Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu

Setelah 15 Tahun Menikah Denganmu
S15TMD BAB 72 - Oma Tidak Setuju


__ADS_3

Usia kandungan Elma baru menginjak umur 5 Minggu, kondisi tubuh Elma pun sehat tak ada gangguan. Tekanan darah dan berat badan semuanya normal.


Selesai melakukan pemeriksaan mereka pun langsung pulang dengan membawa buku kehamilan dan beberapa obat yang harus rutin diminum oleh Elma.


Mereka berdua langsung menuju toko dan membukanya.


Tak berselang lama mulai banyak pengunjung yang datang, bahkan sebagian mengatakan jika mereka sudah menunggu sedari tadi.


Danu juga mempromosikan tokonya di media sosial, jadi makin banyak yang tau tentang toko nya ini. Kerja sama Danu dengan beberapa toko juga membuatnya semakin banyak keuntungan, karena secara tidak langsung semua jenis ponsel dan tipe bisa dia sediakan dengan lengkap.


Terkadang Danu pun pergi menggunakan motor nya untuk mengambil barang di toko lain sesuai dengan keinginan pelanggan di toko nya.


Semuanya Danu usahakan bisa, jadi para pelanggan merasa puas.


Sementara itu di tempat lain, Arkan pun tengah menghadapi hari-harinya yang sibuk.


Setiap hari waktu berjalan dan mendekati hari dimana dia akan ujian nasional.


"Ar, makan dulu sayang," ucap Lusi, dia menghampiri sang cucu ke dalam kamar. Arkan pun sontak menoleh, melihat sang nenek datang.


"Sebentar lagi Oma, nanggung."

__ADS_1


Lusi tersenyum, dia semakin mendekati Arkan dan berdiri persis si samping sang cucu. Dia melihat juga apa yang tengah di kerjakan oleh Arkan.


"Itu apa?" tanya Lusi, saat dilihatnya kertas itu terlihat asing, bukan buku pelajaran Arkan.


"Ini formulir untuk mengajukan beasiswa Oma."


"Beasiswa?" tanya Lusi untuk memperjelas dan Arkan mengangguk.


Setelahnya Arkan menjelaskan semua pada sang nenek tentang beasiswa itu, beasiswa dari salah satu yayasan yang fokus pada pendidikan. Bukan beasiswa dari sekolah.


Beasiswa dari yayasan itu jumlahnya lebih besar, bukan hanya cukup untuk menanggung biaya SPP seperti yang ada di sekolah tujuannya nanti.


"Nanti ada ujiannya juga dari mereka."


"Banyak sekali ujian mu Ar, tidak bisakah kamu fokus saja pada ujian nasional?"


"Oma tidak perlu cemas, materinya sama kok. Jadi sama-sama masih bisa belajar. Bukan cuma aku saja Oma yang mengajukan beasiswa ini, teman-teman ku juga banyak yang mengajukan." bohong Arkan, karena nyatanya hanya 5 orang yang bisa mengikuti seleksi beasiswa dari yayasan itu, hanya siswa yang selama ini selalu menempati juara 1 di sekolah.


"Tetap saja Oma merasa tidak setuju, Oma tidak suka kamu belajar dengan keras seperti ini. Tentang biaya sekolah mu tenang saja, tidak usah dipikirkan. Mama dan Papa pasti sudah menyiapkan semuanya untuk mu," terang Lusi lagi.


Arkan hanya menanggapinya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Ya?" tuntut Lusi, ingin Arkan mengiyakan ucapannya.


"Iya Oma."


"Bagus, tinggalkan itu dan ayo kita makan malam."


Arkan mengangguk, Lusi lantas menarik sang cucu untuk mengikuti langkahnya keluar dari dalam kamar ini. Mereka berdua menuju dapur, dimana Herman sudah menunggu.


Mereka bertiga makan malam bersama, ada Arkan di rumah ini membuat suasananya jadi tak terasa sepi.


Herman dan Lusi merasa sangat bahagia.


"Tambah lauknya ya," ucap Lusi, dia bahkan langsung menambahkan lauk di piring Arkan.


"Nanti lama-lama aku gendut Oma."


"Tidak masalah, daripada kurus seperti Opa."


Herman yang disebut pun melirik, tapi mulutnya masih terus mengunyah makanan.


Dan Arkan hanya terkekeh pelan.

__ADS_1


__ADS_2