
"Ayo masuk dulu," ucap Herman yang juga langsung menghampiri Elma dan Danu.
Seketika itu juga Elma teralihkan dari pertanyaannya pada Arkan. Pertanyaan tentang ajakan untuk pulang.
Mereka semua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah, seperti biasa Elma akan langsung menuju dapur untuk membuatkan suaminya minuman hangat.
Saat itu Lusi tengah menyetrika baju, dia duduk di karpet yang juga ada di ruang tengah itu.
"Ar, rencananya papa dan mama ingin mengajak mu pulang. Tapi sebelum itu, papa ingin tahu mau mu bagaimana, ikut pulang bersama papa atau tetap tinggal disini?" tanya Danu, setelah berbincang sebentar dengan Herman dan Lusi, dia kemudian menanyakan pertanyaan itu pada sang anak.
Elma juga sudah ada disini, sudah ikut bergabung dan duduk di bawah bersama sang ibu.
Ditanya seperti itu Arkan tak langsung menjawab, jujur saja dia jadi serba salah. Terlebih semalam Herman sempat memintanya untuk tetap tinggal di rumah ini menemani dia dan Oma. Kata Herman, setidaknya Arkan tinggal disini sampai kelulusan sekolah nanti.
Dan raut wajah bingung itu, bisa Lusi lihat dengan jelas. Arkan ingin pulang namun merasa tak enak hati pada Herman.
__ADS_1
"Arkan, kalau mau pulang tidak apa-apa sayang, tiap sabtu minggu kan bisa main kesini lagi. Nanti Opa dan Oma bisa menjemput Arkan," ucap Lusi, bicara dengan kedua tangannya yang masih sibuk menyetrika.
Mendengar itu Danu dan Elma bernafas lega, namun tidak dengan Herman dan mendesaah kecewa. Tak menyangka jika Lusi malah tidak berpihak padanya.
Namun Herman urung buka suara, saat melihat wajah Arkan yang jadi ceria. Dari raut wajah itu Herman pun tahu, jika Arkan benar-benar ingin pulang.
Herman tak berkutik, dia akhirnya hanya bisa pasrah.
Pagi menjelang siang saat itu akhirnya mereka semua mendapatkan jawaban, bahwa Arkan akan pulang.
Elma dan Lusi juga pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Menyisahkan Danu dan Herman saja berdua di ruang tengah. Kedua pria ini masih asik berbincang membicarakan banyak hal.
"Sebenarnya opa punya sedikit modal untuk kalian buka usaha, jadi coba pikirkanlah kira-kira usaha apa yang mau kalian buat," ucap Herman, sebuah ucapan yang langsung membuat Danu diam seribu bahasa.
__ADS_1
Bukan bingung tentang usaha apa yang akan dia buat, tapi sungguh merasa tak enak hati saat mendengar tawaran itu.
Sudah sejak lama memang Danu ingin punya usaha sendiri, dia juga tak mungkin selamanya bekerja seperti ini.
Selama ini diam-diam Danu juga menabung untuk membuka usaha itu, namun tetap saja rasanya masih kurang.
"Apapun usaha yang akan kamu dan Elma lakukan, opa dan oma akan dukung Nu. Selama kalian masih bersemangat, opa dan Oma sudah sangat bersyukur." Terang Herman lagi.
Dan Danu sungguh tak kuasa untuk menjawab sepatah kata pun.
Malah kata maaf yang keluar dari mulutnya.
"Maafkan aku Opa, maaf karena hingga kini aku masih terlalu banyak merepotkan opa dan Oma."
"Jangan bilang begitu, kamu dan Elma adalah anak-anak kami Nu, untuk apa kami ada kalau bukan untuk membantu kalian agar sukses," terang Herman, memang begitulah yang dia rasakan. Sangat tulus menyayangi Elma dan Danu, terlebih Arkan.
__ADS_1
"Setelah ini bicarakan lah dengan Elma, apa rencana kalian kedepan."