
Hari berlalu.
Kini waktu sudah pagi dan Elma pun sudah berkutat di dapurnya seorang diri, menyiapkan segala keperluan Danu dan Arkan, untuk sarapan dan bekal.
Diantara sibuknya kedua tangan dia, Elma terlihat seperti sedang melamun, tatapannya selalu kosong.
Elma adalah seorang wanita yang selalu mengedepankan perasaanya, lalu terus berpikir tentang banyak kemungkinan yang belum pasti terjadi.
Meski Danu telah menjelaskan semuanya secara rinci dan pelan-pelan tentang Shasa, namun tetap saja Elma merasa hatinya tak tenang.
Wajah Shaha terus berputar di ingatan dia, dalam hatinya pun terus bertanya kenapa wanita itu sampai sebegitu nya pada Danu, hingga setelah suaminya keluar dari toko itu Shaha masih saja terus ingin tahu.
Apa selama ini mas Danu juga memberi harapan padanya? batin Elma.
Namun dengan cepat Elma kemudian menggeleng, mencoba mengusir jauh-jauh pikiran negatif yang selalu bersarang di kepala.
Lalu kembali fokus pada cucian beras di tangannya.
Jam setengah 7 pagi semuanya sudah siap, tersaji dengan rapi diatas meja makan. Elma lantas menghampiri kamar Arkan dan meminta anaknya untuk segera sarapan.
Kemudian menuju kamarnya sendiri dan memanggil Danu, dilihatnya sang suami yang tengah memakai baju rapi, bukan baju kerja namun hanya kaos saja, rambutnya juga masih terlihat basah.
"Mas, sarapannya sudah siap," ucap Elma, seraya berjalan semakin dekat hingga berdiri di hadapan Danu.
__ADS_1
"Iya El."
"Aku mau mandi dulu, Mas duluan saja ke meja makan. Mungkin Arkan sudah di sana."
"Mandilah, aku akan tunggu disini."
"Tapi nanti Arkan sendirian."
"Tidak apa, sana mandi lah," jawab Danu, dia mengelus puncak kepala Elma dengan sayang, lalu mencubit pipinya pelan. Danu tahu dari raut wajah Elma, pasti istrinya ini masih saja teringat akan pembicaraan mereka kemarin.
Tentang Shaha yang sebenarnya sangat tidak penting bagi Danu.
Elma kemudian pergi ke kamar mandi dan Danu pun menunggu. Sekitar 10 menit Elma keluar, dia tersenyum saat masih melihat suaminya di dalam kamar ini.
"Sama opa?"
"Tidak, hanya sendiri. Opa sedang ada pertemuan dengan teman-teman pensiunannya."
Elma mengangguk.
Dia pun segera memakai baju rumahannya. Sementara Danu hanya terus memperhatikan sang istri dengan bibir mengulum senyum.
Elma sangat seksi di matanya.
__ADS_1
Selesai Elma memakai baju, mereka berdua keluar menuju dapur, di sana susah ada Arkan yang sedang meminum susu hangat.
Melihat ayah dan ibunya yang datang bersama, tentu saja membuat Arkan tersenyum.
"Ma," panggil Arkan saat Elma dan Danu sudah duduk di kursi masing-masing.
"Apa sayang? ada yang kamu butuhkan?"
"Tidak, bukan itu."
"Lalu apa?"
"Mama dan Papa tidak berencana punya anak lagi? teman-teman ku sudah ada yang punya adik sampai 2, tapi aku satu pun belum ada."
Mendengar pertanyaan itu Elma langsung terbatuk, tersedak oleh ludahnya sendiri. Sementara Danu hanya terseyum kecil.
Selama ini Elma lupa jika anaknya telah tumbuh semakin dewasa, Arkan pasti tahu apa yang ayah dan ibunya lakukan untuk bisa memiliki anak.
"Mama mu belum mau." Danu yang menjawab.
"Kenapa?" tanya Arkan lagi dengan lebih antusias.
Namun Elma yang sangat malu ketika membicarakan ini langsung memotong pembicaraan keduanya dengan cepat.
__ADS_1
"Sudah sudah, cepat makan!"