Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu

Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu
S15TMD BAB 39 - Berusaha Untuk Dekat


__ADS_3

Hari berlalu, pagi ini Danu datang pagi-pagi sekali ke rumah Herman.


Dia memilih untuk masuk shift siang lagi agar pagi ini bisa mengantar ke sekolah sang anak.


Masih jam setengah 7 pagi, Danu sudah mengetuk pintu rumah mertuanya. Dia menggunakan jaket untuk menghalau dinginnya pagi dalam perjalanan kemari.


Saat itu Arkan lah yang membukakan pintu untuk Danu. Anak remaja yang ketampanannya turun dari sang ibu ini cukup terkejut saat melihat sang ayah berdiri di sana.


"Papa, kenapa pagi-pagi kesini?" tanya Arkan, bertanya dengan antusias dan membuka pintu lebar agar sang ayah masuk.


"Papa ingin mengantar mu sekolah Ar," jawab Danu apa adanya, sadar telah banyak waktu yang hilang diantara mereka berdua membuat Danu ingin perlahan memperbaiki. Perlahan mengikis jarak diantara dia dan sang anak yang sempat tercipta.


"Siapa Ar?" teriak Herman dari arah dapur.


"Papa Danu Opa."


"Ya sudah sini ikut sarapan," ucap Lusi pula yang langsung menghampiri saat mendengar nama Danu.


"Tadi sudah sarapan di rumah Oma."


"Ya sudah sedikit saja maknanya, ayo ke meja makan," paksa Lusi, dia tidak akan puas sebelum melihat ada nasi masuk ke dalam perut sang menantu. Apalagi Danu sudah jauh-jauh datang kemari di jam sepagi ini.


Danu tak bisa menolak, akhirnya dia kembali sarapan. Padahal di rumah tadi dia juga sudah makan bersama Elma.

__ADS_1


"Opa, pagi ini papa akan mengantarku ke sekolah," jelas Arkan pada sang kakek.


"Kamu tidak kerja?" tanya Herman, arah matanya tertuju pada Danu. Pertanyaan itu memang untuk menantu nya.


"Ambil shift siang Opa, jadi pagi sampai jam 2 masih berada di rumah."


"Oh tumben, tapi baguslah. Jadi banyak waktumu di rumah bersama keluarga."


Danu mengangguk.


Lusi memang masih memperlakukannya seperti biasa, tapi entah kenapa Danu merasa Herman bersikap lain. Setelah pembicaraan tentang Arkan kemarin seolah kini Herman jadi memberi jarak.


Tapi Danu tak ingin berburuk sangka, dia tetap bicara hangat dengan senyumnya yang lebar.


Mengendarai kendaraan roda dua itu menuju ke sekolah.


Berulang kali Danu coba bicara pada sang anak, membicarakan hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.


Namun diam-diam Arkan tersenyum, dia cukup tahu jika sang ayah sedang berusaha untuk dekat.


Karena itulah dia juga menanggapinya dengan antusias.


"Kalau di sekolah negeri ada beasiswa Pa, kalau swasta biasanya biaya lebih mahal," terang Arkan, saat ini mereka berada tengah berhenti di lampu merah.

__ADS_1


Tadi Danu bertanya kira-kira setelah lulus Arkan ingin melanjutkan sekolah dimana dan kenapa?


"Tapi kalau sekolah negeri lebih jauh Ar, memangnya kamu berani?"


Arkan terkekeh.


"Tentu saja berani Pa, aku kan sudah besar. Ada juga teman ku nanti pergi ke sekolah."


"Tapi kalau mengejar beasiswa kamu harus selalu belajar untuk menjaga nilai, papa tidak ingin kamu tertekan Ar."


"Semua itu tergantung Arkan Pa, mau menganggapnya sebagai beban atau tidak. Kalau kata guru Arkan, kita cintai dulu pelajarannya, nanti akan terasa lebih menyenangkan, bukan beban." Terang Arkan lagi, membuat kedua pria beda generasi ini tersenyum di tengah-tengah antrian lampu merah pagi itu.


Saat lampu berubah hijau, Danu kembali memutar gas dan melaju.


"Jadi SMAN 1?"


"Iya!" jawab Arkan dengan suara antusias.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


SMAN 1 tempatnya Gala dan Giselle sekolah, apa ada yang sudah baca?


__ADS_1


__ADS_2