
Pagi itu hawa sangat dingin setelah hujan deras semalam, tapi sepasang suami istri di dalam rumah kecilnya itu tak merasa kedinginan sedikitpun.
Keduanya malah berbagi peluh dan desaah yang membuat tubuh jadi panas.
Awalnya Elma yang memimpin permainan, namun saat dia sudah terkulai lemas Danu mengambil alih.
Memimpin dengan pasti tiap hentakan yang menciptakan nikmat. Bahkan dessaah Elma pun ikut teratur sesuai dengan hentakan yang Danu berikan.
Terus bersenggama hingga akhirnya sampai di puncak nirwana. Lenguh panjang itu bersahut, diawal dengan nada tinggi hingga merendah dan hilang.
Menyisahkan nafas yang terengah dan tersengal.
Danu tersenyum, menatap Elma yang terlihat sangat cantik di bawah kuasanya. Tubuhnya mengkilap dengan keringat. Dadanya juga masih menegang dan naik turun saat mengatur nafas.
"Mas, lepas," rengek Elma, dia sudah sangat haus dan ingin berlari ke dapur untuk minum.
"Haus ya?"
"Iya."
"Biar aku ambilkan."
"Kita sama-sama saja, habis itu langsung sarapan. Aku juga lapar."
Danu terkekeh, sangat tahu usaha keras Elma untuk membuatnya senang. Sampai-sampai wanitanya jadi kelaparan.
Danu lantas melepaskan diri, mengambilkan baju daster milik Elma di dalam lemari.
__ADS_1
"Tidak usah pakai dalaman," ucap Danu seraya menyerahkan baju daster berbahan katun itu. Terasa sangat lembut.
"Kenapa?" tanya Elma, dia sudah duduk di tepi ranjang dan mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda.
"Tidak apa-apa, kan cuma kita berdua di rumah."
"Baiklah," jawab Elma menurut, dia sudah bertekad untuk jadi istri yang patuh.
Elma menggunakan baju daster itu langsung, membuat beberapa bagian tubuhnya tercetak dengan sempurna. Bahkan kedua puncak dadanya pun terlihat menyembul seperti titik besar.
Melihat itu Danu terus tersenyum, dia bahagia sekali.
Pagi itu selesai sarapan, mereka berdua memutuskan untuk mengunjungi rumah Herman. Sebelum membawa Arkan pulang, mereka berdua berniat untuk mengatakan tentang hubungan keduanya yang kembali rujuk.
Mumpung Arkan sekolah jadi mereka bisa bicara dengan leluasa.
Jam setengah 10 pagi motor Danu sudah sampai di halaman rumah Herman. Dia dan Elma berjalan beriringan masuk.
Jadi kali ini dia menyambut dengan perasaan bahagia.
"Elma, Danu," sapa Lusi, dia membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
Lalu sama-sama masuk dan langsung menuju ruang tengah.
"El, buatkan Danu minuman."
"Iya Oma," jawab Elma, saat itu Lusi langsung memanggil Herman yang sedang berapa di kolam ikan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Lusi kembali.
"Danu, kamu temui opa di samping saja, katanya nanggung, opa sedang membersihkan kolam."
"Iya Oma." Turut Danu.
Lusi kemudian menemui sang anak yang berada di dapur. Melihat Elma yang sedang mengaduk minuman untuk suaminya.
"Ini ada pisang, di goreng saja El."
"Iya Oma, nanti Elma goreng."
"Pagi tadi Oma cuma goreng sedikit, cuma buat Arkan. Opa mu sudah bosan katanya, tapi pisang di belakang banyak sekali. Kan sayang kalau tidak diolah."
Elma tersenyum kecil, di belakang rumah memang ada beberapa pohon pisang. Pisang 1 tandan memang akan terasa banyak sekali jika hanya dimakan orang dua.
"El."
"Iya Oma."
"Kamu dan Danu sudah baikan?"
Elma mengangguk malu-malu.
"Pantesan."
"Kenapa Oma?"
__ADS_1
"Itu leher mu merah-merah."
HA! TIDAK!! Elma kehilangan muka.