
"Toko kita sendiri?" tanya Elma untuk yang kedua kali, dia menatap Danu butuh penjelasan.
Dilihatnya sang suami yang malah tersenyum teduh, juga membelai wajahnya dengan lembut.
Danu teramat sangat menyayangi wanita ini, wanita yang sudah dia nikahi 15 tahun silam dan tetap setia hingga kini. Meski hidup bahagia yang selama ini Danu janjikan belum mampu terwujud.
Bahkan jauh dari harapan rumah tangga bahagia yang mereka harapkan dulu.
"Tadi Opa bilang beliau ada sedikit modal untuk kita membuka usaha, niat ku ingin membuka toko konter sendiri di pasar. Kita sewa tempat dan jalin kerja sama dengan toko ponsel yang lebih besar." Jelas Danu, bukan hanya itu saja Dia juga menerangkan secara rinci mau bagaimana nanti.
Di awal mungkin mereka hanya mampu membeli beberapa unit ponsel saja, sementara yang lain masih menjualkan milik orang lain.
Tapi tak apa, yang penting toko penuh dulu, banyak pilihan untuk menarik pengunjung.
Danu juga sudah banyak kenalan dengan beberapa pemilik konter, tak akan sulit baginya untuk menjalin kerja sama.
Nanti Elma dan Danu yang akan menjaga toko itu.
"Aku jadi bos nya dan kamu karyawan nya," ucap Danu, setelah itu dia mengedipkan matanya genit. Seperti bos-bos yang mata keranjang.
__ADS_1
Elma terkekeh, dia pukul pelan dada sang suami.
Lalu mematikan kompor dan menyajikan sambel ikan tongkol itu di mangkuk.
"Aku akan jadi karyawan mu yang paling seksi," balas Elma tak kalah nyeleneh. Membuat Danu langsung memukul pantatnya dengan gemas, saat Elma melewatinya menuju meja makan untuk meletakan mangkuk.
Danu pun mengikuti langkah Elma.
"Aku serius El, besok pagi aku akan langsung pergi ke pasar dan cari lokasi."
"Aku juga akan hubungi Risa Mas, siapa tau dia punya gambaran." Kini Elma menatap lekat Danu.
"Kamu setuju dengan ide ku?"
"Apapun keputusan Mas Danu, akan aku dukung. Semoga saja usaha kita membuahkan hasil, bisa menyekolahkan Arkan hingga ke jenjang yang paling tinggi."
Danu tersenyum, kata-kata Elma begitu menenangkan baginya. Dia pun langsung menarik pinggang sang istri dan memeluknya erat. Juga mengecup sekilas bibir Elma sebagai tanda cinta yang tak pernah pudar.
"Sadar Mas, sudah ada Arkan," ledek Elma, dia sedikit mendorong tubuh suaminya untuk menjauh, membuat pelukan itu terlepas.
__ADS_1
Danu terkekeh, merasakan hasrat yang terpaksa harus ditepis.
"Jadi Mas sudah putuskan untuk keluar dari pekerjaan yang sekarang?" tanya Elma lagi. Dia kembali menuju meja kompor dan mulai menyiapkan sayur yang lain, bening gambas, kentang dan wortel sebagai sayurannya.
Danu lagi-lagi mengekor, terus mengikuti pergerakan sang istri.
"Iya El, besok saat masuk aku akan langsung menghadap. Lagipula bulan ini target ku sudah terpenuhi, event juga sudah lewat. Tidak ada tanggung jawab yang aku lewatkan."
"Mas kan sudah lama bekerja di sana? kira-kira dapat pesangon atau tidak?"
"Semoga saja dapat."
Elma mengangguk.
Mereka berdua terus berbincang, sampai tak menyadari jika Arkan juga datang ke dapur. Tapi Arkan tidak langsung menghampiri, dia malah tersenyum di balik dinding pembatas.
Dulu, dia selalu menghindar karena ada pertengkaran di antara ayah dan ibunya, tapi kini tidak lagi.
Dengan hati yang merasa bahagia Arkan pun kembali melangkah, lalu duduk di kursi meja makan dan sama-sama membicarakan banyak hal.
__ADS_1
Rumah yang dulu terasa begitu dingin kini jadi sangat hangat.