak Arkan bermain bola.


Dan melihat ayah dan ibunya datang, Arkan segera berlari menghampiri, mendekat ke arah motor sang ayah yang berhenti di depan teras.


"Pa, Mama."


Elma langsung turun dan memeluk sang anak erat.


"Hari ini kita pulang ya?" tanya Elma langsung, sementara Arkan tak langsung menjawab, dia melihat sang ayah sejenak, lalu menatap sang kakek di belakang.


Jadi bingung mau bagaimana.

__ADS_1


__ADS_2