
Jam 2 siang Arkan pulang, saat itu Lusi masih berada di rumah ini. Rencananya Lusi akan pulang di jam 3an, dia sedang menunggu Herman untuk menjemput.
Setelah makan siang, Arkan masuk ke kamarnya untuk istirahat tidur siang, sementara Elma dan Lusi berada di dapur, berbincang di sana sambil membersihkan bawang merah.
Tadi Lusi juga membawakan bawang ini untuk Elma, dia bawa 1 kilo dan masih sedikit kotor, jadi kini mereka berdua membersihkannya, membuang kulit-kulit yang kotor dan mau terlepas.
Kemudian perhatian kedua wanita ini teralih saat mendengar suara motor Danu mulai memasuki halaman rumah.
"Itu sepertinya Danu El."
"Iya Oma," sahut Elma, dia juga langsung bergegas membuka pintu tanpa mencuci tangannya lebih dulu.
Dan saat pintu terbuka, dia sudah lihat Danu berdiri di sana.
"Mas."
"El." Danu ingin memeluk Elma, namun wanita ini malah menghindar.
"Tangan ku kotor," ucap Elma dengan mengulum senyum.
__ADS_1
"Yang aku peluk kan tubuhmu bukan tanganmu," balas Danu pula, dia ingin kembali memeluk istrinya namun lagi-lagi Elma menghindar.
"Ada Oma," ucap Elma lagi, membuat Danu sangat gemas dengan sang istri.
"Oma kan ada di dalam sedangkan kita ada di luar, beliau tidak akan lihat."
"Bagaimana kalau Oma mengintip dari jendela di dapur?"
"Ya Ampun, untuk apa Oma mengintip, pikiran mu itu terlalu jauh." Danu mengacak rambut di puncak kepala istrinya, mengacak hingga rambut Elma benar-benar berantakan.
"Ya ampun Mas Danu!!"
"Kapok," Danu terkekeh, dia masuk lebih dulu ke dalam rumah dan Elma mengikuti. Usia Danu dan Elma sama, bahkan saat muda dulu mereka juga satu sekolahan. membuat hubungan keduanya terasa seperti teman, meski kini sudah menikah selama 15 tahun lamanya.
Elma juga langsung menyiapkan makan siang untuk sang suami.
Setelah bicara panjang lebar dengan ibunya, saat ini Elma merasa hatinya sudah lebih tenang.
Tentang bagaimana rumah tangganya dengan Danu berlangsung, mau bahagia ataupun sedih itu kita sendiri yang tentukan. Elma pun terus menekan rasa curiganya yang berlebih, coba percaya dan ikhlas saat suaminya keluar untuk bekerja demi keluarga mereka.
__ADS_1
Sore itu saat Herman datang menjemput Lusi, Herman dan Danu pun kembali berbincang.
Saling tukar pendapat tentang usaha Danu dan Modal yang dibutuhkan.
Sampai akhirnya mereka berdua sepakat untuk tetap mengambil ruko di pasar sesuai keinginan Danu meski dengan harga yang sedikit tinggi.
Yakin saja dan terus berusaha keras agar semuanya berjalan dengan baik, sesuai dengan yang di harapkan. Itu adalah ucapan Herman untuk Danu.
Jam 5 sore Herman dan Lusi pulang, ternyata Arkan ingin ikut kakek dan neneknya untuk menginap di sana.
Kali ini Elma tak lagi bersedih saat mengizinkan anaknya pergi, mungkin karena saat itu dia melihat senyum Arkan yang riang sekali.
Elma melambai melihat kepergian anaknya, dia juga tersenyum lebar.
"Tumben tidak sedih-sedih saat Arkan menginap di rumah Opa? biasanya sedih-sedih dulu, tidak rela," ledek Danu, dia bahkan menyenggol lengan istrinya ini.
"Oh aku tau ..." ucap Danu lagi, hingga membuat Elma langsung menatapnya lekat.
"Apa?" tanya Elma, sebelum Danu melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kamu senang karena sekarang jadi bisa leluasa untuk buat adiknya Arkan, iya kan?"
"Isshh!! Mas Danu!!" geram Elma, dia memukul berulang lengan suaminya dan Danu bukanya merasa sakit, malah terus tertawa.