
Dengan perasaan bahagia yang sama-sama membuncah, Danu dan Elma kembali ke toko. Pagi itu terasa sangat cerah bagi keduanya.
Elma bahkan menyimpan tespack nya di dalam tas, menyimpannya seolah itu adalah barang yang sangat berharga.
Meski sudah tahu hamil, tapi Elma tidak manja. Tidak pula jadi malas ikut membantu Danu melayani para pelanggan yang datang.
Yang ada dia malah jadi semangat, bahkan Danu malah jadi takut sendiri.
"Ma, banyaklah duduk, jangan berdiri terus," ucap Danu, dia ke belakang sebentar untuk mengambil kantung plastik, guna mengemas ponsel yang baru saja berhasil dia jual. Sementara Elma masih di meja kasir, mengambil brosur untuk diberikan pada pelanggan yang dia pegang.
Mereka berdua memang sering curi-curi waktu seperti ini untuk bisa bicara berdua.
"Papa tenang saja, kalau aku lelah tanpa diminta pun pasti aku akan berhenti," jawab Elma, bicara sambil tersenyum sangat hangat. selalu setelahnya dia pergi lebih dulu kembali ke depan untuk melayani.
Danu yang melihat sang istri sangat bersemangat pun ikut tersenyum pula, sangat bangga memiliki istri seperti Elma.
Sejak dulu, Elma selalu ada di disampingnya. Menemani dalam keadaan apapun.
Saat makan siang, Bayu mendatangi toko ponsel ini. Dia juga sangat ingin tahu toko milik sang sahabat dan baru memiliki kesempatan untuk berkunjung hari ini.
Bayu datang tidak hanya dengan tangan kosong, dia membawa 3 bungkus kotak makanan sekaligus. Untuk makna siangnya, Danu dan Elma.
Saat mereka duduk bersama untuk makan, tiba-tiba ada pembeli yang datang.
"Biar aku saja, kalian makan dulu," ucap Bayu.
__ADS_1
Danu pun mengangguk sementara Elma hanya mengikuti apa keinginan kedua pria ini.
Sesekali Elma melirik cara kerja Bayu, tak beda jauh dengan cara suaminya saat melayani konsumen. Seolah memiliki dua wajah dan wajah yang paling ramah mereka tunjukan pada pembeli itu.
"Berhenti melihat Bayu, cepat makan makanan mu," ucap Danu, memperingatkan sang istri, bahwa ada hati suami yang harus dijaga disini.
Elma mengulum senyum, wajah Suaminya itu terlihat sangat sewot.
"Papa cemburu?"
"Bukan cemburu."
"Lalu."
Elma mencebik, mungkin saja anak mereka baru berusia beberapa Minggu. Belum berbentuk layaknya seorang bayi, masih berbentuk seperti kacang.
Tapi suaminya itu bersikap sangat berlebihan.
"Besok kita periksa ke bidan kandungan ya?"
"Terus toko nya gimana?" tanya Elma.
"Tutup dulu, sehabis dari periksa baru kita buka lagi."
"Jangan Pa, lebih baik aku pergi sendiri dan Papa buka toko nya."
__ADS_1
"Mana bisa seperti itu, kita sama-sama pergi ke bidan."
"Sayang Pa, bidan di dekat rumah kita buka nya jam 9 pagi, di jam itu toko juga sedang ramai-ramainya."
"Kalau rejeki tidak akan kemana Ma."
"Tapi rejeki kalau tidak dicari juga tidak akan mungkin datang sendiri, lebih baik aku pergi sendiri."
"Kemana sih?" potong Bayu yang baru saja ikut bergabung, pembeli tadi belum menjatuhkan pilihannya, masih meminta brosur. Bayu sedikit penasaran dengan perdebatan suami dan istri ini.
"Mau ke bidan, tapi Elma kukuh tidak mau ku antar."
"Kan aku bisa pergi sendiri Pa, lagi pula tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah. Jalan kaki pelan-pelan juga sampai, lebih baik mas buka toko." jelas Elma pula.
"Begitu saja ribut, kalau begitu biar aku saja yang antar Elma."
Bugh! Danu langsung memukul lengan Bayu cukup kuat.
Membuat Bayu langsung tergelak. Sedari dulu Bayu sangat tahu, jika Danu begitu mencintai Elma.
"Papa kok gitu sih."
"Pokoknya besok kita pergi bersama."
"Iya iya." pasrah Elma.
__ADS_1