
Elma masih terus berdiri di teras rumahnya meski Danu dan Arkan sudah cukup lama menghilang dari pandangan.
Entah kenapa kali ini Elma merasa sangat berat untuk melepaskan sang suami pergi. Rasanya tak terima andai nanti tanpa sengaja Danu dan Shaha bertemu lagi.
Hari ini Danu rencananya akan menemui beberapa pemilik toko konter besar yang pernah dia datangi sebagai promotor.
Danu ingin menawarkan sebuah kerja sama.
"Huh, ya ampun kenapa pikirkan ku jadi seperti ini," keluh Elma, sesaat dia menyalahkan diri sendiri, namun nanti kembali berpikir yang bukan-bukan. Terus seperti itu hingga Lusi sampai ke rumah ini. Bahkan Lusi datang saat Elma masih melamun di teras rumah.
Lusi bisa membaca banyaknya pikiran sang anak dari raut wajah Elma yang terus melamun.
"El, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Lusi, saat ini mereka berdua duduk di ruang tengah. Di depan sana ada televisi yang menyala dan di meja ada beberapa makanan ringan, makanan yang dibawa Lusi untuk Arkan.
Ditanya seperti itu sontak saja Elma langsung menatap ke arah ibunya, lalu tersenyum dengan kikuk.
__ADS_1
"Tidak ada kok Ma, semuanya baik-baik saja," jawab Elma dengan gugup.
"Kamu selalu saja seperti itu, tidak pernah mau berbagi dengan Oma."
"Memang tidak ada apa-apa Oma, aku baik-baik saja."
"Tapi dari tadi kamu melamun."
Elma terdiam.
"Tidak Oma."
"Lalu?" Lusi terus bertanya seolah mendesak, dia bukan hanya ingin sekedar tahu untuk mencampuri urusan rumah tangga sang anak tapi Lusi sungguh-sungguh peduli dan ingin membantu anda ada sesuatu yang terjadi.
Namun Elma yang tak biasa menceritakan masalah rumah tangganya, merasa sangat berat untuk mengatakan isi hati.
__ADS_1
Akhirnya dia hanya diam dan membiarkan Lusi menerka-nerka sendiri apa masalah yang Elma punya.
"Kamu selalu cemburu dengan Danu ya? itu terlihat sekali saat kamu melihat suami mu pergi bekerja, seolah kamu tidak ikhlas," terang Lusi.
Lagi-lagi Elma hanya diam tidak langsung membantah ucapan Lusi dan hal itu membuat Lusi yakin jika tebakannya benar.
"Oma dulu juga begitu El, tiap Opa pergi bekerja Oma di rumah selaku berpikir yang bukan-bukan, bahkan kadang sampai terbawa mimpi," ucap Lusi lagi, menceritakan dia dulu yang mungkin bisa jadi pembelajaran untuk Elma saat ini.
"Karena rasa kecurigaan yang tidak berdasar dari Oma, kami jadi sering bertengkar. Opa jadi tidak fokus dalam bekerja dan berakibat pula pada ekonomi keluarga yang tidak berkembang ..."
"Tapi kemudian Opa terus menyakinkan Oma dan Oma pun coba berdamai dengan perasaan Oma sendiri. Bahwa hidup harus terus kita jalani dengan bahagia, bukan berkutat dengan banyak pikiran buruk ..."
"Saat itu Oma sudah memiliki kamu dan kakak-kakak mu yang lain, melihat kalian membuat Oma juga ingin berusaha bagaimana caranya bisa membahagiakan kalian. Sadar tak bisa memberikan limpahan materi, jadi Oma hanya bisa mendukung semua usaha Opa ..."
"Dan untunglah, setelah Oma ikhlas, Opa jadi bisa lebih leluasa bekerja di luar,sampai akhirnya dia di angkat jadi pegawai negeri waktu itu ..."
__ADS_1
"Ikhlasnya seorang istri, itu sangat berpengaruh untuk usaha suami El, berdoa saja bahwa suami kita adalah jodoh dunia akhirat. Berhenti berpikir yang bukan bukan, itu hanya akan menimbulkan sakit hati dan lelah yang tak berkesudahan."