
Malam datang.
Selepas makan malam Danu, Elma dan Arkan masih duduk bersama di ruang tengah. Mereka menonton TV bersama, menyaksikan acara hiburan yang sedang berlangsung.
Arkan belum kembali ke kamarnya, karena perutnya juga masih terasa penuh, masih harus duduk dulu untuk membuatnya nyaman.
Berulang kali Elma dan Arkan juga terlibat pembicaraan ringan hingga berakhir jadi tawa berdua.
Danu yang melihat keduanya pun mengulum senyum seraya bersyukur. Meski dia tidak terlalu dekat dengan Arkan, namun Elma seolah berhasil menebusnya.
"Ar, sudah jam setengah 9 masuklah ke kamar mu," titah Elma dan sang anak menganggukkan kepalanya patuh.
"Aku ke kamar dulu Pa, Ma," pamit Arkan kemudian.
"Iya sayang," balas Elma, sementara Danu hanya mengangguk seraya menunjukkan senyumnya yang hangat.
Dan setelah pintu kamar sang anak tertutup, Danu langsung menarik pinggang Elma dan di peluknya erat.
Dia sangat bersyukur memiliki istri Elma, saking bersyukurnya dia bahkan sampai mengecup sekilas pipi istrinya ini.
"Mau ke kamar juga Mas?" tanya Elma, bertanya sekaligus meledek. Karena Danu seolah ingin minta jatah, setelah Arkan pergi langsung peluk dan cium.
__ADS_1
"Boleh,"jawab Danu singkat, namun Elma malah langsung memukul lengannya kuat.
Membuat Danu terkekeh dan malah Elma yang meledek awalnya jadi cemberut. Baru sehari Arkan pulang dan suaminya ini sudah mesyum saja.
"Jangan cemberut sayang, atau aku benar-benar akan menarik mu ke dalam kamar."
"Ya ampun Mas Danu, kenapa jadi mesyum begini. Rasanya lebih baik mas Danu jadi pendiam seperti sebelumnya." jawab Elma dengan sedikit berbisik, tidak ingin pembicaraannya dan Danu didengar oleh Arkan.
Dan jawaban itu laki-laki menyulut tawa Danu. Dia bahkan semakin memeluk Erat Elma.
"Terima kasih El."
"Terima kasih karena telah jadi mama yang terbaik untuk Arkan, anak kita."
Elma terdiam, bahkan sampai Danu kembali melanjutkan ucapannya. Danu juga masih memeluk Elma dari arah samping, lalu menyandarkan dagunya di pundak sang istri, membuat keduanya tak bisa saling tatap.
"Kamu tahu, aku selalu merasa bahwa diantara aku dan Arkan memiliki jarak. Seolah kami tidak bisa dekat..."
"Aku selalu merasa telah gagal menjadi seorang ayah, selalu merasa tidak memberikan kasih sayang yang cukup."
"Kenapa bicara begitu." Potong Elma cepat, dia tak sanggup lagi mendengar ucapan sedih sang suami. Bahkan Elma melerai pelukan Danu dan membuat mereka saling tatap.
__ADS_1
"Arkan sangat menyayangi kamu Mas, bahkan dia selalu memintaku untuk tidak memarahi kamu saat pulang kerja." Jelas Elma apa adanya, dulu saat mereka masih berselisih paham, Arkan selalu mengatakan itu padanya.
Mengatakan bahwa sang ayah pasti sudah lelah dan butuh banyak waktu istirahat saat di rumah, jangan selalu dimarah.
Saat itu Elma masih sangat membenci Danu, jadi dia tak peduli pada permintaan Arkan. Saat hatinya sesak dia langsung mengeluarkan semua amarah tak peduli bagaimana kondisi sang sang suami.
"Aku bahkan selalu merasa Arkan lebih menyayangi kamu dari pada aku," lirih Elma kemudian. Membuat Danu langsung mengecup bibirnya cukup lama.
Lalu melepasnya hingga menciptakan bunyi decapan.
"Jangan bicara begitu, itu artinya Arkan sangat menyayangi kita berdua, iya kan?" tanya Danu dan Elma mengangguk meski sedikit ragu.
Antara Danu dan Elma memang sama-sama merasa belum menjadi orang tua yang baik untuk Arkan. Bahkan sama-sama merasa jika Arkan tidak menyayangi mereka.
Malam itu keduanya terus berbicang, saling membicarakan tentang Arkan saat sedang bersama mereka masing-masing.
Danu menceritakan bagaimana Arkan sangat menyayangi Elma dan begitupun sebaliknya, Elma menceritakan bagaimana Arkan sangat menyayangi Danu.
Pembicaraan itu usai saat waktu sudah menunjukkan jam 10 malam.
Danu mengajak istrinya untuk tidur.
__ADS_1