
Pagi-pagi sekali Elma dan Danu mandi bergantian di kamar mandi umum di pasar itu. Mereka saling jaga di depan saat bergantian.
Sama-Sama langsung mengganti baju mereka di dalam kamar mandi sana, jadi keluar sudah benar-benar merasa segar.
Sementara baju kotor mereka disatukan dalam sebuah plastik berwarna hitam.
"Aku akan pergi ke apotik untuk beli tespack, toko nya tidak usah di buka dulu," ucap Danu, saat ini memang masih terlalu pagi, masih jam setengah 6, bahkan langit pun belum terlihat begitu cerah, masih ada sisa-sisa gelapnya malam.
"Baik Mas," jawab Elma patuh.
Setelah mengantar sang istri hingga sampai ke toko, Danu kemudian pergi menuju apotik yang buka 24 jam. Dia membeli 1 tespack yang bisa Elma gunakan nanti.
Selepas dari apotik itu, Danu tidak langsung pulang. Dia juga membeli nasi uduk 2 porsi, untuknya dan Elma sarapan.
Jam 6 lewat 15 menit Danu kembali ke toko, dia disambut oleh Elma yang sudah tidak sabaran ingin tahu hasilnya.
"Mas beli nasi uduk."
"Iya Ma."
"Mas Danu! benar ingin memanggil ku dengan sebutan itu?" tanya Elma dengan nada bicara sedikit kesal, jujur saja dia merasa geli.
"Tentu saja, anggap saja kita membiasakan diri anak kedua kita caranya memanggil kamu dan aku. Harusnya kamu juga memanggilku papa," jelas Danu, dia belum membuka toko ini untuk umum, pintu rolling berwarna biru itu hanya dibuka sedikit, hanya muat untuk satu orang yang lewat.
__ADS_1
Saat bicara menjawab pertanyaan Elma dia sedang menggantungkan jaketnya di belakang, Danu hanya mampu menatap dalam sang istri diantara jarak mereka saat ini.
Dan mendengar penjelasan Danu itu, membuat Elma tak mampu berkata-kata lagi, malah kini dia menyentuh perutnya sendiri yang masih datar.
Jadi benar-benar berharap jika di dalam sini sudah ada janin yang tumbuh.
"Kata tukang apotik ya lebih baik ini digunakan saat pagi, jadi ayo kita ke kamar mandi lagi," ajak Danu ketika dia sudah menghampiri sang istri, berdiri tepat di samping Elma yang sedang memegang tespack.
Dilihat oleh Danu Elma menganggukan kepalanya kecil, lengkap dengan wajahnya yang terlihat gugup.
Danu mengelus lembut lengan sang istri, ingin Elma tenang.
"Apapun hasilnya itu yang terbaik untuk kita Ma," ucap Danu, kini satu tangannya bergerak naik untuk mengelus pipi sang istri dan Elma lagi-lagi hanya mengangguk sebagai jawaban.
Mereka berdua kembali keluar dari toko, menguncinya lagi dan segera pergi lagi ke kamar mandi.
"Masuklah, aku tunggu disini."
"Mas tidak ikut masuk? aku jadi takut."
"Panggil Papa dulu."
"Iiss."
__ADS_1
"Cepat."
"Papa ikut! aku takut salah!" kesal Elma, disaat genting seperti ini sang suami sempat-sempatnya malah menggoda dia.
Danu terkekeh, lalu menarik tangan sang istri untuk masuk ke dalam salah satu kamar mandi.
Elma mengunakan testpack itu, lalu dengan segera menyerahkannya pada sang suami.
Mereka berdua kembali keluar dengan hasil yang sudah mulai nampak.
Danu melihat lebih dulu, dibawah cahaya matahari yang mulai naik secara perlahan. 2 garis merah itu terlihat jelas.
"Bagaimana Ma?"
"Panggil Papa Ma."
Elma mencubit perut Danu.
"Bagaimana hasilnya Pa, aku mau tau."
"Anak kita kembar, ini garis merahnya ada 2."
Saat itu juga Elma langsung menangis, dia tahu Danu hanya menggoda dia. Tapi tangis bahagianya tetap keluar, karena garis merah 2 itu tandanya dia tengah hamil.
__ADS_1
Melihat sang istri menangis bahagia, Danu lantas segera memeluk istrinya.
"Mama jangan menangis."